Pernahkah Anda mendapatkan kebaikan dari seseorang dan Anda terus mengenangnya sampai sekarang? Saya yakin kita semua pernah menerima kebaikan dari seseorang yang terus kita kenang dalam hidup kita. Kebaikan kecil waktu itu menjadi abadi dalam kenangan.
Berikut ini ada sebuah cerita yang sangat mengesankan tentang kebaikan yang terus hidup dan mengalir dalam kehidupan kita.
Enjoy…!
Saat berusia sekitar 12 tahun, saya menyimpan rasa malu yang tersembunyi. Kami begitu miskin sehingga saya sering pergi ke sekolah tanpa bekal. Saat istirahat, teman-teman sekelas saya membuka bekal makan siang mereka, apel, kue, dan roti lapis.
Saya duduk berpura-pura tidak lapar. Saya membenamkan wajah di buku, menyembunyikan suara perut saya yang kosong. Di dalam hati, rasanya lebih sakit daripada yang bisa saya jelaskan.
Lalu, suatu hari, seorang gadis memperhatikan. Diam-diam, tanpa ribut-ribut, ia menawari saya setengah bekal makan siangnya. Saya malu, tetapi saya menerimanya. Keesokan harinya, ia melakukannya lagi. Dan lagi. Terkadang roti gulung, terkadang apel, terkadang sepotong kue buatan ibunya. Bagi saya, itu adalah keajaiban. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa diperhatikan.
Lalu suatu hari, ia pergi. Keluarganya pindah, dan ia tak pernah kembali. Setiap hari saat istirahat, saya melirik ke arah pintu, berharap ia akan masuk dan duduk di samping saya dengan senyum dan roti lapisnya. Tetapi ia tak pernah kembali.
Tetap saja, aku membawa kebaikannya bersamaku. Kebaikannya menjadi bagian dari diriku.
Tahun-tahun berlalu. Aku tumbuh dewasa. Aku sering memikirkannya, tetapi hidup terus berjalan.
Lalu, baru kemarin, sesuatu terjadi yang membuatku terpaku. Putri kecilku pulang sekolah dan berkata:
“Ayah, bisakah Ayah menyiapkan dua camilan untukku besok?”
“Dua?” tanyaku. “Bahkan satu pun tak pernah bisa kamu habiskan.”
Dia menatapku dengan keseriusan yang hanya dimiliki anak kecil:
“Ini untuk seorang teman laki-laki di kelasku. Dia tidak makan hari ini. Aku memberinya setengah dari jatahku.”
Aku hanya berdiri di sana, bulu kudukku berdiri, waktu terasa berhenti. Dalam tindakan kecilnya, aku melihat gadis dari masa kecilku. Yang memberiku makan ketika tak seorang pun memperhatikan. Kebaikannya belum hilang, ia telah mengalir melalui diriku, dan sekarang, melalui putriku.
Aku melangkah ke balkon dan menatap langit, mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku merasakan lapar, malu, syukur, dan sukacitaku.
Gadis itu mungkin takkan pernah mengingatku. Ia mungkin bahkan tak menyadari betapa besar perbedaan yang telah ia buat. Tapi aku takkan pernah melupakannya. Karena ia mengajariku bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat mengubah hidup.
Dan kini, aku tahu: selama putriku berbagi roti dengan anak lain, kebaikan akan tetap abadi.
Balikpapan, 26 Desember 2025
Satria Dharma