Acara Dies Natalis Universitas Mulia kemarin dilanjutkan dengan acara Family Gathering Yayasan Airlangga yang menaungi Universitas Mulia dan beberapa lembaga pendidikan menengah lainnya, baik di Samarinda dan Balikpapan. Saat ini kami bahkan memiliki kampus di Kolaka setelah mengakuisisi sebuah Pendidikan tinggi di sana. Biasanya acara ultah YA kami adakan pada bulan Januari pada hari lahirnya, yaitu pada tanggal 1 Januari. Semua karyawan dan anak-anaknya kami undang. Dari Samarinda mereka datang dengan satu bis besar.
Sebenarnya saya tidak pernah ingat berapa usia Yayasan kami di Balikpapan ini. Yang jelas ia lebih dulu daripada Yayasan Widya Darma Shanti yang saya dirikan bersama teman-teman di Bali. Kemarin saya mengira-ngira usia Yayasan Airlangga itu sudah 25 tahun. Ternyata saya salah. Usianya nanti pada 1 Januari 2026 sudah 33 tahun. Itu juga baru saya ketahui setelah melihat tayangan di videotron di ballroom Cheng Ho. Dasar sudah tuwir ingatannya semakin berkurang.
Yang saya ingat selama ini memang hanya tahun ketika saya masuk bekerja di PT Badak NGL Co Bontang pada tahun 1990 (dan keluar pada tahun 1996). Setahun setelah berada di Bontang adik saya Agung Sakti Pribadi mengajak saya untuk mendirikan lembaga pendidikan di Balikpapan sebagaimana saya sebelumnya mendirikan lembaga pendidikan di Surabaya (LBB Airlangga Student Group). Adik saya ini memang ulet dan selalu ada saja ide dan keinginannya. Dan jika ia menginginkan sesuatu maka ia akan berusaha keras dan bahkan ngotot untuk mencapainya.
Waktu ia masih jadi mahasiswa di Unair dia juga sudah berupaya mendirikan LBB-nya sendiri di Malang dan Makassar. Dia benar-benar berjibaku dan menghabiskan waktunya untuk membuka lembaga bimjar tersebut. Hampir saja ia drop out karenanya. Tapi bimjarnya kurang sukses lha wong dia mahasiswa kere tanpa bondo. Bondonya cuma semangat, dan abab yang lumayan convincing. Untuk kelas bimbingan belajarnya dia merayu seorang kepala sekolah yang ruang kelasnya kosong di waktu sore. Jadi dia pakai ruang kelas sekolah yang tentu saja sudah lengkap fasilitasnya. Dia hanya bondo abab. Bahkan dia bisa merekrut dosen-dosen Brawijaya untuk ikut dia mendirikan bimjar tersebut. Jadi ini mahasiswa yang merekrut dosen. Tapi bimjarnya ini kurang sukses karena ya memang gak punya modal.
Gagal di Malang ia loncat ke Makassar dan kembali berupaya untuk buka LBB di sana. Di Makassar hidupnya lebih sengsara dan juga gagal. Tapi ia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dan juga membuatnya semakin percaya diri menghadapi dunia. Ia melihat pengalamannya jatuh berkali-kali sebagai modal besar untuk memulai lagi di mana pun ia berada nantinya. Kegagalan demi kegagalan justru semakin membuatnya tahan banting dan percaya diri.
Balik ke ASG dia punya ide untuk bikin semacam lembaga bantuan hukum. Padahal dia masih mahasiswa dan bahkan terancam DO. Dia melihat peluang karena itulah dunianya di kampus Unair. Dia akhirnya merayu beberapa dosennya di Unair untuk terlibat dan berhasil mengajak dosen-dosennya yang sudah Doktor untuk terlibat dan paling tidak bersedia namanya dicantumkan di brosur lembaganya itu. Bondonya ya abab dan kemampuan untuk meyakinkan orang. Tapi LBH-nya ini tidak sukses meski sudah berhasil menggaet beberapa dosen yang sudah doktor di kampusnya sendiri.
Karena sadar bahwa dia tidak mungkin sukses kalau statusnya mahasiswa terus akhirnya dia berupaya untuk bisa lulus. Akhirnya dia lulus dari Fak. Hukum, dapat gelar SH dan sekaligus dapat istri teman sekelasnya. Belum punya kerjaan, apalagi penghasilan tetap, tapi sudah berani rabi dan mengajak istrinya untuk merantau ke Kalimantan. Pokoke wani tok…!
Di Balikpapan mereka ikut tinggal di rumah bulik kami yang dosen UNMUL dan suaminya yang notaris beken di sana. Dengan modal gelar SH lulusan Unair dia dengan mudah diterima di Harian Manuntung (yang akhirnya menjadi Kaltim Pos) anak usaha Jawa Pos.
Meski sudah jadi wartawan tapi angan-angannya untuk punya lembaga pendidikan sendiri tidak padam. Ia lalu menghubungi saya di Bontang dan mengajak untuk menjadi partner membuka lembaga kursus dan bimbingan belajar. Saya sendiri mulai bosan di Bontang dengan pekerjaan yang so boring dan setuju untuk ikut mendirikan lembaga pendidikan di Balikpapan. Selama dua tahun saya wira-wiri Bontang – Balikpapan untuk membantunya mendirikan kursus dan sekolah di Balikpapan sejak 1993. Setiap Jum’at sore saya berangkat ke Balikpapan dengan perjalanan darat selama 5 jam dari Bontang dan balik ke Bontang pada Minggu sore. Sedikit demi sedikit lembaga pendidikan yang kami dirikan dengan akte Yayasan Airlangga Balikpapan ini semakin berkembang dan sampai sekarang. Kisah adik saya ini sudah saya tulis di sini : https://satriadharma.com/2021/11/16/jangan-menyerah/
Pada acara Family Gathering kemarin saya sampaikan penghargaan saya atas inisiatif, kerja keras, kesabaran, keteguhan, dan bahkan kengototan adik saya ini selama menjalankan Yayasan kami tersebut. Boleh dikata semua capaian kami selama ini adalah berkat kerja keras dan kegigihannya. Tanpa inisiatif, ide cemerlang, kerja keras, kegigihannya maka kami tidak akan mungkin sampai di sini sekarang ini. Untungnya di belakang adik saya tersebut ada adik-adik saya yang lain, Mulia Hayati dan Elly Nuramalia yang menjadi remnya. Sing nggegem duite… Lha Agung ini ngegas terus dan memang sesekali perlu diingatkan untuk lihat lampu lalin atau jeglongan. 😁 Pokoknya mereka adalah tim yang kompak. Apalagi sekarang kami ketambahan Om Panca, suaminya Elly, yang sebelumnya adalah salah satu direktur di Angkasa Pura. Setelah pensiun kami tarik untuk menjadi Konsultan Keuangan kami. Pokoknya mereka semakin jos gandos. Saya sendiri boleh dikata hanya bondo dungo saja. Lagipula tugas saya di Yayasan kan hanya pengawas, Jadi pekerjaan saya ya hanya ngawas-ngawasi saja. Itu pun dari jauh lha wong saya tinggal di Surabaya. 😁
Pada acara Family Gathering ini kami mengadakan acara Jalan Santai, Pasar Pagi Mulia, Senam Pagi, berbagai lomba baik bagi anak-anak mau pun bagi karyawan dengan berbagai macam hadiah. Bahkan untuk hadiah door prize kami atur agar hampir semua yang datang bisa dapat door prize. Hadiah besarnya adalah sepeda gunung, kulkas, mesin cuci, HP, oven, dll. Lha saya dan istri saja masing-masing dapat door prize. Istri saya dapat mukena yang langsung dipakainya Subuh tadi. 😁
Melihat acara seharian kemarin saya merasa sangat bersyukur bahwa Yayasan yang kami bangun 33 tahun yang lalu kini terus berkembang tanpa pernah mengalami kesulitan yang berarti. Saya bahkan heran Yayasan kami ini kok gak punya utang di bank seperti dua Yayasan saya yang lain yang utangnya sak hohah. Kayaknya mereka ini perlu saya provokasi untuk pinjam di bank untuk rencana pembangunan kampus dan fasilitas lainnya. Lha wong Yayasan sebesar ini kok takut utang. Apa kata dunia….?! 😁
Balikpapan, 21 Desember 2025
Satria Dharma