“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.” ― John Fitzgerald Kennedy
Ketika saya membaca pernyataan Kennedy ini pertama kali dulu saya langsung terkesan. Saya merasa seperti tersengat dan jiwa nasionalisme saya langsung tersentak bangkit. Ya, saya memang sudah terkesan sejak pertama kali membaca pernyataan ini dan setiap kali saya membacanya saya masih juga bersemangat.
Jadi sejak pertama kali saya membaca anjuran Kennedy ini saya langsung memutuskan untuk melakukannya. Saya TIDAK AKAN MENUNTUT NEGARA untuk melakukan ini dan itu kepada saya dan sebaliknya saya justru akan MENUNTUT DIRI SAYA untuk terus berbakti pada negara dengan apa yang saya bisa.
Ketika saya jadi guru PNS dan mengajar di SMAN di Surabaya tiba-tiba semua guru diwajibkan untuk masuk Golkar. Itu pertengahan tahun 1980-an. Saya menolak karena menurut saya guru selayaknya tidak ditarik-tarik ke politik. Tapi penolakan saya ini akhirnya membuat saya diskors dan dikeluarkan dari sekolah tempat saya mengajar. Sila baca kisahnya di sini.
Apakah saya lalu marah pada negara karena hal ini? Tidak. Saya menganggap ini sebagai konsekuensi dari sikap saya yang tidak patuh pada kekuasaan yang ada pada waktu itu. Saya sadar kok bahwa sikap saya itu ada konsekuensinya dan saya menganggap bahwa diskors adalah harga yang harus saya bayar untuk pembangkangan tersebut. Saya juga tidak merasa heroik dengan sikap saya tersebut. Kalau tidak mau ikut sistem ya keluarlah… Daripada saya ngomel-ngomel, menghujat, memberontak, tapi tetap berada di dalam kan malah stress sendiri. 😁
Apakah dengan tidak lagi menjadi PNS saya lalu kehilangan semangat untuk berbakti pada negara? Tidak dong…! Saya tetap mengajar di tempat lain. Saya juga membantu negara dengan membangun sekolah swasta untuk anak-anak yang tidak tertampung di sekolah negeri. Saat ini saya punya beberapa kampus dan sekolah menengah yang setiap tahunnya meluluskan ribuan lebih siswa dan sarjana. Ini saya anggap sebagai implementasi dari apa yang bisa saya lakukan bagi negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Apakah dengan demikian maka saya tidak bersikap kritis terhadap situasi yang ada dalam negara? Saya juga bersikap kritis. Tapi saya tidak mengeluh, menghujat, memaki-maki, menghina, atau melontarkan kebencian pada siapa pun atau lembaga yang saya kritik. Bagi saya kalau kritik kita bumbui dengan caci-maki, ungkapan kemarahan dan kebencian, sebenarnya hanyalah UNEG-UNEG belaka dan sungguh tidak patut kita sebut sebagai KRITIK. Kritik menurut saya adalah UPAYA SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MENGUBAH KEADAAN yang disampaikan pada pemilik kebijakan langsung atau pun tidak langsung dan dilakukan secara konsisten. Kalau ketidaksetujuan kita itu hanya kita sampaikan di forum rasan-rasan macam WAG dan medsos maka itu lebih ke UNEG-UNEG dan GRUNDELAN belaka. Kita tidak sungguh-sungguh mau mengubah keadaan. Kita hanya mau melampiaskan rasa kecewa dan kejengkelan kita.
Apakah pemerintah perlu dikritik? Tentu saja. Kebijakan pemerintah itu kan tidak selalu benar dan selalu ada celah untuk diperbaiki. Jadi saya selalu melakukan kritik sejak 40 tahun yang lalu. Saya melakukan kritik dengan berbagai cara.
Bagaimana saya berupaya untuk mengritik dan mengubah keadaan? Sila dibaca di sini.
Saya merasa berterima kasih pada Kennedy yang telah menginspirasi saya untuk tidak menuntut pada negara tapi justru terus berbakti pada negara dengan berbagai cara yang saya bisa. 🙏
Jakarta, 9 September 2025
Satria Dharma