Saya, istri, dan Tara anak saya berangkat ke Balikpapan kemarin sore naik Pelita Air. Bawaan kami banyak banget, baik yang masuk bagasi mau pun yang kami bawa ke kabin. Ada 9 koli semuanya dengan 6 koper. Tapi untung semua bisa masuk meski ada sedikit drama dengan petugas bandara yang mengurusi bagasi. Istri saya memang selalu bawa barang banyak kalau ke Balikpapan karena sekarang dia pegang proyek pembangunan rumah dan renovasi fasilitas di kampus. Jadi ada saja yang ia beli di Surabaya dan bawa ke Balikpapan untuk keperluan proyeknya itu.
Selain itu kami juga sebenarnya mau traveling ke China. Semestinya kami sudah berangkat tanggal 7 September kemarin. Tapi karena adanya demo yang rusuh di Jakarta membuat banyak perkantoran yang menutup kantornya, termasuk kantor yang mengurus visa ke China. Akibatnya beberapa orang dari rombongan kami tidak keluar visanya karena harus menunggu suasana normal lagi. Ini menyebabkan travel kami memutuskan untuk menunda keberangkatan kami nanti pada tanggal 21 September. Kemarin kami dikabari bahwa visa yang tertunda sudah keluar, termasuk visa istri saya. Alhamdulillah…! Kami akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dari Balikpapan saja. Proyek istri saya masih perlu monitoring langsung sebelum kami berangkat ke China nanti. Kalau saya mah sekarang statusnya ngenger sama istri. Jadi ke mana istri pergi ya saya ikut. 😁
Di pesawat Tara langsung tidur begitu take off. Saya dan istri ngobrol. Dua puluh menit sebelum mendarat lampu pesawat dimatikan dan penumpang diminta untuk bersiap dan memasang seat-belt. Tiba-tiba Tara bangun dan mengeluh perutnya sakit. Setiap mens ia memang sering kena dilep. Ia lalu minta obat penahan sakit. Saya cek tas saya ternyata saya tidak membawa obat-obatan. Saya lalu memencet bel untuk memanggil pramugari. Siapa tahu mereka punya obat penahan nyeri di medical kit mereka. Tapi ternyata belnya tidak berfungsi. Wah…! Piye iki… 😳
Tidak jauh di depan kami, sekitar 5 baris di depan kami, ada anak usia sekitar 3 tahunan yang sangat lasak dan tidak bisa tenang duduknya. Sejak di lounge kami perhatikan ia sudah berlarian ke sana kemari dan merepotkan kakek dan neneknya yang membawanya. Semua hal mau dipencetnya termasuk bel untuk memanggil pramugari. Bel langsung menyala dan berbunyi. Tentu saja pramugarinya datang ke kursi anak tersebut. Tapi begitu tahu bahwa itu hanya perbuatan iseng dari si anak maka pramugarinya balik lagi. Di saat itulah saya memanggilnya dan menyampaikan bahwa Tara perlu obat penahan nyeri apa saja yang dimiliki pesawat yang kami tumpangi. Tapi ternyata pesawat tidak memiliki obat-obatan penahan nyeri dan hanya punya P3K yang isinya termometer, tensimeter, stetoskop, serta bahan habis pakai seperti kasa, perban, plester, dan sarung tangan. Pramugarinya minta maaf karena tidak bisa membantu. 😔
Ketika kami sudah menyerah karena ternyata pesawat tidak punya obat-obatan yang kami butuhkan tiba-tiba penumpang wanita di depan kami menoleh ke kami dan bertanya obat apa yang kami butuhkan. Tampaknya ia mendengarkan percakapan kami dengan pramugari tersebut dan ingin membantu. Ketika kami sampaikan bahwa Tara perlu obat penahan nyeri ia menawarkan obat Sanmol yang ia bawa. Tentu saja Sanmol yang mengandung paracetamol 500 mg adalah obat yang pas untuk Tara. Ketika Tara meminum satu tablet dan ingin mengembalikan sisanya ditolak oleh penumpang wanita tadi dan bilang agar disimpan saja untuk keperluan kapan-kapan. Alhamdulillah lagi….! 😁
Ketika pesawat mendarat kami putuskan untuk keluar belakangan saja agar tidak berebut sementara obat yang diminum Tara bereaksi. Kami turun belakangan dan tak lama bagasi kami datang. Ketika keluar dari bandara menunggu jemputan Tara tampak sudah sumringah. “How do you fell, Tara?” tanya saya. “Much better.” Katanya. Sukurlah kalau begitu. Seandainya tadi tidak ada orang yang memberinya Sanmol mungkin ia masih akan kesakitan yang berkepanjangan. Untung ada orang baik yang menawarinya tadi. Kebaikan memang bisa datang dari mana saja. 🙏😁
Balikpapan, 11 September 2025
Satria Dharma