Tiongkok berhasil ‘menaklukkan’ Eropa tanpa perang dan tanpa menembakkan satu butir pun peluru. Bagaimana caranya? Melalui ekspor produknya tentu saja. 😎
Ekspor dari China ke Eropa telah mencapai $380 Miliar sejak 2011 melalui BRI (Belt and Road Initiative). BRI merupakan salah satu kebijakan ambisius yang dikeluarkan Tiongkok pada masa pemerintahan Xi Jinping. Ketika Presiden Xi Jinping dalam kunjungan resminya ke Kazakhstan pada bulan September 2013 meluncurkan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), ia sebenarnya tidak memikirkan Eropa. Eropa hanyalah komponen periferal dari BRI, yang sebagian besar berfungsi untuk menghidupkan kembali aura legendaris Jalur Sutra yang melintasi Eurasia secara damai.
Ketika Xi Jinping sedang melakukan perjalanannya ke negara-negara Eropa, lembaga keuangan Tiongkok mulai membanjiri Eropa dengan investasi. Italia, negara kaya di Eropa yang terkena dampak krisis keuangan secara signifikan, dipilih sebagai titik masuk dari krisis ini. Pada tahun 2014 Italia menjadi penerima aliran investasi mendadak dari Bank Rakyat Tiongkok yang mengakuisisi 2 persen dari beberapa perusahaan yang secara strategis penting bagi negara tersebut, yaitu ENI, ENEL, Fiat-Chrysler, Telecom Italia, Generali, dan Mediobanca. Jadi Tiongkok menusuk Eropa pertama-tama melalui investasi ke Italia. 😎
Pada bulan Maret 2015, Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), yang merupakan bank multilateral utama BRI yang dipandu oleh Beijing. Tiongkok mulai diterima menjadi mitra penting bagi negara-negara Eropa. Belasan negara Uni Eropa bergabung dengan BRI. Hongaria adalah negara penerima investasi BRI terbesar di dunia pada tahun 2022. China telah mendanai pembangunan jalan raya baru dan membangun jalur kereta api dari Budapest ke ibu kota Serbia, Beograd. Emang ada negara lain yang mau investasi kayak China seperti ini? 😁
China telah menginvestasikan puluhan miliar dolar di Eropa di bawah prakarsa BRI pada peringatan ulang tahunnya yang kesepuluh. Meskipun dana China telah digunakan untuk membangun infrastruktur baru, ada kekhawatiran mengenai pembayaran utang di beberapa negara dan adanya kecenderungan untuk menghalangi Beijing mengakuisisi aset-aset strategis penting. Negara yang berutang besar dan tidak bisa bayar tampaknya tidak ingin asetnya disita oleh Tiongkok. Butuh debt collector nggak, bro? 😁
Pelabuhan Piraeus di Yunani merupakan salah satu akuisisi terbesar China di Eropa. Sejak tahun 2009, jumlah kontainer yang ditangani pelabuhan itu meningkat lima kali lipat.
Kereta Api Ekspres Tiongkok-Eropa (CRE)
China-Europe Railway Express dimulai pada tahun 2011. Tiongkok mengirimkan kereta barang pertamanya ke Duisburg, Jerman, melalui Kazakhstan, Rusia, Belarusia, dan Polandia pada tanggal 19 Maret 2011.
Menurut China State Railway Group, sejak didirikan pada tahun 2011, layanan ini telah mengangkut lebih dari 8,7 juta kontainer berisi barang senilai lebih dari $380 miliar. Cuan everywhere… 😁
Kereta barang Tiongkok-Eropa ini mencapai kesuksesan luar biasa hanya dalam 13 tahun. Nilai tahunan barang yang diangkut melalui layanan ini meningkat dari $8 miliar pada tahun 2016 menjadi $56,7 miliar pada tahun lalu, hal ini menunjukkan semakin pentingnya layanan ini dalam perdagangan internasional. Nilai ekspor Tiongkok ke Eropa telah meningkat hampir sembilan kali lipat dalam dua puluh tahun dari tahun 2002 hingga 2022. Pada tahun 2022, total nilai impor barang dari Tiongkok di UE adalah 626 miliar Euro, meningkat lebih dari 150 miliar Euro. dibandingkan dengan tahun 2021. Tiongkok telah menjadi eksportir barang eksternal terbesar ke UE sejak tahun 2005, ketika Tiongkok melampaui Amerika Serikat. Permisi ya Amrik.. Ane duluan. 😁
BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?
Tampaknya Indonesia mulai ketakutan dengan begitu derasnya barang impor yang masuk dari Tiongkok. Kementerian Perdagangan berwacana mengenakan nilai pajak yang tinggi, khususnya untuk barang-barang yang diimpor dari China. Hal ini dilakukan untuk memerangi banjirnya impor dari Negeri Tirai Bambu. Ngeri juga…! 🥺
Saat ini sudah ada penyelidikan Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) terkait banjirnya impor dari China. Jika penyelidikan itu selesai maka akan ditetapkan pajak atau bea masuk melalui Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP). Tapi ekonom senior Faisal Basri tak setuju dengan rencana pemerintah mengenakan bea masuk 200% untuk barang-barang China. Dia menilai kebijakan itu diskriminatif. “Tidak boleh diskriminatif terhadap produk China yang masuk barang impor,” kata Faisal dikutip Jumat, (5/7/2024).
Faisal menilai bea masuk tinggi baru bisa dilakukan apabila China terbukti melakukan dumping. Apabila China terbukti melakukan dumping, maka pemerintah bisa melakukan countervailing duty alias kebijakan bea masuk tinggi untuk mengimbangi subsidi yang diberikan kepada eksportir di negara pengekspor. Jangan asal bikin aturan yang gak berdasar dong…! 🙄
Sebenarnya Indonesia sudah lama ‘ditaklukkan’ oleh Jepang dengan industri otomotifnya yang menguasai seluruh lini. Semua motor dan mobil yang bersliweran di jalan raya selama ini adalah merk Jepang. Belakangan saja mulai masuk kendaraan dari negara lain seperti China dan Korea. Merk Eropa sudah lama kalah bersaing. Jadi selama ini kita ‘DIJAJAH’ OLEH JEPANG tanpa ampun.
Pada 2017, Indonesia menjual 1.079.534 unit mobil sedangkan total seluruh merek Jepang membukukan penjualan 1.060.236 unit. Lebih tepatnya, merek Jepang menguasai 98,21 persen pasar mobil di Indonesia. Kompas mencatat, kontributor terbesar merek Jepang tentu saja sudah kita kenal semua, yaitu Toyota (34 persen), Honda (17 persen), Daihatsu (17 persen), Suzuki (10 persen), dan Mitsubishi (7 persen).
Apakah bangsa Indonesia yang yang jumlah rakyatnya hampir 300 juta itu tidak ingin punya mobil nasional yang artinya memakai merek sendiri, punya pabrik sendiri, insinyur, mekanik, manajer sendiri, modal sendiri, dlsb? Entahlah… Sejak zaman Presiden Soeharto pada tahun 1975 sebenarnya sudah ada inisiatif punya merk sendiri tapi bapaknya dari Jepang. Namanya Toyota Kijang. Lalu muncul merk Timor milik Tommy Soeharto namun amblas. Yang paling fenomenal sebenarnya adalah ESEMKA. Dia fenomenal justru karena banyaknya hujatan, cibiran, olok-olok, dan penentangan dari rakyat Indonesia sendiri. Akhirnya Esemka mati sebelum berkembang karena ‘dibunuh’ oleh rakyat Indonesia sendiri.
Surabaya, 10 Juli 2024
Satria Dharma