Anak muda China kini punya idola baru. Setelah Jack Ma, yang sekarang sudah jarang muncul. Remaja China punya idola-idola baru yang jauh lebih fresh. Namanya Eileen Gu dan Guo Wenjing. Berbeda dengan Jack Ma yang berwajah biasa-biasa saja dan berlatar belakang anak miskin, Eileen Gu dan Guo Wenjing berwajah sangat cantik dan memiliki latar belakang keluarga yang hebat, dan sekaligus kaya raya.
Eileen Gu, dengan nama Tionghoanya Gu Ai Ling adalah pemain ski gaya bebas dan seorang model China-Amerika. Dia baru-baru ini memenangkan emas di Women’s Big Air di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Eileen Gu adalah blasteran, ayahnya orang Amerika dan ibunya orang Cina. Ia sudah mulai bermain ski ketika baru berusia tiga tahun dan menjadi juara grup junior Asosiasi Snowboard dan Freeski AS pada usia sembilan tahun. Ia lalu memasuki peringkat senior ketika dia baru berusia 13 tahun. Pemain freeski ajaib Eileen Gu membuat sejarah pada tahun 2021 dengan memenangkan tiga medali pada debutnya di X Games. Meski lahir di AS tetapi ia memutuskan untuk mewakili Tiongkok.
Eileen Gu yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin ini lebih memilih China ketimbang negara kelahirannya AS dengan alasan “Ibu saya lahir di Beijing dan beremigrasi ke AS. Jadi, saya memiliki akar yang sangat kuat di Tiongkok. Saya berada di Tiongkok ketika diumumkan bahwa Olimpiade akan diadakan di Beijing dan dapat merasakan energi di atmosfer. Itu membuat saya mulai berpikir ketika saya berusia 10 atau 11 tahun. Saya mulai berpikir untuk berkompetisi demi Tiongkok,” kata Gu saat wawancara dengan CCTV. Gu juga menulis di platform media sosialnya bahwa “kesempatan untuk membantu menginspirasi jutaan anak muda di tempat ibu saya dilahirkan, selama Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk membantu mempromosikan olahraga yang saya sukai. Melalui ski, saya berharap dapat mempersatukan masyarakat, meningkatkan pemahaman bersama, menciptakan komunikasi, dan menjalin persahabatan antar bangsa.” Itu sebabnya rakyat China menjadikannya idola.
Meski baru berusia 18 tahun, Gu memenangkan dua medali emas dan satu perak dalam tiga kompetisi pada pertandingan tahun ini, menjadikannya pemain ski gaya bebas pertama yang memenangkan tiga medali di Olimpiade yang sama. Ia sudah populer bahkan sebelum ia meraih medali. Selain atlit ia juga seorang model. Atlet dan model yang bercita-cita tinggi ini telah menandatangani lebih dari 20 kesepakatan bisnis dan membawa pulang sekitar 200 juta yuan ($31 juta) tahun lalu. Dia saat ini menjadi duta untuk Tiffany & Co. Selain itu ia adalah model untuk Victoria’s Secret, menjadi model untuk majalah seperti ELLE dan Vogue China, dan telah berpromosi dengan merek seperti Fendi, Louis Vuitton dan Gucci.
Gu baru saja berhasil masuk ke dalam jajaran olahraga nasional bersama para atlet hebat seperti Yao Ming, pelari gawang Liu Xiang, dan pemenang Prancis dan Australia Terbuka Li Na. Setiap tingkah polahnya hingga pilihan camilannya di lereng gunung, diikuti dengan cermat oleh puluhan juta penggemarnya
Idola baru lainnya, Guo Wenjing, adalah seorang wanita muda berbakat yang lahir di Hangzhou tapi kini tinggal di Silicon Valley. Ia menyedot perhatian publik di Tiongkok setelah startupnya, Pika, memperoleh pendanaan sebesar US$135 juta, dan nilai perusahaan tersebut melonjak sebesar US$470 juta atau setara Rp7,6 triliun.
Guo Wenjing juga cantik dan disebut sebagai ‘Demi Guo’. Ia dipandang sebagai “panutan” di kalangan orang tua di Tiongkok karena resumenya yang “sempurna”. Ibu Guo adalah lulusan MIT, dan ayahnya, Guo Huaqiang, adalah mantan ketua perusahaan layanan TI Sunyard Technology yang berbasis di Hangzhou. Jadi Guo memang berasal dari keluarga yang pintar dan kaya.
Guo memenangkan medali perak di Olimpiade Internasional Informatika (IOI) pada tahun 2015 dan kemudian diterima di Universitas Harvard, di mana ia memperoleh gelar sarjana matematika dan kemudian master dalam ilmu komputer. Selama berada di universitas bergengsi Ivy League tersebut, ia juga magang di perusahaan teknologi ternama seperti Microsoft dan Google.
Guo kemudian melanjutkan pendidikannya dengan meraih gelar PhD di bidang ilmu komputer di Universitas Stanford. Ide untuk Pika berawal dari pengalamannya di “AI Film Festival” tahun 2022 yang diselenggarakan di New York City, di mana Guo dan beberapa teman sekelas PhD ilmu komputer Stanford berpartisipasi tetapi gagal untuk menang. Hal ini mendorong mereka untuk mengembangkan alat pembuat video AI yang lebih unggul.
Pada bulan April tahun lalu, Guo memutuskan untuk keluar dari Stanford dan, bersama dengan Chenlin Meng, sesama mahasiswa PhD Stanford, mendirikan Pika, dengan fokus pada pengembangan generator video AI yang mudah digunakan. Sejak diluncurkan, Pika telah berkembang pesat, dan telah mengumpulkan dana pengembangan sebesar US$135 juta dengan penilaian pasar sebesar US$470 juta.

Keberhasilan Pika 1.0 tidak hanya membuat Guo mendapat tawaran bisnis namun juga menyebabkan harga saham Sunyard Technology, milik ayahnya, naik lebih dari 20 persen dalam satu minggu, sehingga mendapat julukan “saham konsep anak”. Harga saham perusahaan ayahnya diuntungkan oleh keberhasilan bisnis sang anak.
Kesuksesan dua gadis cantik Eileen Gu dan Guo Wenjing ini menjadi fenomenal karena mereka bukan hanya memiliki penampilan yang cantik, berbakat, tapi juga kaya raya karena prestasi mereka. Ini benar-benar ‘segitiga sempurna’ yang tampaknya mustahil yaitu kecantikan, kekayaan, dan bakat. Apa yang dimilikinya itu jelas membuat orang lain jadi iri sampai ada yang menyindir: “Keterampilan reinkarnasi saya kurang. Tolong beri saya naskah kehidupan ini di kehidupan saya selanjutnya. Kalau bisa jadikan saya seperti Guo Wenjing di kehidupan selanjutnya.”
Meski demikian ada saja yang tidak terlalu respek pada keberhasilan Guo Wenjin dan membanding-bandingkannya. “Dia mungkin Eileen Gu versi teknologi, tapi dia agak di luar jangkauan orang biasa,” komentar seseorang.
“Sebagai putri bos Sunyard, titik awalnya berbeda. Jika dia memulai dari awal tanpa latar belakang apa pun, maka dia akan menjadi seorang jenius sejati. Kami mengakui keunggulannya, tapi kami tidak boleh memujinya secara berlebihan,” tulis orang lain.
Penilaian pada Gu Eileen bahkan lebih sadis. Karena sikapnya itu ia dicap sebagai “pengkhianat” oleh beberapa orang di media sosial AS karena memilih bertanding atas nama Tiongkok, dan bukannya Amerika. Pembelanya mengatakan bahwa menyebut Gu sebagai “pengkhianat” bertentangan dengan apa yang dianjurkan AS untuk kebebasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Begitulah manusia… 😁
Surabaya, 11 Juli 2024
Satria Dharma