November 28, 2022

0 thoughts on “MANUSIA TUPOKSI

  1. Saya setuju dengan pendapat pak Satria, bahwa kebanyakan sarjana kita adalah sarjana yang terjebak oleh “belenggu” batasan kewajiban yang dibuat oleh kita sendiri. Siapapun yang mencoba melepaskan diri dari belenggu itu, dianggap sebagai orang yang melanggar peraturan, karena tidak sesuai dengan tupoksi-nya.

    Dalam sebuah acara pelatihan dimana saya sebagai peserta, saya pernah menyampaikan pendapat, bahwa jika saya yang jadi pimpro pelatihan ini, maka saya akan melakukan pelatihan ini dengan format yang berbeda. Hasilnya, saya dikeluarkan “secara halus” dari kegiatan dengan alasan sudah keluar dari “tupoksi” saya 🙁

    Ketergantungan pada tupoksi ini saya kira tidak terlepas dari gaya pengajaran sekolah kita – sejak SD hingga SMA yang senantiasa menyeragamkan pendapat siswanya. Langit harus berwarna biru, sawah harus hijau-kuning, dan matahari harus kuning – adalah aturan wajib yang diajarkan kepada siswa TK saat belajar menggambar. Karena itu dari banyak gambar yang dibuat oleh anak-anak kita, selama 30 puluh tahun terakhir yang saya lihat adalah senantiasa sama: gambar pemandangan gunung, dengan jalan raya yang membelah dan sawah di kiri-kanannya.

    Anak-anak kita tak diajarkan untuk jadi anak kreatif, lihat saja contoh soal matematika tingkat SD. Karena itu ponakan-ponakan saya selalu menolak jika diajarkan matematika dengan cara yang berbeda – walau cara itu jauh lebih mudah – dengan alasan: “ibu/bapak guru akan menyalahkan saya jika jawabannya tidak sama dengan contoh”.

    Dalam beberapa kesempatan, saya pernah melakukan percobaan kecil terhadap perilaku guru di sekolah kami dengan cara meletakkan sebuah gelas tepat di tepi meja. Hasilnya, hampir tak ada satupun guru yang berinisiatif untuk memindahkan gelas itu. Ada dua kemungkinan yang terjadi, mereka tidak mampu berpikir jauh bahwa gelas itu bisa jatuh dan pecah, atau mereka menganggap bahwa tupoksi guru itu bukan menjaga agar gelas tidak pecah.

    Sudah saatnya Republik ini melakukan revolusi di bidang pendidikan, agar sarjana-sarjana yang dihasilkan bermetamorfosis menjadi sarjana-sarjana kreatif yang punya “sense of crisis” terhadap persoalan sekitarnya- dan bukan sarjana-sarjana yang kreatif mencari peluang untuk kepentingan diri dan kelompoknya saja.

  2. P Satria,
    Menbacanya sy jadi ingin share.

    So what and how ? Agar semua pelan2 atau cepat dapat kita perbaiki ?

    Mengapa ini terjadi ?
    Karena berbelit dan kusutnya persoalan sekarang bukan hanya sekedar persoalan atau masalah. Semua menumpuk menjadi mistery, dimana tidak berlaku lagi science normal utk menyelesaikannya, tapi mungkin kita “batu ponari” atau buah pikir “gila” dan dilaksanakan oleh orang yang ” agak gila”. Sayang pemimpin seperti itu belum pernah muncul. Mungkin p Satria yang ditunggu masyarakat Indonesia. tunjukkan “ke gilaan” bapak, jangan ragu.

    Pemimpin harus memberi teladan, demokrasi memang terlalu kebablasan.
    Anehnya, semua mengharapkan terlalu banyak dari solusi atau perbaikan regulasi dan kelembagaan. BEGITU DITERAPKAN MENTAL semua bahkan semakin kusut, karena format roh nya beda, kebanyakan masih feodal, mana mungkin demokrasi. Lihat saja dari body language para pemimpin, kesan feodal sangat kental. FORMAT nya, tidak pas. Jadi formula perbaikan yg disiapkan tidak compatible dengan budaya bangsa.

    Gotong royong ? Bagaimana menghidupkannya kembali ?

    SALAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *