Mencium tangan seseorang adalah tanda hormat kepada yg dicium tangannya. Ini bisa kita lihat pada kebiasaan para santri jika bertemu dg guru atau kyainya. Jadi jangan heran jika kita melihat seorang pejabat yg perlente begitu bertemu dengan seorang kyai bukan hanya menyalaminya tapi sekaligus mencium tangannya. Itu MUNGKIN karena adanya kedekatan hubungan antara keduanya, di mana yg dicium tangannya biasanya adalah guru yg sangat dihormati. Kita mencium tangan seseorang karena sangat menghormatinya. Saya sendiri dulu selalu berupaya utk mencium tangan ayah, ibu, om dan tante saya karena rasa hormat dan cinta kepada mereka ketika bertemu. Terkadang saya juga mencium tangan mantan dosen saya yang sudah semakin sepuh. Tapi rasanya saya tidak pernah mencium tangan kyai mana pun karena pergaulan saya bukan dengan komunitas pesantren. Seandainya saya pernah nyantri saya pasti akan mencium tangan para kyai saya sebagai rasa hormat saya pada guru yang menjadi pengganti orang tua saya di pesantren. Begitulah KEBIASAAN yang ada di komunitas pesantren.
Tapi perlu saya sampaikan bahwa cium tangan, baik ketika bertemu dengan kyai, ulama, orang tua, guru, BUKANLAH AJARAN AGAMA. Ia hanya budaya. Ia sama statusnya dengan berjabat tangan, cipika-cipiki, saling senggol hidung, tos, atau budaya dan kebiasaan lain ketika bertemu di kelompok masyarakat lain. HANYA BUDAYA dan BUKAN AJARAN AGAMA.
Memang ada yang mengatakan bahwa ada sahabat yang mencium tangan Nabi jika bertemu. Tapi tampaknya itu bukan sesuatu yang dianggap sebagai ajaran agama Islam. Ya hanya kebiasaan orang-orang tertentu di zaman Nabi dan bukan merupakan sebuah ajaran atau tuntunan dalam agama. Apa buktinya? Buktinya ya mencium tangan para ulama ternyata tidak dilakukan oleh umat Islam di negara lain. Di jazirah Arab, di timur Tengah, di Turki, tidak kita ketemukan kebiasaan para santri atau murid mencium tangan ulama atau ustadnya. Bahkan katanya Raja Arab Saudi, Raja Abdullah, telah melarang semua warganya untuk melakukan cium tangan terhadap siapa pun, termasuk dirinya dan keluarga kerajaan. Raja Abdullah menganjurkan cium tangan hanya dilakukan kepada orangtua. Larangan ini dilakukan Raja Abdullah dengan alasan hal itu melanggar ajaran Islam dan menyebabkan seseorang tunduk kepada selain Allah SWT.
Mungkin kita akan menganggap Raja Abdullah berlebihan karena ternyata Rasulullah sendiri pernah mencium tangan seseorang karena penghargaan beliau kepada orang tersebut. Jadi justru Nabi yang mencium tangan umatnya. Orang tersebut ternyata bukan orang yang sangat saleh dalam ibadah sholat, puasa, atau sedekah. Rasulullah mencium tangan orang itu dan menyatakan bahwa tangan tersebut TIDAK AKAN DISENTUH API NERAKA…?! Wow…! Apa gerangan ibadah yang mereka lakukan sehingga tangan mereka dicium oleh Nabi dan disebut bahwa tangan mereka tidak akan disentuh api neraka? 😯
Menurut riwayat Rasulullah pernah mencium tangan tiga orang sebagai tanda penghargaan yg tinggi atas apa yg telah dilakukan oleh tiga orang tersebut.
Yang pertama adalah tangan sahabat Sa’ad bin Mu’adz.
Ketika berjumpa dengan Sa’ad, Rasulullah melihat betapa tangannya kasar, kering, dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah serta merta mencium tangan Sa’ad dan menyatakan bahwa ‘tangan ini dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka’.
Orang kedua yang mendapat kehormatan dicium tangannya oleh Rasulullah adalah Mu’adz bin Jabal. Ketika bersalaman Rasulullah merasakan tangan Mu’adz kasar dan tebal. Ketika ditanyakan Mu’adz menjawab bahwa tangannya kapalan karena dipakai kerja keras. Kembali Rasulullah mencium tangan yg kasar, keras dan kapalan karena bekas kerja keras ini dan menyatakan hal yg sama seperti pada Sa’ad. ‘Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka.’ Tangan yg dipakai oleh pemiliknya utk bekerja keras mencari nafkah bagi keluarga.
Tangan ketiga adalah tangan Fatimah Az-Zahra yg telah bekerja keras menggiling gandum di rumahnya utk menyiapkan makanan bagi anak-anaknya yg menangis. Rasulullah sangat menghargai orang-orang yg bekerja keras utk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Rasulullah BUKAN mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan ibadah mahdhah mereka dan bukan karena kesalehan mereka dalam ibadah ritual seperti sholat malam, puasa, sedekah, dan berhaji.
Jadi sebenarnya jika kita sebagai umat Islam yang mencintai Nabi dan ingin mengikuti sunnah beliau maka sebaiknya kita mencium tangan orang-orang yang bekerja keras dalam mencari nafkah dalam hidupnya. Orang tua kita tentu saja. Mengapa demikian…?! Karena Nabi sangat menghargai umatnya yang bekerja keras mencari nafkah dan bukan umat yang mengaji pakai TOA setiap hari di masjid, puasa terus sampai tidak kuat bekerja, dzikir berjam-jam di masjid, dan sejenisnya.
Bekerja keras bagi keluarga adalah ibadah yang mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi dari Rasulullah sehingga Rasulullah mencium tangan orang yang tangannya sampai kasar karena bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Bahkan Rasulullah mengumpamakan seorang beriman itu seperti lebah yang bekerja keras setiap saat dalam bentuk koloni berjamaah dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Jadi tolok ukur atau barometernya adalah kebermanfaatan bagi orang lain dan bukan ibadah ritual. 🙏
Surabaya, 17 Oktober 2025
Satria Dharma