Salah seorang tante saya, kakak dari ibu saya, namanya Tante Isa (Aisyah) meninggal dalam usia yang cukup tua (85 tahun). Beliau meninggal dalam kesepian meski selalu ada keluarga yang menemaninya. Beliau tidak pernah menikah dan selalu ikut dengan keluarga kami sejak ibu kami menikah. Kami bersaudara diasuh oleh beliau sejak kecil. Boleh dikata beliau adalah ibu kedua kami.
Suatu saat ketika saya menemuinya dalam kesendiriannya ia pernah menyampaikan perasaan sepinya tersebut dengan kata, “Kenapa saya belum dipanggil oleh Tuhan? Padahal semua teman-teman dan saudara saya sudah meninggal semua.” Saya benar-benar blangkemen mendengar ungkapan hati beliau seperti itu.
Tentu saja saya tidak akan sok bijak dengan menceramahinya bahwa kita tidak boleh mengeluh soal hidup dan ingin minta mati segera. Bisa kualat saya. Saya hanya diam saja sambil mengelus-elus lengan beliau yang keriput itu. Saya bisa memahami rasa sepi beliau. Sejak muda beliau ini selalu mandiri dalam arti tidak pernah merepotkan siapa saja. Ke mana pun beliau pergi dan tinggal di rumah keluarga mana pun beliau selalu berupaya untuk bermanfaat bagi keluarga yang didatanginya. Beliau akan ikut mengurus rumah seperti pemilik rumah. Pokoknya siapa pun akan senang rumahnya didatangi oleh beliau dan tidak ada yang akan mengeluh.
Tante saya ini memang ‘jalenjeng’ dan suka sekali mendatangi rumah keluarga dan semua orang yang dikenalnya. Kalau beliau diterima dengan baik maka beliau akan dengan santainya bilang mau menginap beberapa hari di rumah yang didatanginya. Karena tante saya ini orang yang baik hati maka orang selalu senang jika didatangi. Tante saya ini sangat lugu dan polos sehingga bahkan preman atau pun orang yang jahat tidak akan tega menipu atau mencelakainya. Pokoknya ke mana pun beliau pergi akan aman saja. 😁
Di rumah kami beliau tidak hanya membantu pekerjaan ibu kami tapi juga berusaha untuk bekerja mencari penghasilan dengan berjualan. Caranya adalah dengan membuat kue-kue yang nantinya akan dititipkan pada warung-warung yang jaraknya kadang lumayan jauh. Sejak pagi beliau sudah berbelanja bahan untuk kue dan kemudian beliau olah menjadi kue-kue tradisional yang beliau bisa bikin. Kami senang membantu beliau ketika membuat kue tersebut. Membantu sebenarnya bukan kata yang tepat. Sebenarnya kami sekedar ingin ikut makan satu atau dua biji kue yang beliau bikin. Sambil pura-pura membantu kami mencomot kuenya dan memakannya. Tapi karena kami bersaudara banyak maka lebih banyak yang masuk ke mulut kami daripada yang siap dijual. Akhirnya beliau marah dan berkata, “Anre manenni buaja. Ajakna kuabbaluk.” yang artinya, “Makan saja semuanya, buaya. Saya tidak usah berjualan.” 😁 Kalau sudah begitu kami para buaya ini langsung semburat lari meninggalkan beliau. Dasar buaya…! Membantu apa mau menghabiskan kue dagangan? 😝
Ketika beliau semakin tua dan satu persatu teman dan saudaranya meninggal beliau merasa semakin kesepian. Apalagi kami para buaya yang mencintainya telah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing maka semakin tak ada yang menemani beliau di usia tuanya. Di saat itulah timbul rasa bosannya akan hidup yang semakin tak berdaya dan tak bermanfaat.
Di usia saya yang semakin senja ini saya semakin mampu merasakan apa yang dirasakan para orang tua yang semakin ringkih, sakit-sakitan, tak berdaya, dan kesepian. Ada perasaan yang semakin lama semakin menyergap dan mencengkram yaitu hidup yang semakin membosankan karena kehilangan makna. Kita memang masih hidup tapi kita semakin kehilangan rasa dan gairah. Nothing feels and tastes like before. Makanan seenak apa pun tidak seenak dulu rasanya. Bepergian ke mana pun akan kehilangan sensasinya. Di saat itulah kita mungkin akan menyampaikan hal yang sama dengan apa yang disampaikan oleh tante saya tersebut, “Mengapa malaikat maut tidak juga datang menjemput saya? This life has become a torture now.” 😓
Pelita Air, SUB-CGK, 7 Okt 25
Satria Dharma