Shanghai, Senin, 22 September 2025
Kami naik pesawat China Eastern ke Shanghai. Bandara Shanghai namanya Pudong. Jadi jangan cari nama Shanghai di papan pengumuman di bandara karena yang muncul adalah Pudong. Pesawat kami berangkat tempat waktu, jam 23:30 dan mendarat pada pukul 07:00. Meski ada fasilitas hiburan film pada layar di setiap seat tapi kami tidak diberi headset. Filmnya juga tidak ada subtitles bahasa Inggris. Jadi saya matikan sepanjang penerbangan. Pesawat juga tidak memberi selimut seperti pada penerbangan lainnya. Untungnya saya sudah siap sweater. Pokoknya selalu siap. 😁
Travel yang kami ikuti ternyata tidak menyediakan travel leader. Tak ada petugasnya yang ikut kami. Jadi kami dilepas di bandara dan nanti akan dijemput di bandara tujuan juga. Baru kali ini saya ikut travel yang praktis seperti ini. Meski demikian semua hal sudah mereka siapkan dan atur. Bagasi mereka yang masukkan dan tiket juga sudah mereka ambilkan. Bahkan formulir isian di imigrasi Pudong sudah mereka isikan dan tinggal kami tandatangani.
Begitu kami keluar dari bandara kami sudah langsung disambut oleh Charly, tour leader kami di Shanghai. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia tapi pakai bahasa Inggris yang cukup bagus
Perjalanan pertama hari ini adalah menuju ke The Bund. Kami naik bisa besar padahal kami cuma 13 orang seluruhnya. Perjalanan dari bandara ke The Bund sekitar 1 jam. Lumayan jauh. Apalagi ini Senin pagi, rush hour.
Ini kunjungan kedua saya ke Shanghai. Kunjungan pertama saya pada 2006, 19 tahun yang lalu bersama para pimpinan UTB STIKOM BALI . Tentu sudah banyak yang berubah dan saya juga sudah lupa seperti apa The Bund dulu kecuali bahwa dipenuhi dengan bangunan-bangunan cantik dan toko-toko yang jual barang-barang mewah.
The Bund adalah kawasan wisata pejalan kaki di tepi barat Sungai Huangpu di pusat kota Shanghai. Dengan panjang sekitar 1,5 kilometer, Bund merupakan salah satu objek wisata paling simbolis di Shanghai. Di sebelah timur terdapat Sungai Huangpu – sungai induk Shanghai, dan di seberang sungai berdiri Menara Oriental Pearl, Lujiazui Three-Piece Set (Menara Jinmao, Pusat Keuangan Dunia, Menara Shanghai), dan gedung pencakar langit terkenal lainnya di Shanghai Pudong.
Di sebelah barat, terdapat pusat lembaga keuangan dan perdagangan luar negeri Shanghai kuno. Terdapat 33 bangunan dengan gaya berbeda di Bund, mulai dari Jembatan Waibaidu di utara hingga Jinling Donglu di selatan. Bangunan-bangunan ini juga dikenal sebagai “Kluster Bangunan Eksotis di The Bund Shanghai”.
Mengapa The Bund begitu populer? The Bund adalah situs bersejarah yang penting dan megah serta kompleks representatif yang memadukan klasisisme dan modernisme di Tiongkok modern. Letak geografisnya yang unik, latar belakang sejarah yang kaya, lanskap perkotaan yang modern, dan pemandangan malam yang indah, semuanya menarik orang untuk bepergian ke Shanghai.
Dari The Bund kami berjalan ke Nanjing Road tempat belanja yang sangat ramai. Katanya jalan ini panjangnya 4,5 km. Ada peserta tour yang sangat ingin masuk dan berbelanja di Pop Mart. Katanya Pop Mart di Nanjing Road ini yang terbesar di seluruh dunia. Semula saya pikir Pop Mart itu supermarket karena namanya. Ternyata itu toko berbagai macam boneka, termasuk boneka Labubu yang beken kapan hari itu. Herannya toko boneka ini pengunjungnya justru orang dewasa dan bukan anak-anak. 😁
Kami lalu diajak makan siang di sekitar sungai Huangpu. Satu meja besar cukup untuk kami ber-13 orang. Tentu saja kami pesan yang ‘Halal Food’. Hidangan demi hidangan diletakkan di meja sehingga penuh. Ternyata kami tidak bisa menghabiskan semua hidangan karena berlimpah. Ternyata cemen aja kami ini. Kayaknya aja bisa menghabiskan semua hidangan.
Setelah makan kami mampir di toko souvenir dan mulai belanja. Kami memang diingatkan untuk tidak belanja di Nanjing karena harga barang-barangnya mahal dan akan dibawa ke toko souvenir yang murah.
Setelah belanja kami ditawari apakah mau naik ke Tower atau cruise. Ternyata semua lebih suka ikut cruise meski harus bayar 120 Yuan/orang. Maka jadilah kami semua menyusuri sungai Huangpu melihat Shanghai dari sungai. Ternyata Shanghai memang sebuah kota modern yang sangat Indah di lihat dari mana pun. Sepanjang satu jam menyusuri sungai yang kami lihat adalah jajaran gedung-gedung modern yang Indah semua. Tak ada sisi yang tidak tumbuh menjulang. Jakarta jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Shanghai.
Sebelum balik ke bandara kami jalan kaki lagi menuju ke Old Town of Shanghai. Ini adalah lokasi kunjungan turis yang paling ramai didatangi. Sayang sekali waktu kami tidak banyak padahal rasanya pingin berlama-lama di tempat yang eksotis ini. Saya baru ingat bahwa ini adalah lokasi saya berfoto 19 tahun yang lalu dan saya pasang di pigura dinding rumah di Balikpapan. Kota Tua Shanghai ini juga dikenal sebagai Nanshi atau Kota Cina, adalah pusat kota Shanghai yang bersejarah dan tradisional, terletak di sebelah barat Renmin Lu dan berpusat di sekitar Taman Yu dan Kuil Dewa Kota. Kawasan ini merupakan kawasan indah yang dipenuhi arsitektur tradisional Tiongkok, pasar yang ramai, penjual makanan, dan atraksi budaya, menawarkan sekilas masa lalu Shanghai meskipun modernisasi dan hilangnya tembok kota kunonya.
Saya pikir Shanghai sudah tidak ada lagi anggota Kaypangnya. Kan kemakmuran benar-benar merajalela. Sepanjang perjalanan tidak pernah saya lihat ada pengemis atau orang miskin terlunta-lunta. Tapi waktu mau balik ke bis untuk kembali ke bandara tiba-tiba kami didatangi oleh seorang wanita tua. Semula saya pikir ia mau menjual sesuatu pada kami. Tapi ternyata ia meminta uang pada kami. Oalah…! Anggota kaypang toh…! Ternyata masih ada. 😁 Tapi penampilannya tidak seperti anggota kaypang di negara kita. Dia cukup necis dan tampak sehat. Lebih hebatnya lagi adalah ia menyediakan aplikasi Alipay bagi yang mau memberinya uang secara digital. Jadi cash boleh, uang digital via Alipay juga monggo. Tinggal kirim ke QR code yang ia miliki. Jian ampuh tenan kok anggota kaypang di Shanghai ini. 😁 Apakah para pengemis di Indonesia perlu diajari juga bagaimana mereka bisa meningkatkan kompetensi dan profesionalisme mereka dalam mengemis seperti teman seprofesi mereka di Shanghai ini. Gunakan teknologi dong…! 😁
Pukul 18:00 kami tiba di bandara Shanghai untuk penerbangan selanjutnya ke Lanzhou. Tadi ada sedikit drama karena 2 orang peserta tersesat dan harus kami tunggu dan itu membuat waktu kami check in di bandara jadi mepet. Ada juga drama paspor dan tiket salah seorang peserta yang tertinggal dan diberikan pada saya sehingga saya pikir itu paspor saya.
Perjalanan dari Shanghai ke Lanzhou sekitar 3 jam. Bandara Lanzhou besar dan megah. Semua lancat dan kami dijemput oleh tour guide bernama Peter di luar bandara. Aman sentosa semuanya…. 😁
Lanzhou, 23 September 2025
Satria Dharma


















