Kami di BAN PDM saat ini sedang melakukan pekerjaan besar yang benar-benar menyita waktu dan energi kami, yaitu menyusun instrumen akreditasi baru bagi Lembaga Pendidikan di level PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah (PDM). Kami menyebutnya sebagai Instrumen Akreditasi 2024 (IA 2024) versi 2025. Setelah menyusun, merumuskan, mendiskusikan instrumen akreditasi baru ini selama berbulan-bulan baik secara daring mau pun luring maka kami pun harus melakukan Uji Keterbacaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah instrumen yang kami susun tersebut dapat dipahami dengan sebaik-baiknya oleh para asesor yang akan melakukan tugas akreditas lembaga pendidikan mau pun oleh asesi atau lembaga pendidikan yang diakreditasi dengan instrumen tersebut di seluruh Indonesia. Uji Keterbacaan ini sangatlah penting karena merupakan tolok ukur dari keberhasilan kami dalam menyusun instrumen akreditasi baru ini. Kami sendiri merasa telah melakukan segala upaya untuk menjadikan IA 2024 ini sebaik mungkin dan seideal mungkin agar bisa digunakan bukan hanya untuk memotret mutu pendidikan di lembaga yang dinilai tapi juga untuk memberikan arahan dan kompas seperti apa lembaga pendidikan yang ideal itu. Tapi jika ternyata instrumen ini ternyata tidak dipahami oleh para asesor dan asesi sebagaimana yang kami kehendaki sewaktu menyusunnya maka itu artinya kami gagal dalam menghadirkan sebuah instrumen seperti yang kami inginkan.
Uji keterbacaan instrumen akreditasi (IA) 2024 versi 2025 ini kami laksanakan dengan mengundang beberapa perwakilan asesor, kepala sekolah/madrasah, dan ahli dalam beberapa tahapan. Instrumen akreditasi untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) dan satuan pendidikan kerja sama (SPK) telah dilakukan pada 22-23 Mei 2025. Pada 29-30 Juni 2025 juga telah dilakukan uji keterbacaan untuk program pendidikan kesetaraan dan instrumen akreditasi sekolah luar biasa (SLB). Untuk instrumen akreditasi SLB, yang terlibat tidak hanya melibatkan asesor dan perwakilan sekolah, tetapi juga melibatkan ahli di bidang pendidikan khusus. Saya sendiri tergabung dalam Tim SMK bersama Ki Saur Panjaitan, Pak Bakhrun, Bu Kiki, Pak Abdul Malik, dan Pak Primadi. Tim kami melakukan uji keterbacaan tersebut sejak Rabu 9 juli 2025 s/d hari ini. Alhamdulillah pertemuan dengan para stake holders pendidikan SMK yang penuh dengan diskusi dan perdebatan tentang berbagai definisi operasional, komponen, butir mau pun kategori indikator yang kami susun itu berhasil kami selesaikan. Tentu saja hasil dari pertemuan hari ini masih harus kami bawa lagi ke pleno BAN PDM untuk kami sempurnakan rumusannya sebelum bisa kami gunakan dalam pelatihan calon pelatih asesor yang akan kami lakukan minggu depan ini. Sungguh sebuah proses kerja yang marathon.
Banyak komponen dan aspek-aspek baru yang akan kami nilai di SMK nantinya yang intinya mengarah pada penilaian proses pembelajaran dan kinerja sekolah dan tidak lagi pada penilaian fasilitas dan peralatan semata. Diantaranya adalah soal kinerja pendidik dalam mengelola proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola pembelajaran dan juga dalam membangun jejaring dengan berbagai mitra termasuk ortu, DUDI, alumni, dst, iklim lingkungan belajar yang diharapkan terwujud di sekolah, dan kompetensi hasil pembelajaran lulusan atau peserta didiknya.
Salah satu hal baru yang ingin kami nilai dan juga kami harapkan agar menjadi arah yang akan dituju oleh sekolah SMK adalah aspek pembiasaan sekolah untuk meningkatkan kebugaran fisik murid. Kami ingin mendorong agar sekolah melakukan upaya untuk meningkatkan kebugaran fisik murid mereka dengan mendorong kebiasaan berolahraga secara teratur dan terstruktur baik melalui PJOK, ekstrakurikuler, mau pun aktivitas fisik harian yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran murid. Jadi kami ingin agar sekolah membiasakan murid mereka berolahraga secara rutin dan terstruktur untuk mendapatkan kesehatan, kebugaran, dan stamina yang lebih baik daripada lulusan SMU. (Apakah ada yang mau bertanya mengapa kami ingin anak-anak lulusan SMK memiliki tingkat kebugaran dan stamina yang lebih baik dari lulusan lain?)
Mengapa kami ingin hal ini menjadi arah yang harus dicapai oleh sekolah SMK? Karena hal ini berhubungan dengan hasil penelitian tentang kebugaran lulusan SMK dan hubungannya dengan persyaratan dan peluang kerja setelah mereka lulus nanti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran jasmani siswa lulusan SMK cenderung rendah. Hal ini terlihat dari banyak siswa yang berada dalam kategori kurang atau kurang sekali dalam berbagai tes kebugaran, seperti daya tahan otot, daya tahan jantung dan paru-paru, serta fleksibilitas. Padahal kesehatan dan kebugaran calon pekerja adalah isu yang sangat penting bagi industri dalam merekrut calon pekerja. Berdasarkan info dari Bu Kiki yang pernah menjadi Dirjen Vokasi dan saat ini menjadi anggota tim SMK, kebugaran fisik lulusan SMK dan perguruan tinggi adalah ‘alarming issue’. Salah satu industri menyampaikan, dari 8 lulusan yg lulus wawancara, 7 orang gagal pada tes kesehatan. Isunya hipertensi, diabetes dan kolesterol sangat tinggi sehingga tidak bisa diikutkan paket asuransi kesehatan perusahaan. Artinya ya tidak lolos. United Tractors merekrut tenaga dari 350 peserta lolos kecakapan/kompetensi termasuk psikotes 85 orang, dan setelah tes kebugaran hanya lolos 15 orang. Akhirnya mereka gagal untuk bisa direkrut padahal pada tes yang lain mereka bisa melewati dengan baik. Sungguh menyedihkan…
Stamina dan kebugaran sangat penting dalam tes penerimaan karyawan karena mencerminkan kesehatan fisik dan mental calon karyawan, yang dapat mempengaruhi kinerja dan produktivitas mereka di tempat kerja. Tes kebugaran juga membantu perusahaan mengidentifikasi calon yang memiliki potensi risiko kesehatan yang lebih rendah, sehingga dapat mengurangi biaya kesehatan dan absensi di masa depan. Jika lulusan SMK memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang rendah maka ini jelas akan mengancam masa depan mereka. Oleh sebab itu sekolah SMK harus mulai melakukan antisipasi untuk mempersiapkan murid mereka dalam menggapai cita-cita dan masa depan mereka nantinya.
Nah inilah isu penting yang ingin kami sampaikan pada dunia pendidikan di masa depan. Mulai sekarang setiap lembaga pendidikan harus benar-benar peduli pada Kesehatan dan kebugaran peserta didik mereka baik secara fisik mau pun mental. Mari kita lakukan apa saja program yang bisa kita lakukan untuk menjadikan anak-anak kita jauh lebih sehat dan bugar daripada sekarang, Itu sangat penting bukan hanya bagi peluang kerja mereka tapi juga pada kehidupan mereka selanjutnya. Kemarin waktu saya mendatangi kelas pelatihan bagi calon karyawan yang akan mencari kerja di Jepang. Kelas ini diselenggarakan oleh Universitas Teknologi Bandung (UTB) di Sukabumi di mana siswa diasramakan dan dilatih selama sekitar 8 bulan sebelum nantinya akan dites untuk bekerja di Jepang. Saya menyampaikan pada mereka pentingnya kesehatan, kebugaran, dan stamina yang prima bagi mereka. Mereka akan bekerja di Jepang yang memiliki 4 musim dengan sistem kerja yang yang jelas akan menuntut dan membutuhkan kesehatan, kebugaran, dan stamina yang prima dan itu harus mulai mereka mulai tabung sejak sekarang ketika dalam proses training. Mereka punya delapan bulan sebelum benar-benar harus menunjukkan kinerja tertinggi yang bisa mereka capai sebelum berangkat ke Jepang. Alangkah menyedihkannya ketika mereka sudah lulus semua tes bahasa, budaya, dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di Jepang ternyata gagal diterima hanya karena dianggap kurang fit dan tidak memiliki stamina yang dipersyaratkan oleh industri di Jepang. Lebih menyedihkan lagi apabila ternyata kita sebagai pendidik juga tidak memahami pentingnya hal ini bagi anak-anak kita demi masa depan mereka.
Mari kita masukkan pentingnya kebugaran dan stamina yang prima sebagai tujuan dalam pembelajaran kita di sekolah dan juga di masyarakat. Mari kita tumbuhkan kesadaran akan pentingnya hal ini bagi masa depan anak-anak kita nanti.
Jakarta, 11 Juli 2025
Satria Dharma