Selesai salat Subuh saya berbalik dan menyalami istri saya dan ia mencium tangan saya. Setelah itu saya mencium kedua belah pipinya dan kami berpelukan. Itu ritual kami setelah salat berjamaah. Sambil memeluk saya dengan erat istri saya kemudian mengucapkan, “Happy anniversary. Selamat ulang tahun perkawinan kita yang ke 32. Terima kasih telah menjadi suami yang terus menyayangiku selama ini.” ❤️
Hari ini memang hari ultah perkawinan kami yang ke 32. Sungguh tidak terasa ternyata kami telah menikah selama 32 tahun. Rasanya baru beberapa hari yang lalu kami menikah dan kenikmatan honeymoon masih terasa sampai hari ini. Beberapa hari yang lalu kami honeymoon ke Balikpapan dan mendatangi wisuda Universitas Mulia yang didirikan oleh Yayasan Airlangga 24 tahun yang lalu. Setelah itu kami honeymoon ke Bali, menginap di Meru Hotel Bali Beach yang mewah tersebut, sekalian menghadiri wisuda ITB Stikom Bali yang berdiri sejak tahun 2002. Sekarang ini kami honeymoon lagi di Harris Hotel Convention Citilink, Bandung, untuk menghadiri acara wisuda Universitas Teknologi Bandung (UTB). Pokoknya kami honeymoon terus… Makanya gak terasa kalau kami sudah menikah 32 tahun. 😁
Istri saya menghadiahi saya sekotak coklat dan saya kembali merasa terharu. Ia memang selalu memberi saya hadiah pada hari ultah saya mau pun hari pernikahan kami. Ada saja hadiahnya sementara saya sendiri tidak pernah peduli dengan hal semacam itu. Kadangkala saya meminta anak-anak saya untuk membelikan hadiah bagi mamanya atau kalau lupa ya saya transfer saja sejumlah uang agar ia membelikan dirinya hadiah yang ia sukai. Istri saya selalu berterima kasih meski saya hanya memberinya ucapan sayang, pelukan dan ciuman. Saya memeluknya dengan erat dan kembali mengucapkan terima kasih telah menemani saya selama 32 tahun ini dengan begitu penuh kasih dan sayang. ❤️
“Terima kasih atas kasih sayang dan cintanya untukku selama ini. Maafkan kalau aku ada salah selama ini.” Demikian ucapnya. Lho…! Gak kwalik tah…?! Aku yang banyak salah selama ini… 😎

Saya lantas teringat kisah seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya dan ketika ia memberikan pidato pada saat pemakaman ia menyampaikan bahwa suaminya itu punya begitu banyak kesalahan kepadanya selama menikah. Begitu banyaknya kesalahannya dan dinyatakannya sebanyak bintang di langit. Tentu saja yang hadir kaget mendengar ucapan sang istri ini. Padahal mereka tahu bahwa suami dan istri ini selama ini sangat rukun dan saling menyayangi. Tapi mengapa kok disebut memiliki kesalahan sebanyak bintang di langit.
“Tapi ketika matahari muncul maka hilanglah bintang-bintang tersebut di langit,” tambah sang istri yang artinya kasih sayang suaminya menutupi semua kesalahannya.
Yang kami rasakan berbeda. Saya dan istri benar-benar tidak mengalami ‘bintang-bintang di langit’ tersebut. Kami memang sangat jarang bertengkar atau saling marah. Kalau pun kami saling marah atau jengkel maka itu tidak akan pernah lama dan setelah itu kami akan melupakan kemarahan dan kejengkelan kami tersebut. Benar-benar lupa mengapa kami bisa saling marah dan jengkel sebelumnya. Istri saya bahkan bilang bahwa pada saat ia marah pada saya ia bilang pada dirinya, “Saya akan mengingat-ingat hal ini dan jika kami sudah baikan kembali saya akan sampaikan mengapa saya marah padanya.” Tapi anehnya begitu kami sudah baikan ia tetap tidak ingat mengapa ia marah pada saya sebelumnya. It’s gone… Kami tidak pernah ingat ‘bintang’ apa yang bersinar tadi malam karena cahaya matahari selalu menerangi kehidupan kami. Kami bukan hanya saling memaafkan tapi sekaligus melupakan kesalahan masing-masing. Bagaimana mungkin kami mengingat kesalahan, kemarahan, dan kejengkelan kami padahal hari demi hari kami menikmati kasih sayang dan cinta yang tiada henti? 😍
Ini hari yang membuat kami selalu bersyukur pada Tuhan yang telah menjadikan kami pasangan, memberikan kasih sayang, cinta, dan kedamaian pada jiwa kami yang tidak pernah terputus. Tuhan telah menjaga kami dengan begitu baik selama 32 tahun ini. Kami diberi kenikmatan hidup, berkah, rahmat, dan karunia yang tidak terputus selama 32 tahun ini.
Segala puja dan puji hanyalah bagimu, ya Allah…! 🙏😊
Bandung, 28 Nopember 2024
Satria Dharma