Saat ini kita sedang hidup dalam era keberlimpahan atau era kemakmuran. Era kemakmuran adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu periode dalam sejarah yang ditandai dengan meningkatnya standar hidup, lapangan kerja penuh, dan mobilitas kelas pekerja yang meningkat. Era kemakmuran tiap bangsa tentu berbeda. Era kemakmuran di negara maju umumnya diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun 1950an hingga awal tahun 1970an ketika PD 2 berakhir di mana mereka dengan segera mengalihkan perhatian mereka dari berperang ke upaya untuk mendapatkan kemakmuran hidup.
Indonesia sendiri menurut saya baru mulai memperoleh kemakmuran sejak awal 80-an dan terus meningkat sampai saat ini. Saya belum menemukan pendapat para ahli ekonomi atau sosial yang menyatakan kapan mulainya era kemakmuran di Indonesia. Tingkat kemakmuran pada hakikatnya mengacu pada keadaan di mana semua orang mempunyai kesempatan dan kebebasan yang setara untuk berkembang.
Sebuah lembaga think tank asal Inggris, Legatum Institute, lewat Legatum Prosperity Index (LPI), mengajukan sebuah indeks yang mengukur tingkat kemakmuran atau kesejahteraan di suatu negara. Proyek tahunan yang dimulai sejak 2007 ini secara kompleks mengukur tingkat kemakmuran berdasarkan 12 pilar, 67 elemen, dan 300 indikator, yang dikelompokkan ke dalam 3 domain kunci: masyarakat yang inklusif, perekonomian terbuka, dan orang-orang yang berdaya.

Di edisi LPI ke-16 yang dirilis Februari 2023 lalu, penilaian dilakukan terhadap 167 negara, dengan menggunakan lebih dari 70 sumber data berbeda dan bekerja sama dengan lebih dari 100 akademisi dan pakar dari seluruh dunia. Pada LPI 2023, Indonesia memperoleh skor 60,88, menempati peringkat ke-63 secara global, dan ke-3 di region Asia Tenggara. Jadi negara kita itu negara paling makmur ke 3 di Asia Tenggara setelah Singapura dan Malaysia. Karena saya sudah pernah mengunjungi semua negara ASEAN maka saya bisa melihat dan menilai kemajuan negara kita dibandingkan negara-negara lain. Tentu saja Malaysia lebih maju daripada kita dan Singapura juga jauh lebih maju dalam hal kemakmuran. Masih jauh kalau kita mau mengejar Tingkat kemakmuran Malaysia apalagi Singapura.
Tapi ada hal sangat nyata yang saya lihat dalam kehidupan sehari-hari saya betapa Indonesia, atau paling tidak di Surabaya di mana saya tinggal, benar-benar telah makmur dan segalanya berlimpah. Bukti nyata yang saya lihat ketika saya olahraga pagi jalan kaki ke mana-mana adalah foto yang saya tampilkan di atas. Di rumah-rumah sekitar kompleks saya banyak sekali pohon-pohon mangga dan buah-buahan lain yang sedang berbuah. Buahnya banyak dan bergantung rendah sekali dan letaknya di luar pagar rumah. Sungguh menggiurkan sekali melihat buah-buahan yang hampir matang, menggerombol, dan menantang untuk dipetik tersebut. Tapi anehnya…tak satu pun ada anak kampung yang datang untuk memetik buah-buahan tersebut. Kadang buah-buahan tersebut berjatuhan begitu saja tanpa ada yang memetiknya.
Ketika olahraga pagi bersama istri dan melihat buah-buahan ranum yang bergantung begitu rendah dan ‘colongable’ saya bilang kepadanya bahwa kalau di zaman saya buah-buahan tersebut tidak akan berumur panjang. Kami para anak-anak yang hidup dalam kekurangan (mostly of us memang hidup kekurangan dan hampir selalu lapar) akan dengan senang hati memetik buah-buahan tersebut ketika pemilik rumah meleng. Pokoknya tidak pernah ada pemandangan di mana buah-buahan hampir matang yang bergerombol seperti itu terletak di luar pagar. Jangankan di luar pagar, sedangkan di dalam pagar pun kami berani kok menaikinya demi mendapatkan sebiji dua biji mangga mengkal. Kata istri saya sama kok dengan di desanya. Dulu teman-temannya selalu berebut memetik buah keres meski pun belum matang betul. Sekarang ini anak-anak akan heran kalau ada orang mau makan keres. Mungkin dipikirnya hanya mahluk purba yang mau makan buah keres. Padahal dulu buah keres yang masih kecut pun merupakan kenikmatan surgawi bagi kami.
Ketika makan di resto atau warung dan kebetulan porsinya besar kami tentu tidak akan bisa menghabiskannya. Tapi kalau minta dibungkuskan untuk dibawa pulang kayaknya kok kaypang banget. Akhirnya ya tidak kami habiskan dan menyisakannya di piring kami. Dalam situasi tersebut saya selalu mengenang zaman ketika kami masih berada di era kekurangan dan berpikir bahwa kami tidak akan mungkin membiarkan makanan yang enak dan mahal tersebut tersisa. Itu perbuatan mubadzir. Kami para patriot bangsa akan dengan sigap menghabiskannya tanpa sisa.
Bandung, 29 Nopember 2024
Satria Dharma