Saya dan istri selalu olahraga jalan kaki pagi setiap hari. Kecuali kalau hujan. Target kami adalah jalan kaki sekitar 6.000 – 7.000 langkah. Kami jalan kaki di sekitar tempat tinggal kami, baik itu di Surabaya, Madiun, mau pun Balikpapan. Agar tidak bosan maka kami selalu mengganti rute jalan kaki kami. Pokoknya kami berjalan kaki ke semua arah dalam radius 5 km dari tempat tinggal kami. Hampir semua gang-gang kecil di sekitar tempat kami dalam radius 5 km sudah kami masuki. Bagi saya itu sangat menyenangkan. Rasanya seperti bertualang ndek-ndekan. Semakin baru dan asing daerahnya semakin bergairah rasanya saya memasukinya.
Kalau saya berjalan dengan istri maka saya harus menyesuaikan diri dengan kondisi istri saya. Berjalan satu jam itu sudah cukup melelahkan baginya sedangkan saya kalau lagi senang keluar masuk kampung maka 1,5 jam pun rasanya masih pingin terus. Jadi kalau istri saya lagi tidak ingin jalan kaki dan lebih memilih kegiatan olahraga lain yang lebih bermanfaat seperti cuci baju dan masak maka saya genjot waktu jalan kaki saya. Saya jalan sampai kaki saya merasa goblog. Istri saya kalau sudah capek bilang bahwa kakinya sudah mulai ‘goblog’ dan tidak mau nurut. 😁
Belakangan ini saya banyak tinggal di Balikpapan. Istri saya ada proyek di Balikpapan yang harus ia kerjakan dan mesti selesai dalam 4 bulan. Jadi saya riwa-riwi Surabaya-Balikpapan dan Jakarta-Balikpapan demi memperoleh asupan kehangatan dari istri. Mana tahan saya berlama-lama tanpa istri di samping saya. 😁
Karena berminggu-minggu di Balikpapan maka rute jalan kaki pagi kami adalah di Balikpapan di sekitar tempat tinggal kami di daerah Pupuk Baru Kelurahan Damai Bahagia. Setelah bosan berputar-putar di di sekitar rumah kami maka saya ajak istri saya berjalan di rute yang lebih jauh. Kami naik mobil dan memarkirnya di daerah Balikpapan Permai dan berjalan kaki di sekitar daerah itu.

Balikpapan adalah kota pantai dan bukit-bukit. Sayangnya pantainya ditutup oleh gedung-gedung dan rumah-rumah tinggal sehingga kita tidak bisa mengendarai mobil menikmati pantai di sepanjang kota tersebut. Jadi kalau melihat pantai dan laut ya harus memasuki gang-gang dan jalan-jalan kecil di sekitar gedung-gedung dan rumah-rumah tersebut. Sangat banyak rumah penduduk yang berdiri ditepi pantai yang terdiri dari papan kayu dan berlantaikan kayu ulin. Tapi sekarang jalanan rumah-rumah yang semula dari kayu sudah dibeton sehingga lebih kuat dan lebih rapih. Tentu saja rumah-rumah ini tidak bisa ditembus dengan mobil karena memang tidak didesain sebagai perumahan yang ideal. Dulu penduduk datang dan mendirikan rumah masing-masing dengan posisi berhimpit-himpitan dan pintunya berhadap-hadapan. Dulu mereka tidak pernah membayangkan bakal punya mobil sehinggga tidak pernah berpikir untuk membuat jalan yang bisa dilalui mobil. Mereka memang bisa memperbaiki rumah mereka dan bahkan ada yang membangun rumahnya dua atau tiga lantai. Tapi tetap saja tidak ada jalan yang bisa dilalui mobil dan hanya motor yang bisa masuk. Itu pun kalau berpapasan maka harus bergantian. But they live happily out there. Saya bisa bilang begini karena saya tidak melihat kemiskinan di antara mereka. Rumah mereka mungkin terbuat dari kayu, berukuran kecil, dan berada di gang yang sempit. Tapi tidak ada tampak kemiskinan yang parah karena sangat banyak di antara mereka yang buka kios-kios mracang atau jualan nasi. Anak-anak mereka juga tampak sehat, gembira berlarian ke sana ke mari. Saya bahkan tidak pernah melihat seorang pun pengemis di jalanan. Saya hanya melihat penyanyi yang pakai sound system sambil membuka kaleng donasi di sekitar pasar. Tapi mereka juga tampak sehat walafiat belaka dan badannya malah subur.
Selama tiga hari saya dan istri menyusuri kampung-kampung di sepanjang pantai dan saya merasa seperti bertualang di negeri antah berantah. Gang-gang yang kami masuki itu persis seperti labirin yang membingungkan. Setelah berputar-putar cukup lama ternyata kami akan kembali ke jalan masuk kami semula. Padahal kami sudah berupaya mengingat-ingat ke mana arah yang harus kami ambil agar tidak kembali ke jalan yang sama. Tapi ternyata kampung-kampung ini memang hanya punya satu akses seperti kantong. Setelah berputar-putar nanti kembalinya pasti ke jalan semula lagi. Bagi saya itu tetap menyenangkan. Kan saya anggap sebagai petualangan.
Meski demikian saya harus menyesuaikan dengan keinginan istri saya. Istri saya tidak suka jalan yang sempit dan tidak jelas mengarah ke mana. Saya sendiri tidak peduli dan bersedia menerima resiko memasuki jalan buntu dan harus kembali lagi. It’s an adventure, right? Istri saya juga tidak mau ambil jalan yang terlalu mendaki, saya justru tertantang. Lha gimana wong Balikpapan ini kota ‘gunung’. Mayoritas nama jalan di Balikpapan adalah nama gunung: Gunung Sari, Gunung Malang, Gunung Tembak, Gunung Guntur, Gunung Pipa, Gunung Bahagia, Gunung Belah, Gunung Polisi, dan masih banyak lagi.
Kemarin pagi ketika kami berjalan ke daerah bukit mulai dari jalan Blora kami terus naik dan keluar masuk daerah Gunung Sari. Kami keluar masuk gang yang berliku-liku dan turun naik. Sambil jalan kami menebak-nebak kira-kira kami akan tembus daerah mana. Karena daerahnya berbukit-bukit dan penduduk yang datang dulu dan mendirikan rumah juga tidak ada yang memikirkan jalanan dan akses maka gang-gang dan lorong-lorong ini juga tidak bisa dilalui oleh mobil dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Bahkan ada yang sama sekali tidak bisa dilalui motor atau sepeda sekali pun karena terlalu terjal. Anehnya meski saya pikir itu rumah sudah yang paling tinggi ternyata di belakangnya masih banyak rumah-rumah lain yang tentunya lebih tinggi letaknya. Dulu bagaimana mereka waktu membangun rumah ya? Bagaimana mereka mengangkat bahan-bahan bangunan mereka? Setelah selesai lalu bagaimana mereka mengangkat perabotan rumah mereka. It seems like impossible tapi faktanya ya rumah-rumah mereka berdiri dengan kokoh di sana. Mereka juga punya segala macam perabotan yang mestinya harus diangkat dengan digotong mulanya. Ini bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika manusia menginginkan.
Ketika kami lewat sebuah gang tiba-tiba saya melihat tanaman Bunga Sepatu yang berwarna merah muda yang mekar indah. Saya lalu berhenti untuk mengambil fotonya seperti biasanya. Ketika selesai mengambil fotonya tiba-tiba pemilik rumah di mana bunga itu ditanam memanggil kami. “Ambil dan tanam bunga itu di rumahmu,” katanya. Dia seorang wanita tua dan duduk saja di kursi di depan rumah kayunya yang kecil. Rumahnya tidak berpagar dan tampaknya ia tinggal sendiri saja di rumahnya tersebut. “Ke sini dulu,” katanya memaksa. “Tolong masuk ke dalam dan ambilkan pisau di atas meja.” Katanya pada istri saya. “Maaf, kaki saya sakit dan sukar untuk berdiri.”
Istri saya masuk ke dalam rumah yang tampak gelap tersebut mengambil pisau. Oleh si pemilik rumah pisau diberikan pada saya, “Kamu saja yang memotong. Potong pada dahannya yang besar. ” katanya lagi. “Bunga ini mudah tumbuh. Tanam di rumahmu.” Katanya.
Ketika saya berusaha memotong dahan Bunga Sepatu dengan pisau tumpul tersebut si wanita itu bercerita panjang lebar pada istri saya. Dia langsung curcol. Tampaknya ia memang tinggal sendirian di rumah mungilnya itu. Ia bilang lahir tahun 45. Suaminya direbut wanita lain. Si perebut suami bahkan pernah datang untuk melabraknya karena ia berupaya untuk mencari suaminya. Banyak lagi ceritanya dan kalau kami tidak menghentikannya maka kami mungkin harus tinggal di sana sampai sore. Tampaknya wanita itu memang sendiri dan kesepian. Ia tidak bisa jalan ke sana ke mari untuk bertamu dan bergibah ria karena kakinya yang sakit tersebut. Jadi kalau ada orang yang berhasil ia hentikan dan datang kepadanya maka akan ia manfaatkan untuk curcol. She really needs somebody to talk to. 😁
Sebelum kami meninggalkan rumahnya istri saya menyelipkan uang di tangannya dan ia tampak gembira sekali. Kapan lagi ia bisa curcol dan mendapat uang lima puluh ribu.
Ternyata pagi itu kami berjalan cukup jauh, 10.597 langkah alias 7,2 km. 😁
Balikpapan, 19 September 2024
Satria Dharma