Ilustrasi
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh IHME yang berbasis di AS menemukan bahwa populasi tiga perempat dari seluruh negara akan menyusut pada tahun 2050. Artinya kita masih akan mengalami peningkatan jumlah penduduk dunia selama 26 tahun lagi. Mari kita tunggu saja. 😁
Dibutuhkan sekitar 300.000 tahun di zaman prasejarah dan zaman sejarah manusia agar populasi manusia mencapai satu miliar. Tapi butuh hanya 218 tahun kemudian untuk mencapai 8 miliar. Pertumbuhan penduduk bumi ini luar biasa cepat. Departemen Ekonomi dan Sosial PBB memproyeksikan jumlah penduduk akan berada antara 9 dan 10 miliar orang pada tahun 2050. Populasi dunia diperkirakan akan meningkat sebesar hampir 2 miliar orang dalam 30 tahun ke depan, dari saat ini 8 miliar menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050 dan dapat mencapai puncaknya pada hampir 10,4 miliar pada pertengahan tahun 2080an. Setelah itu jumlah manusia akan menyusut dan akan terus menyusut.
Jumlah total kelahiran secara global saat ini (2015–2020) adalah 140 juta/tahun, yang diproyeksikan akan mencapai puncaknya selama periode 2040–2045 sebesar 141 juta/tahun dan kemudian menurun perlahan menjadi 126 juta/tahun pada tahun 2100. Jumlah total kematian saat ini adalah 57 juta/tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 121 juta/tahun pada tahun 2100. Jadi jumlah yang lahir akan menurun tapi jumlah yang mati akan meningkat. Populasi Indonesia diperkirakan akan terus bertambah dan diproyeksikan mencapai 305 juta jiwa pada tahun 2035. Survei terbaru yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia akan menurun dari 1,17% pada tahun 2022 menjadi 0,4% pada tahun 2045. Indonesia sendiri adalah negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia. Ingat bahwa China bukan lagi negara dengan penduduk terbanyak saat ini. Saat ini Indialah negara dengan penduduk terbanyak di dunia dengan jumlah penduduk sebesar 1.434.010.000 orang. China sudah kalah banyak sebesar 3 jutaan orang.
Pertumbuhan populasi global mencapai puncaknya pada akhir tahun 1960an dulu, ketika rata-rata perempuan memiliki 4,5 anak, dan angka tersebut terus menurun sejak saat itu (ibu saya punya 11 anak sejak 1956 s/d 1974). Di banyak negara, kita melihat angka kesuburan menurun tajam setelah angka kematian juga mengalami hal yang sama. Kesuburan global saat ini telah turun menjadi sekitar 2,3 kelahiran per perempuan, hampir tidak melebihi angka penggantian sebesar 2,1 (jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi). Tampaknya tidak ada negara yang kebal terhadap ‘transisi demografis’ ini. Walaupun ada kesalahpahaman yang populer yang menyatakan bahwa masyarakat tradisional dan religius tidak terpengaruh. Sama saja. Mereka juga akan merosot jumlah kelahirannya.
Negara yang paling banyak menyusut jumlah penduduknya adalah : Bulgaria 22,5%, Lithuania 22,1%, Latvia 21,6%, Ukraina 19,5%, Jepang 16,3%, Portugal 10,9%, Italia 10,1%. Sedangkan negara yang pertumbuhan penduduknya paling besar adalah : Sudan Utara 4,65%, Nigeria 3,66%, Angola 3,33%, Benin 3, 29%. Semua negara peringkat 1 s/d 10 ini ada di benua Afrika. Beberapa di antaranya berada atau di dekat zona konflik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan demikian.
Menurunnya angka kelahiran didorong oleh faktor-faktor yang hampir sama di semua negara, terlepas dari perbedaan budaya: pendapatan yang lebih tinggi, pendidikan yang lebih baik bagi perempuan, dan akses terhadap kontrasepsi. Seperti yang ditulis oleh dokter asal Swedia, Hans Rosling: “Saat orang tua melihat anak-anaknya bisa bertahan hidup, saat anak-anak tersebut tidak lagi dibutuhkan untuk menjadi pekerja anak, dan saat para perempuan dididik, baik laki-laki maupun perempuan lintas budaya dan agama justru mulai melakukan hal-hal tersebut. Mereka mulai memimpikan memiliki anak yang lebih sedikit dan berpendidikan tinggi.” Saat ini sangat jarang ada keluarga yang ingin memiliki anak banyak sebagaimana orang tua kita dulu. Semakin makmur kehidupan manusia semakin sedikit anak yang mereka inginkan. Misalnya Tiongkok. Penurunan besar-besaran dalam keinginan perempuan untuk memiliki anak diperkirakan akan memangkas populasi secara drastis, yaiti turun 204 juta pada tahun 2054 dan 786 juta pada tahun 2100 menjadi hanya 633 juta. Bayangkan betapa berbedanya Tiongkok dengan jumlah penduduk saat ini yang kurang dari setengahnya. Negara ini masih akan menjadi negara dengan jumlah penduduk terpadat kedua di dunia – setelah India dengan perkiraan populasi 1,505 miliar orang pada tahun 2100, turun dari puncaknya sekitar 1,7 miliar pada tahun 2050an. Namun Pakistan (511 juta) dan Nigeria (477 juta) akan mengejar dengan jumlah penduduk terbesar di dunia (berapa jumlah penduduk Indonesia pada saat itu ya?). 😁
Tidak heran jika negara dengan perekonomian manufaktur terbesar di dunia ini bergerak cepat menggantikan tenaga kerja manual dengan robot, otomatisasi, dan teknologi canggih. Penyusutan populasi Tiongkok akan berdampak besar secara global. Hal ini mendorong PBB untuk merevisi perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2100 yang turun sebesar 700 juta dibandingkan satu dekade lalu menjadi hanya 10,2 miliar, turun dari puncaknya sebesar 10,3 miliar pada pertengahan tahun 2080an. Laporan PBB dengan jelas menyatakan: “Semua populasi mengikuti jalur yang sama menuju umur yang lebih panjang dan keluarga yang lebih kecil.”
Tiongkok adalah salah satu dari 63 negara dan wilayah dengan populasi yang menurun. Pada tahun 2054, daftar tersebut akan mencakup 48 negara lainnya, menyisakan 126 negara dengan populasi yang terus bertambah, termasuk India, Indonesia, Pakistan, Nigeria, dan Amerika Serikat.
Turunnya tingkat kesuburan sejauh ini merupakan kekuatan terbesar yang mengubah masyarakat di dunia. Pada tahun 1990, rata-rata jumlah anak yang dimiliki seorang perempuan adalah 3,31, namun saat ini, angka kesuburan adalah 2,25 dan dengan cepat berada di bawah 2,1, yaitu angka yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan populasi dunia. Laporan PBB mengidentifikasi seperlima dari semua negara sudah berada pada “kesuburan sangat rendah” – di bawah 1,4 – dengan Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan termasuk yang terendah. “Pada akhir tahun 2030-an, separuh perempuan di negara-negara dengan populasi sudah mencapai puncaknya akan terlalu tua untuk memiliki anak secara alami,” katanya.
Pada awal tahun 2070an, 80 persen perempuan di Hong Kong akan berusia di atas 50 tahun. Dampaknya terhadap keluarga akan sangat besar: selain melonjaknya jumlah keluarga yang tidak memiliki anak, hal ini juga berarti berkurangnya jumlah cucu, bibi dan paman, sepupu, keponakan laki-laki dan perempuan, serta berkurangnya jumlah pertemuan keluarga saat yum cha dan Tahun Baru Imlek.
Selain menurunnya tingkat kesuburan, ada tiga faktor yang berupaya keras mengubah masyarakat global: harapan hidup yang lebih panjang, urbanisasi, dan migrasi.
Selama tiga dekade terakhir, perbaikan dalam layanan kesehatan dan pengendalian penyakit telah meningkatkan angka harapan hidup sebesar 8,4 tahun di seluruh dunia menjadi 73,3. Meskipun pandemi ini telah mereda, PBB memperkirakan bahwa angka harapan hidup global akan mencapai 77,4 tahun pada tahun 2054, dengan lebih dari separuh populasi dunia hidup di atas usia 80 tahun. Pada tahun 2080, akan ada lebih banyak penduduk berusia 65 tahun ke atas dibandingkan penduduk berusia di bawah 18 tahun. Jika lansia didorong keluar dari dunia kerja ini akan memaksa mereka menjadi “beban” komunitas yang membutuhkan pensiun dan memicu meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Artinya penuaan populasi akan menjadi semakin bermasalah.
Mungkin kekuatan yang paling penting dalam mengelola perubahan demografi besar-besaran di masa depan, namun faktor politik yang paling kontroversial, adalah MIGRASI. Pada tahun 2054, menurut PBB, imigrasi akan menjadi pendorong terpenting pertumbuhan populasi di lebih dari 50 negara, termasuk Australia, Kanada, Qatar, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Kontraksi akibat emigrasi akan memberikan pengaruh yang signifikan di 14 negara dan wilayah lainnya – termasuk Hong Kong, dimana lebih dari 5 persen potensi kelahiran kemungkinan besar akan hilang karena emigrasi.
Menerima keniscayaan migrasi mungkin merupakan kunci dalam mengelola revolusi populasi yang seismik, meskipun permusuhan yang tajam dan xenofobia terhadap migrasi yang mendorong politik di AS, Perancis, Inggris dan banyak negara lainnya dapat membahayakan keberhasilan pengelolaan peluang yang timbul dari migrasi.
Kabar baiknya adalah bahwa transisi penting ini dapat memberikan bantuan penting ketika kita mencoba menahan pemanasan global dan mengurangi tekanan lingkungan akibat perluasan jejak kita di bumi. Stephanie Feldstein dari Pusat Keanekaragaman Hayati (Center for Biological Diversity) menulis dalam Scientific American bahwa berkurangnya jumlah pekerja dan konsumen merupakan hal yang baik: “Penurunan populasi hanya merupakan ancaman bagi perekonomian yang berbasis pada pertumbuhan.”
Intinya, pengurangan jumlah manusia itu mungkin tidak baik bagi negara tapi jelas baik bagi bumi. 😁
Balikpapan, 14 Agustus 2024
Satria Dharma