Kadang kehidupan seorang legenda sangat menderita sebelum ia bisa melepaskan diri dari penderitaannya. Tina Turner adalah contohnya.
Tina Turner (lahir Anna Mae Bullock; 26 November 1939 – 24 Mei 2023) adalah penyanyi, penari, penulis lagu, produser rekaman, aktris dan penulis buku dari Amerika Serikat. Ia sering disebut sebagai “Queen of Rock n Roll”. Ia telah menerima 10 anugerah Grammy Awards termasuk anumerta “Lifetime Achievement Awards”. Ia juga telah dilantik di “Grammy Hall Of Fame”, ” Rock & Roll Hall Of Fame”, “Hollywood Hall Of Fame” dan telah menerima medali emas kebebasan dari pemerintah Amerika Serikat pada Kennedy Center Honors. Ia menjadi salah satu solois wanita sukses di dunia dan telah menjual lebih dari 80 juta kopi di seluruh dunia. Karir musiknya sungguh menggetarkan…
Tapi sebelum menjadi begitu terkenal dan menjadi legenda ia mengalami kehidupan yang sangat pedih baik ketika ia masih anak-anak mau pun ketika bersama suami pertamanya.
Masa kecil Tina Turner diisi dengan pergulatan atas kemiskinan dan misteri. Ia diketahui membantu orangtuanya memetik katun di ladang sekitar Nutbush, Tennessee. Ibunya, Zelma, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari ayahnya, Floyd Bullock, sebelum mereka mengabaikan Turner di masa kecil. Tina Turner dan saudara perempuannya akhirnya diasuh oleh neneknya.
Tina belakangan mengalami masalah yang sama dengan sang ibu. Ia mengalami KDRT dari suami pertama sekaligus partner bermusiknya, Ike Turner, yang dinikahinya pada 1962. Di kala itu ia sudah memulai hubungan dengan Ike yang menceraikan istri kelimanya. Pasangan itu menikah pada 1962. Selama menikah, mereka memiliki empat anak. Pasangan Ike dan Tina Turner ini tidak mampu mencapai sukses yang lebih besar karena perilaku sabotase dan kekerasan yang dilakukan Ike, di mana justru Tina yang sering menjadi titik fokus kekerasannya. Tina sering mengalami pelecehan fisik dan emosional dari pasangannya selama bertahun-tahun. Tina terkadang memaksakan dirinya untuk bernyanyi dan menari setelah dipukuli.
Situasi rumah tangganya tanpa henti diliputi rasa takut dan kesakitan ketika Ike menyalahgunakan narkoba dan secara terbuka berparade di sekitar wanita simpanannya. Tina kemudian menceritakan dalam memoarnya pada tahun 2018, My Love Story, bahwa hubungan seksual dengan suaminya saat itu adalah “ekspresi permusuhan—semacam pemerkosaan—terutama jika dimulai atau diakhiri dengan pemukulan.”
Tina Turner mengatakan dia merasa “tidak hidup” saat menikah dengan Ike Turner. Dalam wawancara dengan PEOPLE pada bulan Desember 1981, penyanyi legendaris, yang meninggal setelah lama sakit pada usia 83 tahun, untuk pertama kalinya berbicara tentang pernikahannya yang penuh kekerasan dengan Ike dan bagaimana dia lolos darinya.
Tina mencoba bunuh diri pada tahun 1968. Setelah sembuh, ia semakin sadar akan kekuatannya, dengan visi untuk bertahan hidup dan akhirnya lepas dari pernikahan. Ia bertekad untuk harus keluar dari situasi yang sangat buruk tersebut.
“Saya menjalani kehidupan dalam kematian,” kata Tina. “Saya tidak eksis. Saya tidak takut dia membunuh saya ketika saya pergi, karena saya sudah merasa mati. Ketika saya keluar, saya tidak melihat ke belakang.”
Tina melarikan diri dari Ike pada tanggal 1 Juli 1976, saat pasangan itu sedang tur, menginap di Statler Hilton di Dallas. Ike telah memukulinya sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, kenang Tina kepada PEOPLE. “Saat kami sampai di hotel, sisi kiri wajah saya bengkak seperti wajah monster.”
Di hotel, Tina berkata, “Aku memijatnya dan berkata, ‘Bolehkah aku memesankanmu makanan, sayang?’ Lalu dia membuat kesalahan dengan pergi tidur.” Dengan hanya 36 sen di sakunya dan kartu kredit Mobil di dompetnya, Tina berlari melintasi jalan bebas hambatan di kegelapan malam menuju hotel lain.
Seorang teman membelikannya tiket pesawat pulang ke L.A. dan keluar dari kehidupan Ike. “Saya merasa bangga,” kata Tina kepada majalah PEOPLE. “Saya merasa kuat.”
Ketika Tina Turner meninggalkan suami pertamanya – yang bertindak sebagai bos dan penyiksa brutalnya – dia menyelinap keluar dari kamar hotel mereka di Dallas dengan satu pemikiran di benaknya: “Jalan keluar adalah melalui pintu dan melarikan diri.” Dari sana dia melarikan diri melintasi jalan bebas hambatan di tengah malam. Begitu dia memutuskan untuk keluar dari pintu itu, dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Saat dia mengajukan gugatan cerai, dia mengajukan permintaan yang tidak biasa. Dia tidak menginginkan apa pun: hak atas lagunya sendiri, mobilnya, rumahnya, uangnya. Tina tidak menuntut sama sekali. Yang dia inginkan hanyalah nama panggung yang dia berikan padanya – Tina – dan nama pernikahannya – Turner. Ini adalah nama yang membuat dunia mengenalnya, dan mempertahankan nama itu adalah satu-satunya kesempatannya untuk menyelamatkan kariernya. Ike Turner sendiri akhirnya meninggal karena overdosis kokain pada Desember 2007
Dengan menggunakan latihan Buddhisnya untuk membantu memusatkan dirinya, Tina terus tampil di tempat-tempat yang lebih kecil dan juga mendapati dirinya terlilit hutang. Membuat beberapa langkah jaringan penting dan menandatangani kontrak dengan manajer Roger Davies, dia bergabung dengan Capitol/EMI Records. Di usia pertengahan 40-an, Tina melakukan comeback musik pop dengan album Private Dancer tahun 1984 dan sejumlah single yang menyertakan judul lagu, remake dari “Let’s Stay Together” milik Al Green, “Better Be Good to Me,” dan “ What’s Love Got to Do With It.”
Pada 1983 lagu Tina bertajuk Let’s Stay Together menjadi awal bangkit kariernya. Albumnya, Private Dancer yang direkam di London, menghadirkan tujuh lagu hits yang masuk tangga nada dan meluncurkannya melakukan tur dunia.
Dia menikahi seorang eksekutif rekaman, Erwin Bach, setelah menjalin hubungan selama 27 tahun, dan meninggalkan kewarganegaraan AS untuk menjadi warga negara Swiss. Erwin Bach, seorang eksekutif musik Swiss yang 16 tahun lebih muda darinya. Selama 27 tahun Tina Turner dan Bach menjalin asmara. Dan selama 10 tahun Tina Turner dan Erwin Bach membangun rumah tangga hingga Queen of Rock and Roll mengembuskan napas terakhirnya di usia 83 tahun.
Pertama kali Erwin Bach bertemu Tina Turner pada 1985 di Bandara Dusseldorf, Jerman. Erwin Bach dikirim labelnya untuk menjemput sang penyanyi usai pulang konser. Pasangan ini langsung jatuh cinta saat pertama kali bertatapan.
Tina Turner dan Erwin Bach sempat menyembunyikan hubungan asmara mereka selama bertahun-tahun. Namun kisah cinta mereka dibuka dalam film dokumenter HBO 2021. Sang suami dianggapnya sebagai cinta sejatinya. “Kami saling memberikan kebebasan dan ruang untuk menjadi individu pada saat yang sama kami adalah pasangan. Erwin, yang merupakan kekuatan alam dalam dirinya sendiri, tidak pernah terintimidasi oleh karier saya, bakat saya, atau ketenaran saya. Dia menunjukkan kepada saya bahwa cinta sejati tidak membutuhkan peredupan cahaya saya sehingga dia bisa bersinar. Sebaliknya, kita adalah cahaya kehidupan satu sama lain, dan kita ingin bersinar seterang mungkin, bersama-sama,” tulisnya.
“Dia sangat tampan. Jantungku (berdetak kencang) dan itu berarti jiwa telah bertemu, dan tanganku gemetar,” ucap Tina dalam film dokumenter itu. Di tahun yang sama Tina Turner dan Bach memulai hubungan romantis. “Jatuh cinta dengan suamiku, Erwin, adalah latihan lain untuk meninggalkan zona nyamanku, terbuka terhadap hadiah tak terduga yang ditawarkan kehidupan,” tulisnya dalam buku.
Pada tahun 2016, setelah rentetan masalah kesehatan, ginjal Tina mulai gagal berfungsi. Sebagai warga negara Swiss, dia sudah mulai bersiap untuk bunuh diri dengan bantuan ketika suaminya turun tangan. Menurut Tina, suaminya berkata, “Dia tidak menginginkan wanita lain, atau kehidupan lain.” Erwin memberinya salah satu ginjalnya sebagai bukti cintanya pada Tina.
Begitulah kisah Tina Turner yang lahir dari keluarga petani pada tahun 1939 sebagai Anna Mae Bullock yang miskin dan terlantar. Ia meninggal sebagai Tina Turner di sebuah perkebunan mewah di Swiss: ratu rock ‘n roll dengan suaranya yang khas; seorang penari dengan potensi dan kemampuan yang luar biasa. Ia bangkit dan selamat dari pelecehan yang mengerikan dan menjadi pembela bagi orang lain yang berada dalam situasi serupa. Berubah menjadi seorang penulis dan aktris; seorang penganut Buddha yang taat; seorang istri dan ibu; seorang manusia dengan bakat langka dan ketekunan yang, melalui kecemerlangannya yang luar biasa, dan pada akhirnya menjadi legenda yang luar biasa.
Balikpapan, 4 Agustus 2024
Satria Dharma