Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya kenal baik dengan semua keluarganya. Ia dulunya seorang mahasiswi cantik yang menjadi rebutan banyak laki-laki, termasuk dosen mudanya. Dan kadang-kadang itu membuatnya jengah. Jadi suatu saat ia meminta saya datang ke rumahnya pada malam Minggu. Saya heran kok malah minta saya datang pada malam Minggu. Bukannya itu saat pacarnya datang ngapel…?!
Tapi ia bersikeras saya datang pas selesai Maghrib. Jadi saya datang dan bertanya apa maksudnya. Ternyata malam itu akan ada dua orang laki-laki yang ngotot untuk mengapelinya dan ia tidak bisa menolaknya terang-terangan. Dan saya diminta untuk pura-pura jadi pacarnya. OMG….! Sing bener ae rek…! Jadi saya ini diminta untuk jadi satpam…?! 😯
Kedua laki-laki yang dimaksud memang akhirnya datang hampir bersamaan. Mereka tampil jauh lebih keren daripada saya tentunya. Yang satu bawa motor cc besar yang sangat keren dan baru dan satunya malah bawa mobil. Penampilan orkaylah pokoknya…
Meski mereka datang dengan tujuan untuk bertemu dengan teman saya yang cantik ini tapi tampaknya Si Cantik ini pura-pura tidak peduli dan selalu ngajak saya ngobrol terus dengan topik yang hanya kami yang paham. Tentu saja suasananya menjadi awkward alias kikuk. Aroma persaingan untuk mendapatkan perhatian Si Cantik sangat terasa. Tapi saya yang tahu skenarionya malah geli dan berupaya mencairkan suasana dengan mengajak mereka ngobrol bersama. Saya berempati pada mereka para lelaki yang telah berupaya keras untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis pujaan tapi tidak mendapatkan sambutan yang sepadan. Ihik….! Saya bisa merasakan bagaimana gundahnya perasaan mereka. Tapi saya juga mengerti mengapa si cantik ini malah mengundang saya untuk menemaninya. Dia tidak merasa nyaman dengan kedatangan mereka berdua pada saat yang bersamaan dan dia butuh teman yang dia merasa nyaman dan terlindungi. Dan itulah sosok saya… Seorang laki-laki yang penuh wibawa dan jiwa kebapakan. Halaaah….! Satpam maksudnya. 😁
Setelah lulus dari Unair si cantik ini berkerja di bank dan tidak lama kemudian digondol oleh suaminya ke Ibukota, punya anak tiga, entah berapa cucunya.
Ketika kami bertemu waktu itu saya agak kaget melihatnya. Meski aura kecantikannya masih ada ia tampak sudah tua dengan kulit wajah yang jelas sudah kendor. Saya menatapnya agak lama dan berkata dalam hati, “Yes, it’s her. It’s still her in a much older face.” Saya lupa bahwa kami sudah berpisah puluhan tahun lamanya dan saya masih mengingat wajahnya yang cantik dulu ketika ia masih kinyis-kinyis. Now she looks old of course… Secantik-cantiknya seseorang dia akan tua juga akhirnya. Yo iki contohnya… Saya tertawa dalam hati. 🤭
Kami ngobrol dan ia bercerita tentang banyak hal. Ia lalu bertanya pada saya apakah saya masih ingat Ana keponakannya. Ya, saya masih ingat Ana si kecil yang tinggal di rumah Si Cantik ini. Kalau saya datang ke rumah Si Cantik justru dia yang selalu menyambut saya dan mengajak saya bermain seolah saya datang untuk ngapeli dia. Dia selalu ingin menguasai saya dan tantenya tidak diberi kesempatan untuk ngobrol dengan saya. Pernah suatu kali Si Cantik jengkel dan ngomong, “Om Satria ini temannya Tante, bukan temanmu. Om Satria datang ke sini untuk ketemu Tante, bukan untuk ketemu kamu.” 😬 Tapi Ana tidak peduli. Selama dia bisa menguasai saya ya dia kuasai. Akhirnya saya jadi baby sitter… 😂
Ana sekarang tinggal di LN dan punya beberapa resto, katanya. Dia dan suaminya sukses sekarang. Sayangnya sampai sekarang belum punya anak. Padahal usianya sudah 40 tahun lebih….
Saya kaget lagi…! Ana yang dulu saya kenal masih balita itu ternyata sekarang sudah berusia 40 tahun lebih…?! 😲
Lha kalau Ana Si Balita itu sekarang sudah 40 tahun lebih lha saya ini umur berapa…?! Ternyata saya ini SUDAH TUA toh….! Kok gak kroso yo… 😁
Time surely flies, kata orang. Waktu berlalu dengan begitu cepat sehingga tiba-tiba saja kita sudah ada di titik ini sekarang. Saya sendiri pelan-pelan merayap dan sudah berusia mendekati 70 tahun. Mosok sih gak kroso….! 😁
Saya melihat ke kaca dan mengamati wajah saya. Jelas bahwa saya sudah tampak tua dengan kerutan wajah dan mata yang tampak seperti dipahat. Hanya saja saya sudah familier melihat wajah tua saya sehingga saya tidak terlalu merasakan perubahannya. Untung saja Si Cantik waktu itu tidak muncul usilnya dengan bilang, “Kok kamu sekarang tampak tua banget sih, Sat…?!” 😲
“Emang kamu enggak…?!” 😁
Balikpapan, 5 Februari 2026
Satria Dharma
NB: Ini bukan foto Si Cantik. Tapi kira-kira sewelas rolas dengannya waktu masih muda. 😁