Seorang laki-laki yang sedang berjalan bersama istrinya tiba-tiba diteriaki oleh seseorang,”Hei Jancuk…! Tibakno awakmu sik urip yo… Tak pikir wis mati awakmu…” (Ternyata kamu masih hidup ya…! Saya pikir kamu sudah mati)). Orang itu lalu mendatanginya dan memeluknya erat-erat dan mereka tertawa berdua. Ternyata mereka adalah teman sudah lama yang tidak bertemu. Dan mereka pun ngobrol dan tertawa bersama dengan gayengnya.
Belakangan si istri bilang dia tidak suka dengan guyonan teman suaminya tersebut. Seolah temannya itu tidak suka kalau suaminya masih hidup. Si suami bilang bahwa ya memang begitu guyonan mereka dan temannya itu tidak bermaksud buruk.
Seorang professor bertemu dengan kawan lamanya yang mantan kepala dinas pajak dan mereka masuk café untuk ngobrol dan makan. Setelah selesai si mantan kepala dinas pajak mau membayar makan mereka tapi ditolak oleh si professor. “Ojok…! Aku ae sing mbayar. Duwitmu gak jelas…” (Jangan. Saya saja yang membayar. Uangmu tidak jelas.) Jelas sekali bahwa ia menyinggung temannya yang mantan kadis pajak itu. Tapi yang disinggung tidak marah dan tertawa saja. “Yo wis… Duit hasil ngajar mahasiswa iku biasane luwih berkah.” Dan mereka pun tertawa bersama.
Seorang pejabat berpidato di Kepulauan Seribu pada September 2016. Pejabat ini datang untuk meninjau program pemberdayaan budi daya kerapu. Ia lalu berkata bahwa program itu akan tetap dilanjutkan meski dia nanti tak terpilih lagi menjadi gubernur di pilgub Februari 2017, sehingga warga tak harus memilihnya hanya semata-mata hanya ingin program itu terus dilanjutkan. “Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, nggak pilih saya karena dibohongi (orang) pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu. Kalau Bapak Ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk neraka, dibodohin, begitu, oh nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu,” katanya.
Tak ada seorang pun warga yang mendengarkan pidatonya yang merasa tersinggung apalagi merasa bahwa ucapan pejabat tersebut adalah merupakan PENISTAAN AGAMA.
Belakangan setelah ucapan pejabat itu digoreng, direbus, digodog, dibumbui segala macam, akhirnya pada 4 November terjadi unjuk rasa anti-Ahok. Perkiraan kasar sekitar 75.000 hingga 100.000 orang -melibatkan pendiri FPI, Rizieq Shihab, dan sejumlah anggota DPR seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon- turun ke jalan menuntut agar Ahok diipidanakan dan dipenjarakan. Akhirnya sang pejabat yang bernama Ahok ini ditahan dan masuk penjara selama dua tahun.
Apa hikmah dari kejadian tersebut. Ahok masuk penjara selama dua tahun (dan ia berubah menjadi jauh lebih santun). Warga DKI Jakarta mendapatkan harapannya untuk dipimpin oleh seorang gubernur baru bernama Anies Baswedan. Tuhan membalik sebuah situasi menjadi mengenaskan bagi Ahok tapi menyenangkan bagi Anies Baswedan hanya gara-gara kalimat ‘dibohongi pakai ayat Al-Maidah’. Apakah benar bahwa itu sebuah penistaan agama? Yang jelas Ahok masuk penjara 2 tahun dan kehilangan kesempatan untuk jadi gubernur DKI lagi.
Beberapa hari yang lalu seorang da’i bernama Gus Miftah mengolok seorang penjual es yang berkeliaran di tempat dia melakukan pengajian dengan kata “Goblok.” Maksudnya adalah bergurau dan tampaknya semua yang hadir juga menganggap bahwa itu adalah guyonan karena mereka semua tertawa.
Tapi netizen tidak terima. Itu mah bukan guyonan. Itu jelas hinaan. Ia dihujat habis-habisan. Ia bahkan ditegur oleh Setkab Presiden Prabowo. Ia juga disindir oleh MUI dan para da’i lain. Medsos banjir dengan hujatan kepadanya.
Gus Miftah lalu mendatangi penjual es teh yang ia olok itu. Ia lalu minta maaf pada Sunhaji, si penjual es. Sunhaji pun senang kedatangan Gus Miftah. Dia bilang Gus Miftah telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung. “Senang. Saya merasa bangga kedatangan Gus Miftah. Tapi, saya tidak berbicara banyak karena masalah ini sudah selesai. Saya sudah memaafkan,” kata Sunhaji dengan berkaca-kaca.
“Saya dan Gus Miftah tidak punya masalah apa-apa. Tidak ada sakit hati,” imbuhnya.
Apa yang terjadi setelahnya…?!
Gus Miftah panen dan banjir hujatan, meski sudah minta maaf, sedangkan Sunhaji banjir dan panen simpati. Sunhaji mengaku mendapatkan banyak bantuan, mulai dari uang, dijanjikan akan diberi rumah, dibuatkan rekening bank, hingga tawaran untuk berangkat umrah bersama istri. Salah satu donatur yang memberikan uang sebesar Rp 100 juta untuk modal usaha dan melunasi tunggakan biaya sekolah dua anak Sunhaji yang masing-masing bersekolah di SMP dan SD.
Dan ini masih terus berlanjut. Masih banyak orang yang bersimpati dan ingin memberi sesuatu pada Sunhaji. Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor DIY, Abdul Muiz, mengangkat Sunhaji sebagai anggota kehormatan Banser DIY. Sunhaji atau siapa pun dari kita pasti tidak pernah tahu bagaimana sebuah peristiwa yang kita anggap sebagai sebuah hal buruk dan tidak menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi sebuah keberuntungan dalam semalam. Tuhan memang bisa mengubah nasib siapa pun dalam sekejap kalau Ia mau dengan cara yang aneh bin ajaib. 😎
Seorang teman yang saya ajak ngobrol soal ini bilang pada saya, “Kalau saya tahu bahwa digoblok-goblokkan oleh Gus Miftah bisa mengubah nasib dan menjadi berkah bagi keluarga maka saya akan minta Gus Miftah mengata-ngatai saya sebanyak yang ia mau. Silakan bilang saya goblok, kemplu, tolol, idiot, asu, bajingan, wong gendeng, silakan… Mau guyon atau pun serius tidak jadi masalah. Yang penting bisa mengubah nasib saya menjadi indah dalam semalam seperti yang ia lakukan pada Sunhaji.” Tentu saja saya ngakak mendengar harapan dan keinginannya itu. Harapan kok minta dipisuhi… 😂
Tampar aku, Mas… Tampar…! 😭
Surabaya, 5 Desember 2024
Satria Dharma