Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
MEMBELA AGAMA

“Membela agama kok dicap sebagai radikal?”

Sebuah protes muncul dalam percakapan dan saya langsung terhenyak. Ini kalimat yang bertentangan dan tidak masuk akal. Sama dengan mengatakan “Berbakti pada orang tua kok dicap sebagai radikal?” Kita tidak akan pernah mendengar kalimat semacam itu karena tidak pernah ada pertentangan antara ‘berbakti pada orang tua’ dan cap ‘radikal’. Itu artinya semua paham dan sepakat pada apa yang disebut ‘berbakti pada orang tua’ dan cap ‘radikal’.

Tapi tidak dengan frasa ‘membela agama’.

Frasa ini sebenarnya tidak dipahami dengan benar, banyak disalahpahami, atau sengaja dipergunakan dengan salah kaprah. Bahkan yang dimaksud dengan ‘agama ‘saja sekarang sudah kabur dan sangat sering disalahartikan. Sekarang ini konflik apa saja yang melibatkan umat Islam dengan mudahnya dianggap ‘membela agama’ atau frasa tersebut dipakai sebagai alasan. Coba lihat saja demo 212 yang berseri-seri itu. Dengan mudahnya mereka mengatakan bahwa itu dilakukan untuk ‘membela agama’.. Siapa yang menyerang agamamu sehingga kamu perlu mendatangi Monas untuk membelanya? Ahok! 😟
Astagfirullah hal adzim…! Jadi menyatakan ‘jangan mau dibohongi pakai ayat Al-Maidah’ adalah sebuah serangan terhadap agama dan berjuta-juta umat Islam harus berdemo berjilid-jilid di Monas untuk ‘membela agama’ yang sedang dinista?

Seorang teman baik saya dengan berapi-api menyebarkan video tentang joged di atas sajadah bekas yang viral tersebut. Menurutnya ini adalah sebuah penghinaan dan serangan terhadap agama. Ia lalu mengajak untuk ‘membela agama’ dan ketika saya protes dia bilang heran kok saya tidak merasa terhina dan tidak merasa perlu membela agama saya. Jadi sekarang sajadah bekas pun sudah menjadi ‘agama’ yang harus dibela. Kalau kita tidak membelanya maka akan dipertanyakan kadar keimanan kita. OMG…! 😟

Alasan ‘membela agama’ ini memang semakin lama semakin ngawur dan anehnya para ulama tidak mampu membuat jamaahnya paham apa sebenarnya yang disebut ‘membela agama ‘ itu. Justru sebaliknya sekarang ini banyak orang yang mengaku atau diaku ‘ulama’ yang berbondong-bondong menyesatkan umat dengan menggunakan alasan ‘membela agama’. Siapa saja yang tidak mau ikut kelompok yang mengaku ‘membela agama’ akan disebut Cicak sedangkan yang ikut membela disebut sebagai Burung Pipit. https://satriadharma.com/…/mau-jadi-cicak-atau-burung-pipit/

Baca juga:  NEK AKU BONEK KON KATE LAPO?

Coba pikir, jika ada orang yang membakar bendera HTI (yang diakui sebagai bendera tauhid oleh sebagian orang) dan ada yang mengecamnya maka kelompok manakah yang sedang ‘membela agama’? Jika ada pasukan yang mengobrak-abrik warung yang buka di bulan Ramadhan maka apakah pasukan tersebut sedang ‘membela agama’? Jika ada orang yang rela mengorbankan nyawanya dan bahkan satu keluarganya dengan mengebom gereja, apakah ia dan keluarganya tersebut sedang ‘membela agama’? Jika ada sekelompok orang yang membakar rumah seseorang karena memprotes kerasnya suara adzan maka apakah mereka dianggap ‘membela agama’? Jika ada umat Islam yang menghalang-halangi pembangunan gereja maka apakah itu dalam rangka ‘membela agama’? Jika ada umat Islam yang menyuruh bongkar makam umat lain di kuburan desa apakah itu dalam rangka ‘membela agama’? Jika ada jihadis yang meninggalkan keluarganya untuk ikut berperang di Suriah bersama ISIS apakah ia sedang ‘membela agama’? Jika ada orang-orang yang ingin menjungkirkan kekuasaan pemerintah di negaranya dengan dalih umat Islam harus berada dalam naungan khilafah apakah mereka sedang ‘membela agama’? Jika orang-orang Sunni memerangi Syiah atau sebaliknya, apakah mereka sedang ‘membela agama’? Ketika umat Islam memberontak pada Khalifah Ustman dan bahkan membunuhnya apakah mereka sedang ‘membela agama’? Ketika terjadi Perang Jamal dan Perang Shiffin antara sesama umat Islam pada jaman Khalifah Ali r.a. siapa yang ‘membela agama’ dan siapa yang ‘menyerang agama’? Ketika kita membela orang-orang Palestina dan mengecam Israel apakah kita merasa sedang ‘membela agama’? Ketika kita membela orang-orang Rohingya dan mengecam pemerintah Myanmar apakah kita merasa sedang ‘membela agama’? Ketika kita mengecam dan ingin memusnahkan kaum LGBT apakah kita merasa sedang ‘membela agama’? Think…! 🙏

Baca juga:  BANGUNLAH JENDRAL…!

Dua kubu sekarang sedang berhadap-hadapan pada pilpres ini. Dan kedua belah pihak berupaya mengklaim bahwa mereka sedang ‘membela agama’. Bahkan ada yang dengan yakinnya menggunakan istilah ‘ijtimak ulama’ dengan dalih sedang ‘membela agama’. Artinya mereka menuduh pihak yang dihadapinya adalah pihak yang ‘menyerang agama’. Bahkan baru-baru ini ada pernyataan (yang telah dibantah) yang menyatakan bahwa ‘kalau di 2019 umat Islam kalah, saya tak bisa bayangkan 2024 nanti Islam masih ada atau tidak’ seolah saat ini Islam sedang berperang entah dengan siapa dan kalau kelompok yang mengaku ‘membela agama’ ini kalah maka agama Islam akan punah. Astagfirullah hal adzim…! Padahal katanya yang menyebarkan isu ini adalah lulusan pondok pesantren top. 🙁

MEMBELA AGAMA
Sebetulnya semua orang yang berkoar-koar ‘membela agama’ itu adalah penipu. Jangan percaya sedikit pun pada mereka karena sebenarnya orang-orang yang benar-benar membela agama tidak akan berkoar-koar. Orang yang berkoar-koar dan mengajak umat Islam untuk ‘membela agama’ sebenarnya sedang mengajak untuk membela kepentingannya dengan menggunakan agama sebagai kedok. Itu sudah pasti. Lho kok yaqin (pakai qolqolah lagi)? 😊

Sebetulnya apa sih yang disebut ‘membela agama’itu dan apakah kita tidak perlu membela agama?

Lho, membela agama itu malah harus kalau kita mengaku sebagai seorang muslim. Kita bahkan diwajibkan membela agama dan itu ada tertulis dalam Alquran.
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian membela agama Allah, maka Allah akan memenangkan kalian dan mengokohkan kalian. Dan orang-orang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amalan-amalan mereka.” –(Muhammad: 7-8)

Tapi apa yang dimaksud dengan membela agama Allah ini? Jawabannya juga terdapat pada firman-Nya

Baca juga:  Jangan Tinggalkan Kami (Bagian 2)

“Sungguh Allah akan memenangkan orang-orang yang membela (agama)Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Mulia. Yaitu orang-orang yang apabila Allah teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang dari yang munkar. Kepada Allah lah kembali segala urusan.” (Qs. Al Hajj: 40)

Jadi ada empat syarat untuk disebut ‘membela agama’seperti tertulis dalam ayat tersebut, yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat dan memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang dari yang munkar. Jadi kalau umat Islam menegakkan salat maka ia sedang membela agama. Dan orang yang salat tidak akan pernah berkoar-koar bahwa ia sedang membela agama. Jika ia menunaikan zakat maka ia sedang membela agama. Jika kita mengajak kepada kebaikan maka itu artinya kita sedang membela agama. Tolong jangan diselewengkan menjadi ‘kalau membela Kyai Ma’ruf berarti membela agama’ lho ya! 😀 Kalau Anda mencegah seseorang melakukan keburukan dan kejahatan maka itu adalah membela agama. Dan itu semua tidak pernah kita gembar-gemborkan. Membela agama semacam itu memang tidak perlu dan tidak pernah digembar-gemborkan.

Jadi kalau sekarang ada orang yang ngakunya ulama atau ustadz kemudian mulai mengajak ‘membela agama’ maka waspadalah. Ingat empat kriteria membela agama dalam ayat di atas.

Sekian dan terima kasih. Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Amin!

Surabaya, 22 Pebruari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *