Seorang teman di salah satu WAG mengirim video tentang peringatan peristiwa serangan Hamas 7 Oktober di New York yang diganggu oleh sesama warga New York. Ia merasa terkejut dan menulis sbb:
“New York sudah tidak seperti dulu lagi. Ketika orang2 Yahudi mengenang keluarganya yang meninggal dibantai Hamas dalam tragedi 7Oktober 23, masih ada yang membuat gaduh dan mengecam acara peringatan itu. Mereka mengenang anaknya, orang tuanya, pasangannya, sahabatnya yang tak akan pernah pulang lagi. Bahkan untuk berduka pun harus diganggu. Buat kelompok pembela Hamas yang marah: sudah begitu butakah mata dan hati kalian sehingga menghormati korban pembantaian Hamas dianggap kejahatan. Di mana kemanusiaan yang selalu kalian teriakkan? 💔”
Rupanya ia tidak sadar bahwa dunia sudah berubah dan kebohongan sudah terungkap….
WARGA NEW YORK SUDAH SADAR.
New York sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang warga New York sudah SADAR dan TIDAK INGIN TERTIPU LAGI oleh propaganda Israel yang selama ini bersikap sebagai korban kejahatan dari Hamas. Sekarang warga New York sudah SADAR bahwa Israellah sebenarnya BIANG KEROK kejahatan dunia di berbagai negara, khususnya di Palestina.
Ketika tragedi 7 Oktober 2023 pertama kali pecah, fokus dan simpati publik AS sepenuhnya tertuju pada korban serangan Hamas. Namun, seiring berjalannya waktu, operasi militer masif Israel di Jalur Gaza justru memicu genosida modern. Puluhan ribu nyawa sipil melayang, kota-kota diratakan, dan krisis kemanusiaan akut sengaja diciptakan. Kekejaman yang melampaui batas ini mengubah total perspektif warga New York dan kota-kata besar AS lainnya. Simpati yang awalnya mengalir untuk Israel kini telah menguap, berganti menjadi kecaman keras dan gugatan moral yang tajam.
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa sebagian besar para pemrotes hari peringatan tersebut justru adalah orang-orang Yahudi New York sendiri.
New York merupakan rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di luar Israel. Namun, sikap komunitas ini tidaklah satu suara. Sebagian kelompok Yahudi berhaluan progresif (seperti Jewish Voice for Peace) justru bergabung dalam unjuk rasa pro-Palestina.
Kekejaman yang melampaui batas yang dilakukan oleh rezim Netanyahu selama ini telah mengusik nurani mereka dan mengubah total perspektif warga New York dan kota-kata besar AS lainnya. Simpati yang awalnya mengalir untuk Israel kini telah menguap, berganti menjadi kecaman keras dan gugatan moral yang tajam.
KAUM YAHUDI MUAK DENGAN NETANYAHU
Fenomena paling menarik sekaligus memukul telak narasi Israel adalah keterbelahan di internal komunitas Yahudi New York—rumah bagi populasi Yahudi terbesar di luar Israel. Komunitas ini tidak lagi satu suara.
Memang, sebagian kelompok tradisional masih membela hak Israel. Namun, kelompok Yahudi berhaluan progresif, seperti Jewish Voice for Peace (JVP), justru mengambil posisi frontal di garda depan unjuk rasa pro-Palestina. Didirikan sejak 1996, organisasi anti-Zionis Jewish Voice for Peace (JVP) ini kini menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1996 di University of California, Berkeley, oleh sekelompok mahasiswa Yahudi. JVP memiliki lebih dari 32.000 anggota aktif yang membayar iuran keanggotaan tahunan secara resmi. Berdasarkan laporan tahunan resmi organisasi, total jaringan gabungan antara anggota resmi dan simpatisan/pendukung yang terikat dalam gerakan mereka telah menembus lebih dari 750.000 orang.
Gerakan akar rumput ini ditopang oleh sekitar 35 hingga lebih dari 100 jaringan cabang lokal (chapters) yang tersebar di berbagai kota besar serta area universitas/kampus di seluruh wilayah Amerika Serikat. Di ranah digital dan media sosial, kampanye pengorganisasian massa JVP mampu menjangkau lebih dari 2 juta orang.
Dengan menggunakan identitas keagamaan mereka, kaum Yahudi progresif ini dengan tegas meneriakkan slogan “Not In Our Name” (Tidak Atas Nama Kami). Mereka tidak sudi dipakai nama Yahudinya untuk melakukan kejahatan kemanusiaan yang keji. Mereka menyatakan telah muak melihat kekejaman, kejahatan perang, dan tindakan genosida yang dilakukan oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu. Bagi mereka, membela kemanusiaan Palestina adalah bagian dari nilai-nilai luhur Yahudi itu sendiri.
SIAPA MEMBONGKAR KEBOHONGAN ISRAEL?
Media sosiallah yang membongkar kebohongan Israel. Selama ini, arus informasi dikuasai dan disaring ketat oleh media mainstream nasional yang pro-Israel. Untuk menutupi kejahatan perangnya militer Israel membunuh lebih dari 240 hingga 270 jurnalis dan pekerja media sejak pecahnya konflik regional pada 7 Oktober 2023. Mereka dibunuh oleh tentara Israel untuk menutupi kejahatan mereka dan agar kebenaran tidak terungkap
Namun kini, dominasi itu runtuh. Generasi muda AS tidak lagi mengandalkan televisi atau koran konvensional. Mereka melihat realitas perang di Gaza secara langsung, real-time, dan tanpa sensor melalui media sosial. Rekaman video bapak yang mendekap jasad anaknya, rumah sakit yang dibom, dan jeritan kelaparan menyebar tanpa bisa dibendung. Publik AS akhirnya sadar: selama ini mereka telah dibohongi oleh mesin propaganda Israel.
KEBANGKITAN GENERASI MUDA DAN GERAKAN KAMPUS
Data jajak pendapat dari lembaga bereputasi seperti Gallup dan Pew Research Center merekam pergeseran tren yang masif ini. Warga berusia di bawah 35 tahun, termasuk mahasiswa di New York, kini menjadi kelompok yang paling vokal menyuarakan solidaritas terhadap Palestina.
Gelombang protes berskala besar yang melumpuhkan universitas-universitas elite seperti Columbia, Harvard, dan UCLA membuktikan satu hal: isu Palestina bukan lagi sekadar urusan kebijakan luar negeri yang jauh di Timur Tengah. Isu ini telah menjelma menjadi isu keadilan sosial domestik di Amerika. Para aktivis muda memandang perjuangan Palestina setara dengan gerakan hak-hak sipil, anti-apartheid, dan keadilan rasial yang tertanam dalam sejarah pergerakan sosial mereka.
DUNIA BANGKIT MENENTANG ISRAEL
Aksi solidaritas global yang mengusung tema kemanusiaan dan dukungan untuk Palestina (Humanity Stands for Palestine / Stand with Palestine) digelar secara serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 7 Oktober 2026. Aksi ini menandai peringatan tiga tahun eskalasi konflik di Gaza sejak 2023.
Berdasarkan laporan pemantauan global dan dokumentasi aksi di lapangan, berikut adalah daftar beberapa negara dan kota utama tempat protes tersebut berlangsung:
1. Benua Amerika
Amerika Serikat: Berpusat di New York City (termasuk aksi massa di depan City Hall dan Union Square), Los Angeles (di depan Konsulat Jenderal Israel), serta kota-kota lain seperti San Jose.
Kanada: Demonstrasi massal berpusat di Montreal dan Toronto.
Meksiko: Aksi solidaritas berlangsung di ibu kota Mexico City (CDMX).
Kolombia: Digelar di ibu kota Bogota.
2. Benua Eropa
Inggris & Skotlandia: Ribuan orang turun ke jalan di London, Manchester, dan Edinburgh.
Jerman: Protes besar berlangsung di Berlin (diikuti sekitar 3.500 orang), Frankfurt, dan Hannover.
Belgia: Demonstrasi berpusat di ibu kota Uni Eropa, Brussels, di depan Kementerian Luar Negeri Belgia.
Prancis: Dipusatkan di kota Paris.
Italia: Massa berkumpul di berbagai titik kota, salah satunya di Alessandria yang diwarnai aksi teatrikal membawa kain kafan sepanjang 25 meter berisi nama-nama korban anak.
Spanyol: Berlangsung di Barcelona.
Belanda: Digelar di Amsterdam.
Irlandia & Irlandia Utara: Berlangsung di Belfast dan Dublin.
Swiss: Dipusatkan di kota Zurich.
Austria: Berlangsung di kota Wina (Vienna).
Yunani: Aksi solidaritas digelar di kota Athena.
3. Kawasan Timur Tengah & Afrika
Turki: Aksi massa berskala besar terjadi di ibu kota Ankara, Diyarbakir, serta pusat-pusat kota lainnya.
Yordania: Berlangsung di ibu kota Amman.
Maroko: Digelar di kota Marrakech dan Rabat.
Afrika Selatan: Berlangsung di Cape Town, di mana demonstran juga melakukan prosesi membawa kain kafan simbolis.
4. Benua Asia
Jepang: Aksi damai berpusat di distrik-distrik utama Tokyo.
Malaysia: Demonstrasi jalanan dilakukan dengan penyampaian memorandum di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuala Lumpur.
Thailand: Massa menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Israel di Bangkok.
Pakistan: Berlangsung di ibu kota Islamabad.
Secara total, lembaga pemantau mencatat ada lebih dari 350 agenda aksi protes dan solidaritas Palestina yang tersebar di sekurangnya 39 hingga 60 negara selama periode peringatan pekan tersebut. Tuntutan utama yang digaungkan secara universal di seluruh negara tersebut adalah desakan gencatan senjata permanen, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan penuh ke Gaza, serta penghentian suplai senjata global ke militer Israel.
Aksi solidaritas Palestina digelar di 60 negara pada Sabtu (10/10), dengan lebih dari 200 organisasi mengadakan 325 kegiatan di enam benua. Aksi ini dikoordinasikan Global Alliance for Palestine dengan dukungan Anti-Apartheid Movement (AAM) dan SANED. Dalam siaran pers yang dikutip dari Middle East Monitor, penyelenggara mengatakan mobilisasi internasional ini bertujuan menyuarakan dukungan bagi rakyat Palestina serta menolak genosida dan penjajahan Zionis Israel.
Di Eropa, tercatat 176 kegiatan di 24 negara, termasuk 64 aksi di Italia dan 38 di Spanyol. Demonstrasi juga digelar di sekitar Colosseum di Roma, Gerbang Brandenburg di Berlin, dan Kedutaan Besar Zionis Israel di Brussel. Di kawasan Oseania, terdapat 45 kegiatan di Australia dan Selandia Baru. Sementara itu, Amerika Latin dan Karibia mencatat 36 kegiatan di delapan negara, termasuk pawai besar di Santiago, Cile.
Di Afrika, sebanyak 32 kegiatan berlangsung di 10 negara, salah satunya pawai di Cape Town, Afrika Selatan. Di Asia dan Amerika Utara, aksi digelar di depan Konsulat Zionis Israel di Los Angeles, Amerika Serikat, serta Kedutaan Besarnya di Bangkok, Thailand.
KESIMPULAN: DUNIA MENOLAK KEBOHONGAN ISRAEL
Fakta ini menunjukkan bahwa propaganda dan kebohongan Israel yang dibangun selama puluhan tahun kini telah runtuh. Dinding propaganda yang dibangun puluhan tahun kini runtuh, menyisakan wajah asli Israel yang jahat dan penuh kebohongan yang semakin terisolasi di mata dunia.
Free…Free…Palestine….
Surabaya, 12 Oktober 2026
Satria Dharma