‘Lalar gawe’ adalah ungkapan dalam bahasa Suroboyoan yang berarti kurang kerjaan, perbuatan sia-sia, atau melakukan hal yang tidak penting dan tidak ada gunanya. Untuk saya maknanya lebih ke cari kerjaan yang tidak perlu dan buang-buang waktu.
Saya memang dianggap ‘lalar gawe’ karena terus menerus berusaha untuk mengajak semua pihak yang berwenang untuk membangun budaya baca warga, khususnya siswa di sekolah. Dan saya bahkan menawarkan diri pada sekolah dan kabupaten/kota mana saja yang mau saya bantu untuk membangun budaya baca siswanya dengan biaya saya sendiri. No need to pay me. I got money for this. Jelas saya ‘lalar gawe’ karena saya bukan pejabat yang memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk menggerakkan sekolah-sekolah (kecuali di sekolah saya sendiri). Saya ini pensiunan guru dan baru saja diberhentikan dari tugas saya di BAN PDM. Tapi saya merasa punya misi mulia (cis…! 😁) untuk terus menggerakkan dunia pendidikan agar membangun budaya baca siswanya.
Saya adalah penggagas program Gerakan Literasi Sekolah yang akhirnya diadopsi oleh Kemendibud dalam Permendikbud 23/2015 di bawah Anies Baswedan waktu itu. Sayang sekali Anies Baswedan tidak cukup panjang masa jabatannya sehingga peran saya keliling ke berbagai daerah untuk mempromosikan Gerakan Literasi Sekolah yang mewajibkan siswa untuk membaca 15 menit sebelum mulai pelajaran akhirnya kempes. Padahal dulu itu lumayan bagus respon dunia pendidikan atas program ini. Sekarang ini boleh dikata program ini sudah hilang dan TIDAK ADA lagi program pembiasaan atau pembudayaan membaca yang efektif di sekolah. Anak-anak sekolah sudah tidak punya jam membaca khusus lagi di sekolah, anak tidak diwajibkan lagi membaca sejumlah buku dan mendapat penghargaan jika berhasil membaca sejumlah buku tertentu.
Intinya TIDAK ADA lagi program pembudayaan membaca di sekolah. 😔
Repotnya adalah saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk mengubah situasi ini. Saya sudah putuskan bahwa saya tidak akan mengritik (apalagi menghujat) dan memilih membantu. Saya menawarkan bantuan kepada siapa pun yang ingin bersama-sama berupaya mengatasi masalah ini. Saya menawarkan solusi pada para pengambil kebijakan. https://www.facebook.com/share/p/1GKYKGJWPp/
Siapa saja sih yang sudah saya hubungi untuk menawarkan diri membantu program budaya baca selama ini?
– Di Kemendikdasmen saya sudah menghubungi Pak Mentri sendiri, dua wakil mentrinya, dan Dirjen Dasmennya. Dengan Pak Mentri saya sudah menyurat tapi ajakan saya tidak ditanggapi meski saya dapat surat terima kasih dari beliau karena saya beri buku. https://satriadharma.com/2026/07/02/surat-dari-mentri/
– Dua wamendikdasmennya saya hubungi dan datangi. Yang saya WA tidak membalas. Yang satu lagi saya tunggu lama di kantornya dan minta bertemu bicara barang 10 menit tapi ternyata ditolak dan dengan alasan saya tidak bikin janji dulu.
– Dirjen Dikdasmen lumayan baik dan bersedia menemui saya dan kami ngobrol sekitar 5 – 10 menit. Tapi sampai sekarang juga tidak ada tindak lanjut. Zonk…!
– Di Kemensos saya menemui para pejabat yang menangani Sekolah Rakyat. Mereka semua menyambut dengan ramah. Tapi setelah itu juga tidak ada tindak lanjut. At least they are nice. 😎 https://www.facebook.com/share/p/1GKYKGJWPp/
MENAWARKAN SOLUSI PADA PARA PENGAMBIL KEBIJAKAN
– Di Surabaya saya menghubungi Walikota saya di nomor khusus pengaduan. Saya menyurat resmi dan dibalas via WA. Tapi setelah itu juga tidak ada tindak lanjut meski saya WA berkali-kali.
– Saya menghubungi Muhammadiyah Ketua Majlis Dikdasmennya. Diterima dan ngobrol sebentar. Terus saya hubungi via WA tapi juga tidak ada tindak lanjutnya.
– Saya menghubungi dua bupati di Jatim via WA. WA dibalas tapi ajakan untuk bertemu tidak mendapat tanggapan. Padahal saya sudah bilang bahwa program saya ini tidak akan menggunakan APBD sama sekali dan saya tidak perlu diberi honor apa pun.
– Saya ingin menghubungi Mentri Agama dan menawarkan diri tapi saya tidak punya nomor HP-nya. Saya minta bantuan seorang keluarga yang kenal baik dengan beliau tapi juga tidak ditanggapi. Padahal saya hanya minta nomor HP-nya dan selanjutnya saya sendiri yang akan menghubungi.
– Saya dengan senang hati menerima tawaran memberikan seminar tentang Gerakan Literasi Sekolah ke berbagai sekolah yang mau menerima saya, baik itu di Surabaya, Tenggarong, atau pun Sumenep. Dan itu dengan biaya pribadi.
Coba lihat… Apa kurang lalar gawe saya ini. 🤣
Lha saya sendiri itu sering ‘menasehati’ diri sendiri dengan berkata, “Ngapain sih ente ngotot banget mau membantu mereka lha wong mereka itu tidak merasa perlu dibantu. Jangankan mau dibantu, lha wong ditemui ente aja mereka gak mau kok. Kok ya ente ini gak punya malu ngeyelnya setengah mati.” 😁
Kadang saya jadi sadar diri dan berpikir ‘iya juga sih…! Ngapain sih saya ngeyel cari kerjaan lalar gawe seperti ini. Apa sebenarnya yang saya cari? Wong legan kok golek momongan. Mengapa saya tidak menikmati saja masa pensiun saya seperti teman-teman yang lain? Why are you golek soro? Apa yang kau cari, Palupi…?!’ 🥴
Setelah ‘menghardik’ diri saya sendiri biasanya saya jadi bersyukur bahwa tidak ada yang bersedia menanggapi tawaran saya. Sungguh nyaman hidup sebagai seorang pensiunan yang uangnya banyak seperti saya ini. Inilah impian para pensiunan… 😁
Tapi tidak lama kemudian kalau saya baca-baca berita lagi dan melihat fakta betapa merosotnya mutu pendidikan kita, betapa rendahnya kemampuan membaca anak-anak kita, betapa apatisnya semua pihak dengan kenyataan yang ada, dst tiba-tiba menggelegak kembali semangat saya untuk turun gunung lagi cancut tali wondo. “Bangun dan lakukanlah sesuatu demi bangsamu…! Jangan berdiam diri saja seperti orang yang tidak ada gunanya…! Rambate rata hayo…!” 😬
Kembali saya menulis surat dan mengirim penawaran kesana kemari untuk membantu membangun budaya baca anak di sekolah. Hadeeeh….! 🥹
Pancen aku iki lalar gawe temenan kok…! Angel dikandani. 😂
Surabaya, 22 Agustus 2026
Satria Dharma
https://www.facebook.com/share/p/1HrAg64qNP/
Membangun Budaya Baca di Sumenep
https://www.facebook.com/share/p/1HYzyGyWEq/
GLS DI TENGGARONG
https://www.facebook.com/share/p/1DJ9f4gwgg/
GLS DI BALIKPAPAN
https://www.facebook.com/share/v/1BocySm7Vv/
SAFARI LITERASI