Beberapa teman di WAG yang saya pikir orang-orang terpelajar, intelektual, dan peduli pada kemanusiaan ternyata malah membela tindakan tentara Israel yang mencegat dan menculik para aktivis kemanusiaan yang ada di kapal Global Sumud Flotilla.
Alasannya karena para aktivis ini memasuki teritori Israel tanpa ijin dan punya niat buruk terhadap Israel. Mereka ini katanya cari penyakit sendiri dan layak diperlakukan demikian oleh Israel. Kok bisa…?! Kok mereka mengikuti jejak Permadi Arya yang semula menggebu-gebu membela umat Kristen yang tertindas di Indonesia lalu berbalik arah malah membela Israel yang justru penindas dan penjahat kemanusiaan terhadap bangsa Palestina. Kok bisa seorang yang mengaku Pembela Kaum Tertindas malah berbalik membela negara penindas dan penjahat keji seperti Israel? Sedang korsletkah otaknya…?! Baca di sini. https://satriadharma.com/2026/03/12/permadi-arya-munafik/
Padahal faktanya angkatan laut Israel mencegat kapal-kapal flotilla tersebut di perairan internasional di lepas pantai Siprus, dan secara ilegal menculik 430 peserta. Jadi mereka jelas tidak memasuki teritori Israel. Penumpang di kapal itu terdiri dari perwakilan dari 44 negara dan di antara mereka, ada aktivis berkebangsaan Indonesia.
Kapal Global Sumud Flotilla itu membawa bantuan kemanusiaan—makanan, obat-obatan, dan perbekalan bagi warga Palestina yang kelaparan dan menderita. Itulah tujuan mereka. Para aktivis kemanusiaan ini kemudian ditahan dan diperlakukan sebagai penjahat. Padahal mereka ini datang sebagai pekerja bantuan dan aktivis, bukan sebagai kekuatan militer. Misi mereka adalah kemanusiaan. Jadi bagaimana mungkin mereka dengan sewenang-wenang diculik dan diperlakukan dengan sangat tidak beradab oleh tentara Israel? Itu jelas melanggar hukum internasional dan Israel sangat tidak layak untuk dibela dengan alasan apa pun.
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video di mana ia terlihat mengejek para aktivis armada yang diculik. Tentu saja ini memicu reaksi keras dan memberikan pukulan telak bagi kampanye hubungan masyarakat Israel yang bernilai jutaan dolar, yang dikenal sebagai “Hasbara”.
Rekaman video, di platform media sosial X, menunjukkan Ben-Gvir tampak senang saat para aktivis dari Global Sumud Flotilla berlutut di lantai, ditutup matanya, dengan tangan terikat di Pelabuhan Ashdod. Seluruh dunia mengecam tindakan Israel. Bahkan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang kontroversial tersebut menjadi pejabat pertama dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang bergabung dengan kritik global terhadap Itamar Ben-Gvir. Huckabee menyampaikan kecamannya, tak lama setelah Italia, Prancis, Belanda, dan Kanada memanggil duta besar Israel terkait video Ben-Gvir tersebut.
Video para aktivis yang diseret di lantai tersebut mendorong beberapa negara – termasuk Italia, Prancis, Belanda, Kanada, dan Spanyol – untuk memanggil duta besar Israel, mengutuk perlakuan yang “tidak dapat diterima” dan pelanggaran martabat manusia.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyerukan pembebasan segera para aktivis tersebut dan mengkonfirmasi bahwa di antara mereka yang ditahan termasuk cucu Nelson Mandela, Nkosi Zwelivelile “Mandla” Mandela. “Afrika Selatan menyerukan kepada Israel untuk memastikan bahwa kargo penyelamat nyawa yang diangkut oleh armada ini sampai kepada rakyat Gaza, karena armada tersebut mewakili solidaritas dengan Gaza, bukan konfrontasi dengan Israel.”
Lalu bagaimana mungkin mereka yang menganggap dirinya terpelajar, intelektual, beragama, dan peduli pada kemanusiaan ternyata malah membela tindakan tentara Israel tersebut? Kemasukan racun apa sebenarnya di kepala kalian itu?
Surabaya, 22 Mei 2026
SRIGALA BERBULU DOMBA (2)
Seorang teman di WAG yang selama ini selalu tampil membela Israel kembali berkomentar membela Israel. Ia mengomentari masalah konflik Israel- Palestina dengan menyatakan bahwa “20 juta Bangsa Yahudi/ Israel kepingin punya negara, bangsa Arab kepingin Yahudi/ Israel musnah! Lalu Mau dikemanakan ke 20 juta Yahudi/ Israel itu?!? Jadi tebak saja, siapa/ pihak mana yang bermimpi/ bercita-cita/ berniat untuk melaksanakan genosida?”
Jadi menurutnya karena bangsa Arab pernah mengeroyok Israel dan MENANG maka tindakan genosidanya terhadap bangsa Palestina itu itu wajar. Bukankah bangsa Arab sendiri menurutnya mau melakukan genosida terhadap bangsa Israel?
Ini cara berpikir Srigala Berbulu Domba. Jika menurutnya keinginan atau niat bangsa Arab untuk melakukan genosida terhadap bangsa Israel itu SALAH dan TIDAK BISA DIBENARKAN lantas mengapa ia justru MEMBELA dan MEMBENARKAN tindakan genosida Israel terhadap warga Palestina? Di mana konsistensi moralnya? Yang baru NIAT disalahkan tapi yang sudah TINDAKAN malah dibenarkan. Bagaimana cara berpikirnya itu? Israel yang jelas-jelas melakukan genosida malah dibela. Pihak lain yang menjadi korban malah dituduh bermimpi/bercita-cita/berniat melakukan genosida.
Selain itu ia juga menambahkan berkata : Makanya dari awal aku bilang ngapain ngurusin bangsa ribuan kilometer dari sini, yang akan terus berperang sampai akhir jaman?
Sementara di negara kita sendiri, di sekitar Merauke, detik ini sebagian suku Papua lagi terancam terusir dari tanahnya yang akan dibuat Food Estate, Kebun Kelapa Sawit dan Kebun Tebu!
Ini justru yang lebih menunjukkan sikap seorang Srigala Berbulu Domba.
Yang namanya masalah kemanusiaan dan empati pada mereka yang tertindas itu TIDAK DIBATASI oleh suku, agama, ras, dan kebangsaan. Mau berada di mana pun kejahatan itu dan dilakukan oleh siapa pun, meski oleh saudara kita sendiri, wajib kita tentang dan lawan. Lha ini kok malah mengajak untuk tidak peduli pada penderitaan sesama hanya karena bukan bangsa sendiri. Apakah sesuatu baru disebut jahat dan kejam kalau dilakukan terhadap saudara sendiri sementara apa yang terjadi lebih buruk di luar tidak perlu kita pedulikan?
Surabaya, 22 Mei 2026
SRIGALA BERBULU DOMBA (3)
Di salah satu WAG saya kembali ada yang membela Israel dengan tindakan jahatnya terhadap para aktivis kemanusian dari 44 negara yang diculik tersebut. Dia menyalahkan para aktivis tersebut yang artinya dia MEMBELA TINDAKAN ISRAEL. Pernyataannya yang panjang lebar tidak perlu saya kutip semua. Saya kutip sedikit saja.
“Tapi itu tidak penting,
Mereka hanya pengen membuktikan ZIONIS itu jahat.”
Jadi saya tanggapi begini…
Dan memang terbukti bahwa zionis itu JAHAT SEKALI sehingga semua negara yang aktivisnya ditangkap MARAH dan bahkan MENGANCAM akan MENANGKAP Netanyahu sebagai balasannya.
Tapi anehnya ya…. ini aneh sekali… Dengan kejahatan yang sudah begitu NYATA di depan mata dan dinyatakan secara internasional oleh begitu banyak negara toh masih saja ada kaki tangan zionis di Indonesia yang justru TERANG-TERANGAN MEMBELA KEJAHATAN ISRAEl tersebut. Mereka tidak melihat hal tersebut sebagai kejahatan. Bahkan mereka tidak mau mengakui bahwa Israel telah melakukan genosida meskipun PBB sendiri sudah menyatakannya. Mereka menganggap Israel adalah PAHLAWAN karena berhasil mengalahkan negara-negara Arab dan berhasil menjajah Palestina.
“Karena kalau niat serius membantu,
Pasti dilakukan dgn cara² yg benar dan saluran Diplomasi yg proper….”
Pernyataan seperti ini sungguh NAIF dan KONYOL. Lha kalau memang mereka bisa membantu dengan mudah melalui jalur darat lalu untuk apa melakukan hal tersebut? Mbok ya mikir SEDIKIT SAJA karena saya tahu orang yang membela Israel itu sudah kesulitan berpikir yang benar.
Sebetulnya kalau mau berpikir sedikit saja dan mau MEMBACA BERITA (bukan membaca propaganda Israel) maka pasti akan tahu bahwa Israel MELARANG bantuan untuk warga Gaza. Berbagai organisasi kemanusiaan yang datang ke Gaza untuk membantu warga Gaza DILARANG beroperasi. Baca ini (sudah saya terjemahkan pakai Google translation).
*Israel: Ban on 37 aid groups makes life unbearable for genocide survivors in Palestine, say UN experts*
15 January 2026
Para ahli di PBB mengatakan hari ini bahwa penangguhan ijin puluhan organisasi di wilayah Palestina yang diduduki Israel merupakan pelanggaran hukum yang mencolok.
“Dengan memblokir bantuan, Israel memperburuk kondisi yang mengancam jiwa, dan meningkatkan potensi tanggung jawab pidana bagi para pemimpinnya,” kata para ahli tersebut.
“Melarang organisasi penyelamat jiwa untuk beroperasi di Gaza menandai fase baru dalam kebijakan yang membuat kehidupan tak tertahankan bagi penduduk yang sudah hancur akibat genosida,” kata para ahli tersebut. “Strategi ini akan menciptakan kondisi yang memaksa warga Palestina mengalami kekurangan kronis, mengancam kelangsungan hidup mereka sebagai sebuah kelompok dan semakin melanggar Konvensi Genosida – hal ini harus dihentikan.”
https://www.ohchr.org/…/israel-ban-37-aid-groups-makes…
Baca ini juga. Ini berita baru beberapa hari yang lalu.
May 19, 2026 10:00PM EDT | News Release
Gaza: Israel Curbs Aid, Kills Civilians During Ceasefire
Famine Risk Returns as Board of Peace Fails to Deliver
(Jadi bahkan petugas Board of Peace saja TIDAK BISA MENYALURKAN BANTUAN)
“Infrastruktur kemanusiaan yang menopang kehidupan di Gaza tetap dalam bahaya lebih dari enam bulan setelah perjanjian gencatan senjata pada Oktober 2025, kata Human Rights Watch hari ini. Saat Dewan Perdamaian bersiap untuk memberikan pengarahan kepada Dewan Keamanan PBB pada 21 Mei tentang laporan kemajuan enam bulan yang baru dikeluarkan, otoritas Israel merusak jalur bantuan kemanusiaan. Serangan Israel yang terus berlanjut telah menewaskan sedikitnya 856 warga Palestina dan melukai 2.463 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Dewan Perdamaian, yang diberi wewenang berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, bertugas menilai kepatuhan para pihak terhadap Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza. Memperluas dan mengamankan bantuan dengan cepat merupakan inti dari rencana tersebut, bersamaan dengan memulihkan infrastruktur sipil yang penting. Namun, volume bantuan tetap jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan dan jalur akses kemanusiaan yang penting telah berulang kali dihalangi, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
https://www.hrw.org/…/gaza-israel-curbs-aid-kills…
Jadi kalau mau sok hebat dengan mengatakan kenapa sih tidak lewat jalur darat dan diplomasi yang benar mbok ya MIKIR SEDIKIT dan juga BACA-BACA SEDIKIT agar tidak naif banget.
Jadi saya mau katakan sekali lagi kalau Anda MEMBELA ISRAEL yang begitu jahat terhadap bangsa Palestina maka itu membuat saya SANGAT MUAL.
Surabaya, 23 Mei 2026
SRIGALA BERBULU DOMBA (4)
Salah satu pola argumentasi yang sering muncul dalam diskusi mengenai Palestina adalah upaya mengaburkan fokus terhadap dugaan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan Israel dengan cara mengalihkan perhatian kepada kejahatan-kejahatan lain di dunia. Pola ini tampak, misalnya, dalam komentar seperti berikut:
“Yang mengherankan juga kok Iran yang menindas rakyatnya, Boko Haram yang menculik warga dan menjarah kok nggak dapat perhatian. Mungkin karena pelakunya bukan Israel jadi malas yang ngaku aktivis untuk peduli.”
Sepintas, komentar semacam ini tampak seperti ajakan untuk bersikap adil terhadap semua tragedi kemanusiaan. Namun dalam praktiknya, argumen tersebut sering berfungsi sebagai bentuk whataboutism — yaitu teknik mengalihkan pembicaraan dari satu persoalan dengan menunjuk persoalan lain. Akibatnya, fokus terhadap dugaan pelanggaran HAM yang sedang dibahas menjadi kabur, seolah-olah sebuah kejahatan kehilangan urgensinya hanya karena di tempat lain juga terjadi kejahatan.
Padahal, keberadaan berbagai tragedi kemanusiaan di dunia tidak menghapus tanggung jawab moral untuk menyoroti satu tragedi tertentu. Kepedulian terhadap Palestina tidak berarti menutup mata terhadap Iran, Boko Haram, atau tragedi lainnya. Sebaliknya, kepedulian terhadap satu kasus kemanusiaan justru dapat menjadi bagian dari komitmen universal terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Pola serupa juga tampak dalam argumen berikut:
“Simpelnya gini. Kalau orang boleh bela Palestina, boleh juga dong orang lain bela Israel. Menurut kalian benar, belum tentu menurut orang lain benar.”
Argumen ini biasanya dibungkus dengan gagasan “melihat dari dua sisi” atau cover both sides. Dalam konteks tertentu, prinsip tersebut memang penting, terutama dalam praktik jurnalistik. Namun prinsip itu tidak dapat diterapkan secara mekanis tanpa mempertimbangkan fakta, proporsi, dan dimensi kemanusiaan dari suatu peristiwa.
Dalam etika jurnalistik modern, netralitas bukan berarti menyamakan begitu saja antara fakta dan propaganda, antara korban dan pelaku, atau antara pelanggaran HAM dan pembenarannya. Bahkan dalam banyak kasus, media justru dituntut berpihak pada kebenaran yang dapat diverifikasi serta pada prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.
Karena itu, konsep bothsideism atau “keseimbangan palsu” sering dikritik ketika digunakan untuk:
menyetarakan fakta dengan misinformasi,
memberi legitimasi setara kepada propaganda dan data empiris,
atau mengaburkan tanggung jawab dalam kasus pelanggaran HAM berat.
Dalam isu kemanusiaan, keberimbangan tidak boleh berubah menjadi relativisme moral. Menampilkan dua sisi tidak selalu berarti menghasilkan pemahaman yang lebih adil, terutama bila salah satu sisi memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dan dituduh melakukan tindakan yang berdampak serius terhadap warga sipil.
Contoh lain yang sering muncul adalah komentar seperti ini:
“Saya bersimpati pada Palestina, jangan salah. Tapi apa yang dilakukan para aktivis itu cuma cari muka dan sok mau jadi pahlawan.”
Pernyataan seperti ini cenderung mereduksi tindakan solidaritas menjadi sekadar pencitraan pribadi. Tentu tidak semua bentuk aktivisme bebas dari kritik. Namun menyederhanakan keberanian dan pengorbanan para aktivis sebagai “cari muka” merupakan penilaian yang terlalu mudah.
Banyak aktivis mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan keselamatan mereka sendiri karena merasa ada tragedi kemanusiaan yang tidak boleh didiamkan. Mereka memilih bertindak karena meyakini bahwa solidaritas tidak cukup berhenti pada rasa simpati, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam posisi seperti itu, mungkin lebih bijak apabila kita berhati-hati sebelum merendahkan mereka yang telah mengambil risiko untuk memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap sebagai panggilan moral. Terlebih ketika sebagian besar dari kita hanya menyaksikan semua itu dari balik layar, tanpa harus menanggung konsekuensi apa pun.
Balikpapan, 24 Mei 2026