ARMENIA
Hari ini cuaca diperkirakan sekitar 15 derci. Ini cukup dingin tapi kami sudah mempersiapkan diri dengan jaket tebal (dan ternyata cuaca memang dingin karena hujan turun). Kami akan meninggalkan Tblisi, Georgia dan akan melewati perbatasan memasuki Armenia di Sadakhlo yang dilanjutkan dengan mengunjungi kota Dilijan Old City. Jarak tempuh berkendara dari Tbilisi ke Dilijan sekitar 185–200 km (115–125 mil) sedangkan dari Tbilisi ke Sadakhlo sekitar 70 km (sekitar 1. 5 jam). Perjalanan biasanya memakan waktu antara 3,5 hingga 5 jam, tergantung pada lalu lintas dan waktu penyeberangan perbatasan, yang terletak sekitar 90 menit di selatan Tbilisi. Kami juga melewati imigrasi dari Georgia ke Armenia.
IMIGRASI
Kami melewati dua pemeriksaan, pemeriksaan di imigrasi Georgia dan imigrasi Armenia. Kami harus menunjukkan visa negara masing-masing. Pemeriksaan berjalan lancar dan tidak ada drama. Hanya ada pertanyaan tentang obat yang dibawa oleh beberapa orang tapi tidak lama kemudian diloloskan. Saya sendiri lolos begitu saja tanpa ada pertanyaan. Mungkin ini karena amalan baik saya selama ini. 😁
Begitu keluar dari imigrasi kami langsung diajak untuk tukar uang ke mata uang Dram Armenia. Kami tukar uang 50 euro dan dapatnya 21.000 dram. Jadi kira-kira 1 Dram itu 50 rupiah.
ARMENIA
Pada tahun 1991, Armenia mendeklarasikan kemerdekaan saat Uni Soviet runtuh. Republik Armenia yang baru mengadopsi sistem parlementer pada tahun 1995. Armenia, negara pegunungan di Kaukasus, adalah negara pertama yang mengadopsi Kekristenan (301 M) dan memiliki sejarah kuno yang kaya, termasuk ibu kota Yerevan yang lebih tua dari Roma. Roma didirikan pada tahun 753 SM, tetapi pada tahun 782 SM, Raja Argishti I dari Urartu membangun benteng Erebuni. Benteng tersebut kemudian berkembang menjadi Yerevan, ibu kota Armenia modern. Dikenal sebagai “Negeri Batu” dengan pemandangan biara yang ikonik, Armenia menawarkan keamanan tinggi bagi wisatawan, budaya yang ramah, dan air minum yang terkenal segar.
Armenia menjadi negara pertama yang mewajibkan catur di sekolah, dan telah menghasilkan 44 grandmaster. Sekolah-sekolah di Armenia mewajibkan catur bagi semua siswa usia 6-8 tahun pada tahun 2011, dengan menginvestasikan $1,5 juta untuk melatih guru dan menyediakan peralatan. Saat ini, 98% anak-anak Armenia belajar catur selama 2 jam setiap minggu.
Armenia memiliki jumlah grandmaster per kapita tertinggi di dunia dengan lebih dari satu juta penduduk dan menempati peringkat ke-6 secara keseluruhan, hanya di belakang Rusia, AS, Cina, India, dan Ukraina (Federasi Catur Internasional, diakses 12 Desember 2024).
Sejarah negara Armenia bahkan lebih tua dari Roma, dan budayanya didasarkan pada ketahanan dan inovasi. Populasinya sekitar 3 juta orang dan mata uangnya adalah Drama. Perkiraan kurs Drama adalah sekitar 50 rupiah. Tapi sekali ngopi cappucino di cafe harganya 1.400 Dram alias 70 ribu satu cangkir. 😁
Berikut adalah fakta menarik lainnya tentang Armenia:
Negara Kristen Pertama: Pada tahun 301 M, Armenia menjadi negara pertama yang menjadikan Kekristenan sebagai agama resmi, dipimpin oleh Santo Gregorius sang Penerang.
Katedral Pertama di Dunia: Etchmiadzin Suci di Vagharshapat, dibangun tahun 303 M, dianggap sebagai katedral Kristen negara tertua di dunia.
Yerevan, Kota “Pink”: Ibu kota Yerevan didirikan pada 782 SM (29 tahun lebih tua dari Roma) dan banyak bangunannya terbuat dari batu vulkanik berwarna merah muda (tuff), memberinya julukan Pink City.
Negara Monoetnis: Sekitar 97% hingga 98% penduduknya adalah etnis Armenia, menjadikannya salah satu negara paling monoetnis di dunia.
Diaspora Besar: Populasi orang Armenia di luar negeri (diaspora) jauh lebih besar daripada populasi di dalam negeri (sekitar 3 juta).
Pusat Peradaban Tertua: Sebagai salah satu pusat peradaban tertua, Armenia kaya akan sejarah, benteng, dan situs warisan dunia UNESCO.
Dengan perpaduan sejarah, alam, dan budaya yang kuat, Armenia menawarkan pengalaman yang sangat unik.
Armenia juga memiliki warisan kuliner yang kaya, salah satunya adalah lavash. Roti pipih tradisional ini telah menjadi bagian penting dari budaya makan Armenia selama berabad-abad. Pada tahun 2014, UNESCO pun memasukkan lavash ke dalam daftar warisan budaya.
SADAKHLO
Sadakhlo adalah sebuah desa besar yang terletak di bagian timur Georgia, dekat perbatasan dengan Armenia. Desa ini dikenal karena lokasinya yang strategis, berfungsi sebagai titik transit utama antara kedua negara. Desa ini memiliki pos pemeriksaan perbatasan yang sibuk dan merupakan pusat penting untuk perdagangan dan perjalanan lintas batas. Terlepas dari pentingnya sebagai pusat transportasi, Sadakhlo telah mempertahankan pesona pedesaannya dan dikelilingi oleh pemandangan indah dan perbukitan yang bergelombang. Ini adalah desa terbesar di Georgia dan memiliki sejarah yang kaya sejak abad ke-5. Pengunjung dapat menjelajahi arsitektur tradisional desa, mencicipi masakan lokal, dan menikmati kegiatan mendaki dan aktivitas luar ruangan lainnya di daerah sekitarnya.
DILIJAN OLD CITY
Dilijan, sebuah kota yang menyenangkan, terletak sekitar 90 kilometer di timur laut Yerevan. Kota pegunungan yang berada di tepi Sungai Aghstev ini, dengan iklim yang indah dan lingkungan yang tenang, menawarkan liburan yang damai dan tak terlupakan bagi para wisatawan. Sering disebut sebagai “Swiss-nya Armenia”, kota ini dikelilingi oleh hutan lebat dan pemandangan pegunungan yang mempesona.
Keindahan alam yang sangat indah semakin diperkuat oleh jalan-jalan sempit yang berliku-liku dan rumah-rumah kuno yang dihiasi atap genteng tambal sulam dan balkon kayu berukir. Pemandangan menawan ini semakin lengkap dengan suara gemericik sungai yang mengalir lembut, aroma masakan lokal yang baru disiapkan, dan keramahan hangat penduduk kota, sehingga tidak mengherankan mengapa Dilijan menjadi tujuan wisata yang populer di kalangan penduduk lokal maupun wisatawan.
Dilijan adalah perpaduan menarik antara yang lama, yang baru, dan periode di antaranya, ketika Soviet berkuasa. Kota ini telah lama menjadi tempat peristirahatan bagi para pembuat film, komposer, seniman, dan penulis yang ingin menemukan kembali inspirasi mereka.
Dilijan hujan gerimis ketika kami tiba sehingga kami membatalkan agenda jalan-jalan dan memilih untuk langsung masuk ke hotel saja.
Kami menginap di Ani Forest Hills and Resort Hotel Dilijan yang masih baru. Kamarnya tidak terlalu besar tapi menyenangkan.
Waktunya beristirahat lebih lama… 😁
Rabu, 13 Mei 2026
Satria Dharma





















