Seorang teman FB berkomentar di salah satu posting saya tentang betapa mengerikannya fitnah yang bersliweran di dunia nyata mau pun maya saat ini. Ia lalu menasihati saya begini:
“Jgn juga budak cinta berlebihan mas. Satria Dharma aku dulu pengagum jkw duluan dr kamu. Juga lbh gimana gitu berjuang utk jkw Tp bisa sadar juga kemudian.”
Jadi saya dianggap cinta berlebihan kepada Jokowi. Buktinya kan saya selalu membelanya dalam posting-posting dan komentar saya. Ngaku saja, bro. Gak usah ngeles. Setelah itu bertobatlah. Jangan sampai penyesalanmu terlambat dan akhirnya akan kecewa yang sangat seperti saya, begitu kira-kira maksudnya. 😁
Meski belum pernah ketemu dengan beliau tapi saya merasa bahwa teman maya saya ini orang baik. Lha buktinya mau menasihati saya agar sadar dan bertobat. Dia juga tidak pernah memaki-maki atau pun menyemburkan hujatan dan kebencian yang berlebihan. Dia hanya marah pada Jokowi yang dulunya pernah ia kagumi tapi kemudian ternyata tidak seperti yang ia kira. Ia orang yang kecewa tapi jelas bukan orang jahat. Ia orang baik yang kecewa. Ia bukan sejenis The Joker yang bisa berubah menjadi jahat karena kecewa dengan dunia.
Jadi saya balas komentarnya begini:
“Pak HS, I feel you Pak. Saya bersyukur tidak pernah jadi seperti Anda yang pernah berjuang untuk Pak Jokowi dan kemudian kecewa. Saya ini apalah…😁 Cuma pengamat belaka. Sekedar info ya Pak. Kemarin itu saya milih Ganjar dan akhirnya terpaksa masuk ke dalam golongan 16%. Tapi saya tidak menyesal apalagi misuh-misuh. Rakyat lebih memilih Prabowo-Gibran dan saya harus menerima fakta tersebut. Lha kenapa dong saya membela Jokowi terus? Ya karena Jokowi tidak pernah mau membela dirinya meski dihajar dengan berbagai fitnah yang keji. Apbolbu… Lagipula saya punya banyak waktu karena sudah pensiunan. 😁 Tapi, frankly speaking, saya memang ngeri melihat begitu banyaknya semburan fitnah, hujatan, dan kebencian yang bersliweran di dunia Maya. And I think I need to do something. And this is what I think I can do. 🙏😁
Semoga jawaban saya ini tidak membuatnya semakin jengkel pada saya. 😎
Ada yang tidak saya sampaikan mengapa saya selalu membela Jokowi kepadanya. Begini ceritanya :
Dulu waktu saya masih remaja pernah kejadian sebuah mobil menyerempet sepeda di jalan daerah kami. Sepeda dan pengendaranya jatuh dan sopir mobilnya keluar. Waktu itu kami sedang ada di lokasi dan dengan segera menghambur mendatangi kejadian. Ternyata sopir mobil ini seorang keturunan China yang jelas orang kaya dengan dandanan dan penampilannya yang mewah. Waktu itu kampung kami masih banyak warga kaypangnya dan masih iri dengan orang kaya. Apalagi dengan keturunan China…! 😁
Pada saat itu ada seorang warga kampung kami yang preman yang sedang nongkrong juga. Preman ini sangar dan belum lama keluar dari penjara karena perbuatan kriminalnya. Begitu melihat yang keluar dari mobil adalah seorang keturunan China ia langsung berseru dengan keras, “Cino hajar ae…!”. Saya kaget dan sadar bahwa kalau orang-orang terprovokasi dengan hasutan preman ini maka pemilik mobil ini pasti akan dipukuli dan dijarah barang-barangnya. Seperti begitulah kira-kira skenarionya.
Saya langsung melompat dan berdiri di antara Cino tadi dengan warga yang berkerumun. “Ojok (jangan)…! Ayo diselesaikan dengan baik-baik.” kata saya. Si preman langsung marah pada saya yang berusaha untuk mencegah. “Ojok melok-melok kon. Tak hajar mesisan. (jangan ikut-ikutan kamu. Kuhajar juga kamu)”. semburnya dengan marah dan mata memerah. Tapi saya tidak peduli. Saya segera mendatangi si pengedara sepeda yang ternyata tidak apa-apa dan hanya sedikit kaget. Sepedanya sedikit baret saja. Nothing serious. Saya segera berkata pada si Cino tersebut, “Tolong beri dia uang untuk berobat dan memperbaiki sepedanya.” dengan suara keras agar semua dengar. Dengan demikian saya mengalihkan situasi dari ‘hajar ae Cino’ ke situasi ‘ganti rugi yang layak’.
Si pengendara mobil segera mengeluarkan uang dan kemudian segera diberikan kepada si pengendara sepeda. Si pengendara sepeda agak takjub melihat perubahan situasi tersebut. Kok tiba-tiba ia dapat uang yang lumayan banyak. Kemalangan apakah yang menimpaku sehingga Tuhan mengirim Cino ini untuk menyerempetku dan memberiku uang? Mungkin begitu pikirnya. 😂
Situasi langsung berubah menjadi ‘win-win solution’ dan si preman tidak mendapatkan pendukung untuk melanjutkan aksinya memuaskan kebenciannya terhadap Cino. 😁
Mengapa saya kok kemendel sok berani melawan si preman sangar ini? Kalau dia memukul saya jelas tidak akan ada yang membela saya. Saya akan nyonyor. Tapi entahlah… Ada sesuatu dalam hati saya yang selalu mendorong saya untuk melakukan hal-hal semacam itu. Sumprit saya tidak pernah ingin tampak heroik atau patriotik. Saya malah tidak pernah mau ikutan demo-demo seperti mahasiswa sekarang yang tampak gagah melawan aparat dengan jaket almamaternya tersebut. Lha waktu mahasiswa saya juga sudah jadi guru PNS. Kan ya malu kalau ada guru ikut-ikutan demo mahasiswa. Mau datang lihat saja emoh. Saya lebih baik gegoleran di kamar saya sambil mendoakan semoga Indonesia baik-baik saja. 😁
Balikpapan, 25 Agustus 2024
Satria Dharma
Terima kasih