Andi adalah seorang laki-laki berusia setengah baya yang sudah berkeluarga. Ia punya dua anak tapi ia sudah lama tidak bekerja dan juga tidak punya penghasilan. Selama ini dia bekerja serabutan sambil jadi makelar apa saja yang bisa memberinya penghasilan. Tentu saja itu tidak memberinya penghasilan yang cukup untuk dirinya sendiri mau pun untuk anak-anaknya. Hidupnya sangat susah. Untungnya anak-anaknya dihidupi oleh keluarga istrinya almarhumah. Tapi ketika anak-anaknya harus bersekolah dan butuh biaya jelas itu membuat kepalanya cekot-cekot. Ia ingat ada seorang temannya yang menikahi janda beranak dua dan lalu punya anak sendiri juga merasakan beratnya kehidupan. Karena tidak tahan setiap hari dimintai nafkah, ia lalu meninggalkan istri dan anak-anaknya tanpa pesan. Ia menghilang begitu saja. Tapi Andi tidak bisa bersikap begitu. Bagaimana pun ia sayang pada anak-anaknya. Ia hanya tidak mampu memberi mereka kehidupan yang layak. Itu memang kesalahannya tapi meninggalkan mereka begitu saja adalah kesalahan yang lebih fatal. “It’s not me.’” kata Andi.
Andi punya kerabat yang sering ia mintai uang jika sangat terdesak. Kerabatnya ini selalu memberinya jika ia meminta. Tapi Andi juga paham bahwa ia tidak bisa menjadikan kerabatnya ini sebagai ATM yang bisa ia mintai setiap saat. Ia juga punya rasa malu. Jadi ia hanya akan minta bantuan jika benar-benar sangat terdesak meski setiap hari sebenarnya hidupnya sudah terdesak. Kerabatnya ini tahu bahwa ia menganggur dan punya anak usia sekolah. Jadi ia rutin membantunya setiap bulan.
Suatu ketika Andi sudah tidak tahan lagi dengan situasi sulitnya tersebut. Ia lalu minta tolong pada kerabatnya untuk mencarikan pekerjaan APA SAJA yang penting bisa memberinya penghasilan rutin setiap bulan. Kerabatnya ini lalu bertanya apakah Andi mau bekerja menjadi cleaning service. Meski Andi ini sebenarnya sarjana agama tapi karena tidak ada lowongan bagi sarjana agama seusia dirinya makai ia sadar bahwa ia tidak punya pilihan. Gengsi sudah lama ia buang. Ia butuh survive karena wajah anak-anaknya yang butuh biaya macam-macam selalu membayang-bayanginya.
Ketika Andi menyatakan bersedia menjadi cleaning service maka ijazah aliyahnya yang ia pakai untuk melamar. Alhasil Andi diterima dan kini ia sudah bekerja sebagai seorang cleaning service. Dengan pekerjaan dan penghasilan yang diperolehnya maka sedikit demi sedikit Andi merasa hidupnya kembali. Ia merasa seperti hidup kembali setelah mati bertahun-tahun. Hidup dengan dua anak tanpa pekerjaan dan penghasilan dan selalu mengharapkan bantuan dan belas kasih dari keluarga dan teman-teman sungguh membuatnya seperti orang tenggelam. Ketika dibantu ia merasa keluar dari kolam tapi ketika bantuan habis ia merasa tenggelam lagi dan butuh tangan untuk meraihnya keluar lagi. Andi bukan orang yang malas. Ia ingin bekerja dan selalu mencari-cari apa yang bisa ia kerjakan dan bisa memberinya penghasilan. Tapi bekerja serabutan seperti itu jelas membuat hidupnya semrawut. Kadang ada pekerjaan dan penghasilan kadang tidak sama sekali. Dan kehidupan seperti itu sungguh berat.
Jadi ia sangat bersyukur ketika ia diberi pekerjaan tetap sebagai cleaning service meski ia seorang sarjana agama. Apa pun pekerjaan yang bisa memberinya penghasilan tetap adalah karunia baginya. Sekarang harga dirinya kembali kebagai seorang manusia dan sebagai seorang ayah. Ia kini bisa menegakkan kepalanya kepada tetangga-tetangganya yang sudah lama melihatnya tidak bekerja. Sejak pagi ia sudah keluar rumah dengan menggunakan seragam kantornya yang terasa seperti ‘passport to the world’ baginya. Seragam kerjanya adalah bukti bahwa ia sekarang adalah seorang karyawan yang berpenghasilan tetap dan bukan lagi laki-laki pengangguran yang setiap hari mengetuk pintu mencari pekerjaan yang bisa memberinya penghasilan untuk makan sehari-hari.
Bagi Andi, kerabatnya yang memberinya pekerjaan adalah pahlawannya. Pahlawan adalah orang yang membuat hidupnya kembali dengan percaya diri yang tumbuh kembali sedikit demi sedikit. Sekarang ini anak pertamanya bahkan sudah kuliah dan anak keduanya mondok dipesantren. Baginya ini terkadang seperti mimpi. Dan itu semua terjadi karena ia mendapat pekerjaan dan penghasilan tetap.
Kisah seperti Andi ini sebenarnya sangat banyak di sekitar kita. Sangat banyak kepala keluarga yang menganggur dan butuh pekerjaan yang bisa memberi mereka penghasilan tetap. Tapi mereka jelas akan kalah bersaing dengan anak-anak muda trengginas yang baru lulus dari sekolah menengah dan juga ingin mendapatkan pekerjaan agar punya penghasilan. Mereka semua mendambakan adanya para pemberi pekerjaan. Para pemberi pekerjaan pada hakikatnya adalah para pahlawan yang dibutuhkan oleh mereka yang butuh pekerjaan.
Jadi para pengusaha apa pun itu yang bisa memberi pekerjaan baik kepada para pensiunan yang masih butuh pekerjaan dan penghasilan mau pun kepada para lulusan sekolah dan sarjana sebenarnya adalah para PAHLAWAN yang nyata.
Ungkapan bahwa “para pemberi pekerjaan adalah pahlawan” memiliki makna bahwa individu atau entitas yang menciptakan lapangan kerja, terutama dalam konteks ekonomi dan sosial, memiliki peran penting dan layak kita apresiasi. Mereka berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan mata pencaharian dan peluang ekonomi. Pemberi kerja, baik itu perusahaan besar maupun usaha kecil, membuka peluang bagi individu untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Ini adalah kontribusi nyata dalam mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Setiap pekerjaan yang tercipta berkontribusi pada perputaran roda ekonomi. Karyawan yang bekerja akan memiliki daya beli, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi. Selain itu pemberi pekerjaan tidak hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi individu untuk mengembangkan diri, mendapatkan keterampilan baru, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Jadi pada hakikatnya para usahawan yang bisa memberikan pekerjaan kepada semakin banyak orang maka semakin besar jasanya bagi bangsa ini. Orang yang bisa memberikan pekerjaan pada satu orang adalah pahlawan bagi satu orang tersebut dan keluarganya. Semakin besar lapangan kerja yang diciptakan oleh usahawan tersebut semakin besar juga jasanya bagi warga, bangsa, dan negara.
Dengan tulisan ini saya hendak mengingatkan kepada semua orang bahwa orang-orang seperti Aguan yang bisa menciptakan pekerjaan bagi ribuan orang adalah pahlawan sesungguhnya. Ribuan orang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tetap bagi keluarganya berkat hasil karya Aguan. Saya sungguh lebih menghormati orang-orang seperti Aguan ketimbang kepada orang-orang yang berlagak nasionalis, agamis, idealis, akademis, tapi tidak pernah menciptakan pekerjaan bagi siapa pun kecuali memprovokasi, menghujat, dan mengajak-ajak orang untuk membenci orang-orang seperti Aguan. Orang-orang semacam itu sebenarnya hanya sampah saja. 🥺
Balikpapan, 25 Juli 2025
Satria Dharma