Ketika saya berjalan di sepanjang jalan Sudirman Bandung dan melihat para tunawisma, baik yang masih tidur mau pun yang sudah bangun siap menyambut hari, saya merasa sedih. Mereka tidur di pinggir jalan begitu saja beralaskan apa saja dan bahkan ada yang tidak menggunakan alas apa pun. Mereka tetap tidur dengan lelap meski hari sudah cerah dan para pedagang pasar tumpah sudah sibuk dengan dagangan mereka. Semoga mimpi mereka indah… ❤️
Saya lalu ingat pengalaman bertemu dengan tunawisma di India. Waktu itu Januari 2012, musim dingin di India. Kami sedang mengadakan kunjungan ke kampus-kampus dengan difasilitasi oleh Atase Pendidikan India pada waktu itu, almarhum Pak Son Kuswadi.
Suhu udara di musim dingin di Delhi bisa mencapai 4 derajat Celsius dan cuaca benar-benar dingin begitu kami keluar dari hotel. Rasanya seperti ditampar dengan seember air es. Meski demikian ternyata ada 3 juta penduduk di India yang tidak punya rumah dan sebagian besar terpaksa tidur di trotoar jalan dalam gubug-gubug terpal. Gubug-gubug ini berjajar di trotoar-trotoar jalanan yg kami lewati. Sebuah pemandangan yg mengejutkan sekaligus mengiris hati. New Delhi adalah ibukota India dan seperti ini parahnya situasi tunawismanya. Angka 3 juta itu saya peroleh dari koran ‘The Times of India’ yg diantar ke kamar (tapi berdasarkan data tahun 2011 hanya tinggal 1.770.000. Data ini jelas tidak bisa dipercaya karena katanya terdapat 18 juta anak jalanan di India, jumlah terbesar dibandingkan negara mana pun di dunia, dengan 11 juta diantaranya berada di perkotaan. Terakhir, lebih dari tiga juta pria dan wanita kehilangan tempat tinggal di ibu kota India, New Delhi)
Saya berpapasan dengan seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya sedang menghangatkan tubuh mereka di api unggun di luar tenda mereka. Udara terlalu dingin di dalam tenda gubug mereka dan mereka harus menghangatkan tubuh diperapian. Ketika saya bertanya pada pengantar kami mengapa mereka tinggal di gubug-gubug terpal di pinggir jalan lalu dijawab bahwa mereka mungkin saja adalah keluarga dari pekerja di sekitar kompleks ini. Karena tidak mampu membayar kontrak rumah di Delhi jadi mendirikan tenda adalah pilihannya. Tapi ini di trotoar jalan besar… Ini wajah dari Delhi, ibukota India. 🥺
Jika masalah tempat tinggal yg merupakan kebutuhan dasar hidup saja belum bisa diperoleh dan masih merupakan masalah yg akut bayangkan masalah-masalah sekunder lainnya seperti kebersihan, ketertiban, disiplin, keindahan, estetika, dll. Di mana-mana kotoran berserakan dan seolah tak ada petugas kebersihan yg mengurusi masalah kebersihan ini. Sopir bajay dengan enaknya berhenti dan kencing di pinggir jalan di tengah keramaian lalu lintas. Kencing di sembarang tempat rupanya merupakan kebiasaan bagi penduduk Delhi dan bisa kita temukan sepanjang perjalanan kami. Itu dulu di tahun 2012. Entah kalau sekarang apa masih demikian.
Saya tidak pernah melihat yang seperti ini di Indonesia. Bahkan sampai hari ini…. Saya sungguh merasa beruntung Indonesia tidak seperti India dalam hal tunawisma ini. Dalam banyak hal kita memang harus bersyukur tinggal di Indonesia. 🙏😔
Apakah tidak ada tunawisma di Indonesia? Tentu saja ada. Berapa jumlah tunawisma di Indonesia? Hanya 122.000 berdasarkan data tahun 2023.
Kok angka segitu dibilang ‘hanya’ sih? 🥺 Soalnya kalau mau dibandingkan dengan negara-negara lain maka kita akan terkejut melihat angkanya yang mencapai jutaan. Paling tinggi adalah Mexico dengan jumlah 14.000.000 tunawisma diikuti oleh Pakistan dengan jumlah 8.000.000. Tetangga kita sesama ASEAN, Filipina punya 4.500.000 tunawisma. Singapura hanya 1.036 orang. Hanya seuprit… Tapi Singapura kan hanya negara satu kota. Jumlah penduduk Singapura hanya 6 juta orang sedangkan Indonesia 281 juta. Lagipula Singapura adalah negara TERKAYA di dunia. Gelandangan mestinya masalah cemen bagi Singapura.
Negara mana yang parah masalah tunawismanya? Berikut beberapa data lainnya :
Argentina : 3.600.000 orang
Bangladesh : 5.000.000 orang
China : 2.579.000
Mesir ; 2.000.000
Iraq : 2.000.000
Myanmar : 1.500.000
Syria : 5.300.000
Turki : 1.500.000
Uganda : 4.016.980
Nepal : 2.500.000
Diperkirakan 150 juta orang kehilangan tempat tinggal di seluruh dunia. Habitat for Humanity memperkirakan pada tahun 2016 bahwa 1,6 miliar orang di seluruh dunia hidup di “tempat penampungan yang tidak memadai”. Jadi jika Anda masih tinggal di rumah yang memadai meski masih sewa atau kontrak maka bersyukurlah.
Mari kita ke Amerika… Ini negara impian banyak manusia di dunia. 😎
Berdasarkan laporan pada tahun 2023 tunawisma di Amerika Serikat jumlahnya 653.104 orang. Lima kali lipat dibandingkan negara kita. Padahal AS ini salah satu negara paling kaya raya di dunia dengan PDB per kapita sebesar $84,201. Tapi toh mengalami masalah besar dengan tunawisma. California, New York, Florida, Washington, dan Texas memiliki populasi tunawisma terbesar secara keseluruhan. Secara total, terdapat 111.620 anak tunawisma di AS. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, 10.548 dari mereka tinggal di luar tempat penampungan, dan lebih dari 3.000 anak hidup sendiri tanpa wali. Bayangkan ribuan anak yatim piatu menggelandang tidak jelas nasibnya… 😔
Selain tunawisma anak, ada yang juga mengenaskan di AS. Jika di Indonesia para veteran perang benar-benar diperhatikan, di AS banyak veteran perang yang menjadi tuna wisma.
Di bulan Januari 2009, diperkirakan terdapat 75.609 orang tuna wisma veteran—terlindung dan tidak terlindung. Lebih dari 43.000 (57 persen) veteran tinggal di tempat penampungan darurat atau perumahan transisi dan 32.000 sisanya (43 persen) tidur di jalan-jalan, di dalam mobil, di gedung-gedung yang terbengkalai, atau di tempat lain yang tidak diperuntukkan bagi tempat tinggal manusia.
Veteran AS, yang jadi pahlawan di film-film perang Hollywood yang kita tonton, jadi gelandangan tanpa bisa diurusi oleh negara. Kalau ini terjadi di Indonesia pasti Jokowi lagi yang disalahkan. Lha wong karena tidak bisa berkantor di IKN bulan Juli ini aja beliau habis dihujat dan diolok-olok. Memang berat jadi pemimpin di Indonesia itu. 😁
Williams, seorang veteran Angkatan Darat, telah hidup di jalanan selama empat tahun. Dia frustrasi karena kurangnya rasa belas kasihan dari pejabat kota dan penegak hukum.
“Cara orang memandang kami sungguh menyedihkan. Cara orang-orang memperlakukan kami seolah-olah kami seperti binatang,” katanya sambil berlinang air mata. “Saya menjalani wajib militer selama delapan tahun. Saya melakukan dua tur tugas. Saya memberikan pengorbanan terbesar untuk memperjuangkan negara ini, dan saya diperlakukan seolah-olah saya adalah warga negara kelas dua. Ini sungguh kejam.”
Ketika ditanya apakah dia tidak takut ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena menggelandang, dia menjawab “Kalau ditangkap dan masuk penjara setidaknya saya akan mendapat tempat tidur dan mungkin saya akan berada di sistem dan mendapatkan bantuan yang tepat.”
Gak pingin pindah ke Indonesia aja tah, Wil…?! 😁
Surabaya, 14 Juli 2024
Satria Dharma