Beberapa waktu yang lalu ada video yang viral tentang seorang wanita sukses bernama Aisyah di Surabaya. Aisyah ini mewakafkan tanahnya yang berharga milyaran kepada sebuah yayasan agar dijadikan sekolah. Dalam video tersebut ia berkata bahwa ia bosan kaya dan bosan punya banyak uang. Kisahnya diliput oleh hampir semua media. Pokoknya kisahnya menjadi viral. Setelah saya lihat ternyata ia adalah teman SD saya.
Kemarin lusa saya datang ke rumahnya di Jakarta dan ngobrol. Ia bercerita tentang efek dari viralnya video dan kisah tentang kedermawanannya. Ternyata efek dari kisahnya tersebut di luar dugaannya. Saya sendiri sampai melongo mendengar kisahnya.
Ternyata setelah kisahnya sebagai orang kaya raya yang dermawan sampai menyumbangkan hotel membuat banyak orang yang mengira ia adalah orang super kaya raya yang sebar uang ke mana-mana tanpa batasan. Tentu saja Aisyah adalah wanita yang kaya dengan anak-anak yang juga kaya karena bisnisnya sukses. Anak perempuannya adalah pemilik Vanilla Hijab yang sangat laris.
Karyawannya yang bekerja di rumah saja ada 40 orrang. Waktu saya ke rumahnya ia menunjukkan satu lagi usaha anak perempuannya yang membuka kelompok bermain bagi anak-anak balita di halaman rumahnya. Halaman rumahnya tidak terlalu luas tapi disulap menjadi tempat belajar dan bermain bagi anak-anak balita dengan membayar dengan biaya yang cukup mahal bagi saya. Tapi Jakarta kan memang tempat orang-orang kaya berkumpul sehingga mungkin biaya Rp. 250.000,- per anak sekali pertemuan itu kecil saja. Intinya anak-anaknya punya bisnis hebat dan mereka memang orang kaya dan memang dermawan.
Tapi orang memang suka membuat persepsinya sendiri dan cenderung melebih-lebihkan. Aisyah ini dipersepsikan sebagai orang super kaya raya semacam sheikh Qatar atau Pangeran Dubai yang membuang-buang uangnya seperti membuang tisu bekas pakai saja. Setelah video dan berita tentang kekayaan dan kedermawannya tersebar tiba-tiba orang-orang berebut mengirim proposal untuk minta bantuan kepadanya. Puluhan proposal masuk ke rumah dan Yayasan yang ia ikuti sehingga bertumpuk-tumpuk.
Banyak ulama, ustad, dan pimpinan pondok pesantren yang ngotot ingin bertemu dengannya. Tujuannya jelas adalah untuk minta santunan dan bantuan dana bagi yayasan atau pesantrennya. Bahkan katanya ada suatu ketika Aisyah diundang (didesak untuk hadir tepatnya) pada suatu pertemuan di mana yang hadir adalah para ustad, ulama, dan pemilik yayasan dan ponpes. Aisyah adalah satu-satunya wanita yang diundang di antara mereka. Tujuannya jelas untuk mengajak Aisyah menyumbangkan hartanya yang berlimpah-limpah itu kepada mereka. Kapan lagi bisa bertemu dengan orang kaya yang suka buang-buang uang seperti Aisyah kan… 😂
Aisyah juga menyebutkan nama-nama ustad pesohor yang mendekatinya dan saya jadi semakin melongo. Ustad-ustad top seperti mereka juga berusaha untuk mendekati Aisyah agar dapat bantuan? Bahkan ada yang katanya sedang membangun tower dan butuh tambahan dana 150 M menghubunginya. Whaaat…?! Saya tidak bertanya apakah Aisyah kemudian menyumbang ke ustad tersebut atau tidak. Saya hanya bisa tertegun dengan kisahnya. 😳
Setelah tertegun saya lalu merenung dan merasa prihatin. Tampaknya masih banyak atau mungkin justru kebanyakan yayasan pengelola ponpes dan anak yatim itu hidupnya bergantung pada donator dan mereka tidak punya sumber dana yang bisa terus menghidupi kebutuhan mereka. Intinya mereka memang bergantung pada belas kasih dari para donator. Tanpa donator maka mereka akan sangat kesulitan untuk bertahan tentunya.
Untungnya kok bangsa Indonesia itu terkenal sebagai bangsa paling dermawan nomor satu di dunia menurut Charity Aid Foundation (CAF). Indonesia kembali dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia, predikat yang telah kita sandang selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2017.
Pokoknya kita itu untung terus… 😁
Jakarta, 15 Mei 2025
Satria Dharma