Pagi ini acara kami adalah wisuda HELP University yang merupakan kampus partner Double Degree kampus kami ITB STIKOM Bali. Jadi kami diundang untuk datang karena ada mahasiswa kami yang akan diwisuda kali ini. Ada 17 mahasiswa ITB STIKOM Bali program Double Degree yang ikut diwisuda bersama wisudawan HELP sendiri.
Meski saya dulu jadi sarjana IKIP Negeri Surabaya pada tahun 1984 tidak ikut wisuda karena menolak bayar mahal tapi setelah punya kampus sendiri saya selalu menghadiri acara wisuda. Satu kampus bisa dua kali acara wisuda. Bahkan wisuda di HELP Uni KL ini saya juga diundang.
Ada sedikit beda antara prosesi wisuda di HELP Uni dengan kampus kami di Indonesia. Prosesi wisuda di HELP Uni sangat ringkas, fungsional, dan tidak bertele-tele. Kalau di Indonesia acara sambutan saja ada lima, yaitu: Rektor, Ketua Yayasan, LL Dikti, Walikota, perwakilan mahasiswa. Kadang ada tambahan Orasi Ilmiah dari pembicara luar. Di Indonesia juga banyak tambahan acara seperti lagu-lagu, tarian, penandatanganan MOU dengan rekanan dan institusi. Kalau di Help Uni segalanya ringkas. Hanya rektornya yang memberi sambutan dan tak ada yang lain. Lagunya hanya lagu kebangsaan Malaysia via layar lebar. Tak ada hiburan apa pun lainnya. Makanya wisuda di Indonesia yang berlangsung berjam-jam sejak pagi di HELP Uni hanya berlangsung dua jam saja. Sangat praktis.
SEREMBAN, NEGERI SEMBILAN
Jam 13:00 kami sudah siap untuk berangkat ke Seremban. Kami beruntung karena dapat tumpangan gratis ke Seremban karena salah seorang staf HELP Uni yang menjemput kami waktu di bandara, Advent Tan, ternyata orang Seremban dan akan pulang bawa mobil. Jadi kami numpang mobilnya sampai di Klana Resort tempat kami menginap. Dia memang setiap hari bekerja pulang pergi dari KL ke Seremban naik mobil dengan jarak sekitar 1 – 1,5 jam perjalanan. Katanya itu lebih murah daripada dia sewa apartmen di KL. Itu karena BBM sangar murah di Malaysia. Memang termurah di Asia kayaknya. Tapi pemerintah Malaysia berencana untuk memotong subsidi BBM dan pasti harganya akan naik. Itu akan jadi dilemma bagi Advent karena biaya BBM transportasinya pasti akan membengkak dan mungkin sewa apartmen di KL bisa lebih murah.
Klana Resort ini hotel kedua terbaik di Seremban. Rekomendasi hotel terbaik pertama tidak saya ambil karena harganya di atas 1 jut. Lagipula kami cuma akan menginap semalam dan besok paginya langsung mau ke Johor Bahru.
Setelah check in dan istirahat sebentar kami lalu naik Grab ke stasiun kereta. Ternyata rute yang kami inginkan tidak ada. Kami lantas menuju ke stasiun bis. Setelah tanya-tanya akhirnya ambil bis Delima yang jam 07:15. Sengaja ambil yang pagi sekali supaya tidak terlalu siang sampai di Johor. Perjalanan naik bisa dari Seremban ke Johor cukup jauh.
Kami jalan kaki ke Seremban Prima Mall untuk melihat-lihat dan mampir makan sekalian.
Kami berfoto-foto di depan kuil Hindu dan setelah itu kembali ke hotel naik Grab juga.
Enaknya perjalanan darat di Malaysia adalah jalannya yang lebar, bukan hanya lebar tapi sangat lebar untuk ukuran kota-kota di Indonesia. Jalanan KL – Seremban itu seperti jalan tol semua dan bahkan lebih lebar dari jalan tol kita. Bahkan jalanan di kota Seremban yang termasuk kota kecil itu lebar-lebar sehingga menimbulkan kesan kota yang sepi. Tapi Seremban memang kota kecil tapi tertata rapih.
Sebelum maghrib kami sudah masuk kamar dan tidak keluar lagi. Besok pagi-pagi sekali kami harus sudah ke stasiun bis untuk berangkat ke Johor Bahru.
Seremban, 28 April 2025
Satria Dharma