Tadi malam ada acara dinner untuk menutup simposium internasional di ballroom ShangriLa hotel. Jadi setelah seharian penuh para akademisi dan industrialis beradu ilmu dalam simposium internasional malamnya ditutup dengan dinner.
Makan malam di hotel ini mewah karena menunya benar-benar berlimpah. Jarang saya lihat ada menu lobster yang melimpah seperti di sini. Tapi setelah melihat harga makan malam di hotel ini saya langsung mau njomblak. Lha wong per orang harganya 300 RM lebih. Lha kalau dikalikan Rp. 3800,- saja kan sudah 1 juta rupiah lebih per orang. “Opo ae, rek…! Mangan kok entek sak mono?” 🙄 Darah kaypang saya langsung mendidih dan menggelegak. Tidak…! Ini sungguh tidak layak dilakukan oleh Kaypang, meski pun sudah pensiun, seperti saya. Meski demikian hati kecil saya mengajak untuk berpikir positif dan pikiran saya berusaha menenangkan. “Ojok kakehan cangkem opo’o, bro. Lha wong gak melok mbayar ae kok protes. Nek gak trimo metuo mangan nang pinggir dalan kono.” Darah kaypang saya langsung tunduk dan nerimo ing pandum. 😁
Acara dinner tadi malam adalah acara untuk menutup simposium sekaligus merayakan anniversary HELP Uni yang ke 39 dan wisuda yang ke 35. Acaranya mewah dan dihadiri oleh sekitar 300 orang akademisi dan industrialis dari berbagai negara. Hampir semua tamu memakai jas lengkap. Saya memang tidak bawa jas jadi hanya pakai sweater. Rata-rata gelar tamunya professor, doktor, dan PhD. Untungnya saya juga punya gelar ‘Drs’ yang sering keliru dikira gelar Doktor yang lebih dari satu. Lha wong di forum seperti ini saya juga sering dipanggil ‘Prof’ dan saya diamkan saja. Untuk apa saya bantah? Mereka yang menuduhlah yang harus membuktikan tuduhannya. 😂


Saya duduk bersebelahan dengan Professor Terence Chan yang mewakili The Education University Hongkong dan sekaligus China Energy Conservation and Environmental Protection industri di Hong Kong. Dia tampaknya asli Hong Kong tapi masternya dari Australia dan PhD-nya dari Amerika. Tapi bahasa Inggrisnya agak terbata-bata dan ia salut dengan bahasa Inggris saya yang katanya bagus. Saya bilang bahwa saya mantan guru bahasa Inggris dan ia pun manggut-manggut. Sakjane ngono bahasa Inggris saya juga tidak sebagus para dosen HELP Uni yang memang bahasa Inggris adalah bahasa kedua dan sekaligus bahasa sehari-hari mereka.
Saya sangat terkesan dengan Datuk Dr. Paul Chan Tuck Hoong, pendiri dan sekaligus Chancellor HELP Uni ini. Orangnya sangat rendah hati dan ramah. Dalam seharian acara simposium dan dinner ia beberapa kali mendatangi saya, menyalami, memeluk, dan mengajak bergurau seolah saya adalah tamunya yang sangat istimewa. Tapi setelah saya perhatikan ternyata ia juga melakukannya pada hampir semua tamunya. Padahal tamunya ada ratusan. Ia selalu berusaha untuk membuat semua tamunya merasa spesial. Dalam acara dinner pun ia membuat acara award atau pemberian penghargaan baik bagi karyawannya, mau pun partner bisnisnya dengan cara yang sangat membanggakan. Pantas saja orang seperti ini bisa sukses dalam bisnis mau pun dalam kehidupan. Dalam usianya yang sudah 82 tahun Dr. Paul Chan tetap sehat bersemangat dan tidak kehilangan vitalitas, kegembiraan, dan sikap ramahnya tersebut. Saya salut dan ingin bisa belajar seperti itu juga. 🙏
Menu dinnernya ada 9 dan dikeluarkan satu persatu. Tapi karena setelah menu ke 6 keluar dan saya sudah tidak kuat menghabiskan maka saya putuskan tidak akan menunggu sampai semua menu keluar. HP saya sejak tadi sudah mati karena memang sudah saya setel jam 22:00 mati otomatis. Mata saya juga otomatis ngantuk mengikuti ritme biologis. Jadi kami minta ijin tamu yang lain di meja 5 di mana kami duduk untuk balik ke kamar. Wayahe turu… 😁
Kuala Lumpur, 27 April 2025
Satria Dharma