Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang penuh tekad berulang kali diperingatkan oleh manajemen gym karena masuk tanpa bayar. Mamun kecintaannya pada bola basket mendorongnya untuk selalu menemukan cara kreatif untuk terus menyelinap masuk. Akhirnya kegigihannya menyebabkan Manajemen gym melapor ke penegak hukum setempat. Seorang polisi datang untuk melihat situasinya.
Setelah berbicara dengan anak laki-laki tersebut, Petugas polisi mengetahui bahwa anak ini sebelumnya adalah anggota gym tetapi kemudian tidak mampu lagi membayar biaya karena kesulitan keuangan ibunya. Alih-alih menahannya atau menuduhnya melakukan pelanggaran, petugas tersebut mengambil pilihan yang penuh belas kasih—dia menggunakan uangnya sendiri untuk membayar keanggotaan anak laki-laki tersebut di gym selama empat bulan.
Karena terkesan dan tersentuh oleh tindakan polisi ini, pemilik gym berbagi cerita dengan kantor pusat perusahaan, yang kemudian justru memutuskan untuk memberikan anak tersebut keanggotaan dua tahun. Dengan demikian memastikan bahwa si anak terus memiliki akses ke olahraga yang dia sukai.
Ketika ditanya mengapa ia melakukan tindakannya itu, Petugas polisi menyatakan, “Pekerjaan saya bukanlah mencari pengakuan. Kebanyakan petugas polisi ingin membantu masyarakat dan memperkuat komunitas mereka. Saya lebih suka melihat pemuda ini berprestasi di lapangan basket daripada mendapat masalah di jalanan.”.
Intinya adalah : Kebaikan adalah jembatan menuju rasa syukur dan kasih sayang.