Bayangkan sebuah situasi seperti ini…
Empat orang yang menamakan dirinya sebagai The Fantastic Four. ‘Penegak Kejujuran dan Pembela Keadilan’ mendatangi kampusnya. Mereka menengarai ada orang yang mengaku-ngaku sebagai alumnus kampus mereka tersebut padahal mereka 100 milyar persen yakin bahwa ijazah orang itu palsu. Bagaimana kisahnya mereka bisa mencapai keyakinan sampai 100 milyar persen itu tidak usah diceritakan. Pokoknya mereka sangat…sangat yakin dan bertekad untuk membongkar skandal yang memalukan kampus mereka tercinta.
Jadi mereka mendatangi kampus mereka dan ditemui oleh para pejabat dan orang yang mengaku sebagai teman kuliah orang yang mereka tuduh palsu itu. Mereka akhirnya bersilaturahmi dan ketawa-ketawa (saya lihat videonya). Pancen mbencekno… 🙄 Tak pikir dengan keyakinan 100 milyar persen itu mereka akan jihad fisabilillah Allahuakbar ganyang kampus pembela kepalsuan lalu terjadi perang Badar. Tibakno…
Meski sudah silaturahmi dan dijelaskan panjang lebar oleh pejabat kampus tersebut ternyata di luar The Fantastic Four ini ngomong masih tetap tidak percaya. Sekali palsu tetaplah palsu…, kata mereka. Sungguh sebuah drama yang nggregetno ati… 😵💫
Saya kok membayangkan situasinya bisa begini…
Salah seorang pejabat kampus akan bertanya balik pada mereka.
“Seandainya ada orang-orang yang menuduh ijazah kalian berempat para The Fantastic Four ‘Penegak Kejujuran dan Pembela Keadilan’ ini palsu dan disebarkan ke seluruh dunia. Kira-kira kalian bersikap bagaimana? Oke, tidak usah dijawab dulu. Istikharah saja dulu…
Lalu seandainya mereka yang percaya bahwa ijazah kalian itu palsu mendatangi kami untuk minta penjelasan dan konfirmasi keaslian ijazah kalian itu lalu kira-kira kami harus menjawab apa? Dokimen, eh dokumen apa yang harus kami tunjukkan pada para bangsat itu agar mereka percaya bahwa ijazah kalian asli? Ingat bahwa para bangsat ini sudah sangat…sangat percaya sampai 100 milyar persen bahwa ijazah kalian palsu. Apakah kami harus menunjukkan ijazah asli kalian kepada para bangsat ini lha wong kami tidak menyimpan ijazah asli kalian? Kalau kami jawab bahwa kalian adalah alumni kami yang terhormat para bangsat ini tetap tidak akan percaya. Dadi enake diapakno para bangsat iku…?” Si pejabat ketrucut pakai Bahasa Suroboyoan padahal mereka di Jogya.
Tapi karena para pejabat itu adalah orang-orang terhormat dan sopan santun dalam berbicara dan berkata-kata maka mereka tidak misuh ala Suroboyoan seperti: “Makmu kancutan seng…!”
Misuh seperti itu berat. Biar Dilan saja yang misuh. 😆
Surabaya, 18 April 2025
Satria Dharma