Ilustrasi Mahasiswa
Pagi ini saya membaca kisah tentang seorang mahasiswa UNAIR yang sering makan hanya sekali sehari karena tidak punya uang yang cukup untuk makan sesuai dengan kebutuhan. Ia memang mendapat beasiswa KIP tapi beasiswa yang semestinya cukup tersebut sering terpakai untuk hal di luar biaya perkuliahannya karena uang beasiswanya sering diutang oleh keluarganya di desa. Maklumlah karena memang banyak keluarga di desa yang juga sangat kesulitan meski untuk makan sehari-hari.
Mahasiswa ini akhirnya kesulitan untuk makan sehari-hari…
Does it sound familiar…?! Memang sih. Di hampir semua kampus selalu ada dan bukan tidak mungkin malah ada banyak mahasiswa yang kesulitan untuk makan sehari-hari. Apalagi kalau kampusnya adalah kampus-kampus tujuan mahasiswa daerah yang biasanya datang dari keluarga yang tidak begitu sejahtera. Kampus-kampus tertentu memang menjadi jujugan mahasiswa daerah yang kurang sejahtera tapi berjiwa bonek. Kalau dia beruntung mungkin pemilik kantin mau memberinya makan dengan status utang yang akan dibayar kalau ada uang. Kalau nggak ada ya tunggu dia lulus, bekerja, dan sukses tapi tidak pernah lupa dengan utangnya di kantin.
Ketika mendiskusikan hal ini dengan istri (sambil gembuleng di atas kasur) istri saya memberikan pandangan yang menarik. Menurutnya sesama mahasiswa harus saling tolong menolong. Siswa yang berasal dari kalangan sejahtera membantu yang kurang sejahtera. Klasik memang tapi prinsip tolong menolong semacam ini kayaknya juga berlaku di mana-mana.
“Itu insidentil dan situasional,” kata saya pada istri. “Semestinya ada sebuah inisiatif untuk membuatnya menjadi sistemik dan terstruktur.” Ini harus menjadi gerakan yang bisa dimulai dari pimpinan kampus atau bahkan dari Ketua Ikatan Alumni setiap kampus (saya ingat ini karena kampus saya UNESA baru saja mendapat Ketum IKA UNESA baru, mas Bambang DH yang dulu pernah menjadi Walikota Surabaya selama dua periode.)
Saya lalu ingat bahwa ada kisah tentang warung atau resto yang punya ide bagus bagi mereka yang mau makan tapi tidak punya uang. Saya sudah lupa di mana tapi idenya adalah setiap pembeli boleh membeli kopi (atau makanan) untuk siapa saja yang perlu ngopi (atau makan) tapi tidak punya uang dengan membeli dua porsi. Dia beli dua porsi tapi yang satu porsi diwujudkan dalam bentuk kupon. Kupon ini akan diletakkan di kotak khusus yang bisa diambil siapa saja yang membutuhkan dan diserahkan kepada pelayan resto untuk diwujudkan dalam bentuk kopi (atau makanan). Jadi yang memberi dan yang diberi tidak perlu harus bertemu.
Ada banyak resto yang memberikan makanan gratis (free meals) dengan berbagai skema. Ada yang memang memberikan makan khusus bagi veteran, ada yang memang menyediakan puluhan atau bahkan ratusan porsi makan gratis melalui program warung gratis, ada masjid yang buka 24 jam dan memberikan makan dan tidur gratis di Surabaya, dan berbagai gerakan sosial lainnya.
Tapi saya belum pernah membaca tentang program makan gratis bagi mahasiswa di kampus….
Atau mungkin saya yang tidak tahu…
Jika memang belum ada maka saya pikir saya akan memulainya. Konsepnya adalah semua kantin di kampus akan bisa memberikan makan dan minum gratis pada mahasiswa. Tapi itu tidak gratis. Kasihan kantinnya kalau gratis. Nanti mahasiswa yang perlu makan gratis tinggal ambil kupon yang akan disediakan oleh kampus (atau petugas yang mengelola kantin). Kupon tersebut tinggal disodorkan ke pemilik kantin di mana mahasiswa yang mau makan gratis ini dan ia bisa menikmati makan gratis. Kupon ini nantinya akan ditukarkan oleh pemilik kantin ke kampus atau badan yang ditunjuk oleh kampus untuk ditukar dengan uang. Dari mana uang untuk kupon gratis ini? Ya dari sumbangan alumni yang sudah bekerja, punya uang berlebih, dan pingin bersedekah (seperti saya contohnya). 😁
Jadi mahasiswa yang sedang tidak punya uang dan butuh makan bisa datang ke kampus setiap saat, ambil kupon yang sudah tersedia, dan tukarkan kupon tersebut ke salah satu kantin yang menyediakan makan. Dengan demikian masalah mahasiswa yang tidak bisa makan karena tidak punya uang bisa terselesaikan dengan sebuah sistem yang dirancang dan dilaksanakan dengan sinergi semua pihak.
Ternyata diskusi dengan istri di atas kasur bisa menghasilkan ide yang bagus. Pancen gak rugi aku duwe bojo koyok bojoku iki. Untung aku gak rabi karo Dewi Persik. 😁
Saya sengaja segera menuliskan ini agar ide ini bisa tersebar ke mana-mana dan ada orang atau kampus yang tergerak dan terinspirasi untuk melakukannya. Tentu saja saya sendiri akan membawa ide ini ke kampus saya dan tidak sekedar menjadi angan-angan kosong belaka.
Surabaya, 8 Maret 2025
Satria Dharma