Saya rasa kadang-kadang kita memang tidak bisa membedakan apa itu ‘kritik’ dan apa itu ‘uneg-uneg’. Bagi saya hampir semua keluhan kita terhadap situasi yang terjadi, apalagi kalau kita bumbui dengan caci-maki, ungkapan kemarahan dan kebencian, sebenarnya hanyalah UNEG-UNEG belaka dan sungguh tidak patut kita sebut sebagai KRITIK.
Sebagai contoh, kami di kantor sudah lama menyuarakan betapa boros dan sia-sianya rapat yang kami lakukan di hotel-hotel mewah setiap bulan yang bisa menghabiskan uang negara ratusan juta setiap kali rapat. Tapi ya tetap kami lakukan dengan alasan ‘tangan kami terbelenggu’ oleh aturan-aturan dan ketentuan dari bagian keuangan atau kebijakan apalah yang anehnya tidak bisa kami ubah. Jadi sebenarnya kami sadar bahwa melakukan rapat di hotel mewah itu adalah pemborosan uang negara dan tidak sepatutnya kami lakukan dan kami sudah berulangkali menyuarakannya (secara internal alias cuma rasan-rasan kami saja). Tapi ya hanya sampai di situ saja. Kami hanya melakukan UNEG-UNEG alias nggrundel saja.
Apakah pernyataan ketidaksetujuan kami pada praktek itu tidak bisa disebut KRITIK? Kalau menurut saya sih TIDAK. Kritik menurut saya adalah UPAYA SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MENGUBAH KEADAAN yang disampaikan pada pemilik kebijakan langsung atau pun tidak langsung dan dilakukan secara konsisten. Kalau ketidaksetujuan kita itu hanya kita sampaikan di forum rasan-rasan macam WAG dan medsos maka itu lebih ke UNEG-UNEG dan GRUNDELAN belaka. Kita tidak sungguh-sungguh mau mengubah keadaan. Kita hanya mau melampiaskan rasa kecewa dan kejengkelan kita.
Kebanyakan dari kita memang tidak punya cukup pemahaman tentang permasalahan dan kita hanya merasa TIDAK SETUJU dengan sebuah isu. Lalu kita nggrundel menyampaikan uneg-uneg kita di medsos. Kita lalu menganggap itu sebagai sebuah kritik. Ada juga orang yang sebenarnya paham benar tentang masalah tersebut tapi ia tidak menyampaikan pendapatnya di forum yang tepat dan lebih suka menyampaikannya dalam bentuk uneg-uneg dan grundelan. Maka itu juga tidak bisa disebut sebagai sebuah kritik. Ada juga orang yang dianggap sebagai intelektual atau akademisi yang menyampaikan pendapatnya menentang kebijakan yang ada tapi isinya lebih banyak berisi caci-maki, hujatan, serangan yang bersifat ad hominem, dan sejenisnya. Orang ini juga tidak melakukan kritik tapi sekedar menumpahkan kemarahan dan kebenciannya belaka. Orang ini tidak sungguh-sungguh mau melakukan perubahan. Mereka lebih tertarik pada upayanya sendiri untuk tampak kritis dan vocal dan bukan pada upaya mengubah keadaan itu sendiri.
Ketika seorang teman kemarin cerita tentang bagaimana ia mengritik walikotanya soal incinerator sampah saya mengacungi jempol. Ya itu yang disebut KRITIK. Mengapa…?! Karena ketidaksetujuannya disampaikan langsung pada yang memiliki kebijakan, yaitu Walikota, dan bukan disampaikan di warung kopi atau sekedar untuk bahan rasan-rasan. Ketidaksetujuannya juga dengan menggunakan argumen dan alasan yang memiliki dasar yang kuat. Teman ini juga tidak sekedar bilang tidak setuju tapi sekaligus protes keras dan berupaya untuk MENGUBAH KEADAAN. Ia berupaya untuk menghentikan pembelian incinerator tersebut karena ia tahu betul bahwa incinerator tersebut teknologinya sudah ketinggalan zaman dan pasti akan segera tidak bisa dipakai. Baginya pembelian incinerator yang kuno itu akan menghamburkan dana pemda, yang artinya ya uang rakyat. Dan ia tidak ingin itu terjadi. Jadi ia menolak keras, melakukan demo, dan akhirnya dipanggil untuk berdialog. Setelah walikota mendapat penjelasan dari ahlinya barulah beliau sadar bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya tadi itu benar. Pembelian incinerator akhirnya dibatalkan dan uang rakyat terselamatkan oleh tindakan teman saya dan kelompoknya tersebut. Itulah sebabnya saya bilang bahwa SATU TINDAKAN jauh lebih baik ketimbang SERIBU KATA-KATA. Lha kalau cuma indah di kata-kata, apalagi cuma seribu sumpah serapah tapi kita tidak berusaha benar-benar untuk mengubah keadaan maka itu statusnya hanyalah RASAN-RASAN, NGGRUNDEL, dan UNEG-UNEG.
Kebijakan kantor kami yang setiap bulan rapat di hotel mewah tidak bisa kami ubah, meski pun kami semua tidak setuju. Meski pun kami semua adalah para vokalis tapi ternyata kami juga MEMILIKI KETERBATASAN. “Katanya sampeyan vokalis tapi kok situasi kantornya sendiri yang brengsek dan dibenci tidak berupaya untuk diubah? Mana suaranya…?! Mbok ya protes langsung ke pembuat kebijakan agar terjadi perubahan. Jangan cuma omon-omon di waktu ngopi.” 😎
Jika saya ditanya demikian maka saya akan menjawab bahwa hal tersebut di luar kemampuan dan kemauan saya untuk berjuang. Saya juga bisa bilang bahwa itu di luar kompetensi saya. It’s not my battlefield. Saya tidak punya cukup daya dan semangat untuk mendobrak hal tersebut. Saya juga punya pilihan battlefield lain di mana saya akan berjuang habis-habisan seperti teman saya menghadapi walikotanya perkara incinerator tersebut. Melawan pemborosan dana negara is not my battlefield. 🙏
Jadi bagaimana? Ya saya hanya akan bilang bahwa saya SEBENARNYA tidak setuju dengan pemborosan uang negara tersebut tapi saya tidak punya pilihan jadi saya ya ikut saja. Tentu saja saya tidak akan mencaci maki si pembuat kebijakan dengan ngunek-ngunekke lha wong faktanya saya ikut menikmati rapat dan tidur di hotel mewah tersebut kok. 😁
Balikpapan, 15 Februari 2025
Satria Dharma
NB: Kritik menurut Wikipedia. “Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.[1]”
Apa itu kritik yang membangun?
Kritik yang membangun adalah suatu bentuk umpan balik yang bertujuan untuk membantu seseorang atau organisasi menjadi lebih baik dengan memberikan saran-saran khusus untuk perubahan secara positif dan suportif. Kritik ini memainkan peran penting dalam pertumbuhan pribadi mau pun profesional. Berbeda dengan kritik negatif yang hanya berfokus pada menunjukkan kesalahan dan kekurangan, kritik konstruktif menggunakan pendekatan yang lebih holistik dengan menyoroti kekuatan dan area yang perlu diperbaiki.
Karakteristik utama dari kritik yang membangun adalah bersifat spesifik, dapat ditindaklanjuti, dan disampaikan dengan nada positif. Penting untuk memberikan contoh dan saran spesifik untuk perbaikan, daripada menggunakan bahasa yang tidak jelas atau menghakimi. Kritik yang membangun juga mempertimbangkan emosi dan harga diri penerimanya, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka sekaligus mendorong pertumbuhan.