Seorang anak berusia 6 tahun jalan-jalan di pasar bersama adik perempuannya yang berusia 3 tahun. Tiba-tiba adiknya berhenti dan berdiri di depan penjual mainan. Ia melihat sebuah boneka dengan penuh minat. Kakaknya lalu bertanya, “Kamu mau apa?” Adiknya menunjuk ke arah boneka itu.
Si kakak memegang tangannya dan seperti kakak yang bertanggung jawab, ia mengambil dan memberikan boneka itu padanya. Adiknya sangat, sangat bahagia…
Si penjual mainan memperhatikan peristiwa itu dan merasa geli melihat kelakuan dewasa anak laki-laki itu. Si kakak kemudian bertanya kepada si penjual mainan, “Berapa harga boneka ini, Pak?”
Si penjual mainan adalah orang yang baik hati dan telah kenyang mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Jadi dia bertanya kepada si kakak itu dengan penuh cinta dan kasih sayang, “Nah, berapa yang bisa kamu bayar?”
Si kakak mengeluarkan kelereng dari sakunya dan memberikannya semua kepada si penjual mainan.
Si penjual mainan mengambil kelereng-kelereng tersebut dan mulai menghitung seolah-olah sedang menghitung uang. Lalu dia menatap anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu bertanya kepadanya dengan cemas, “Kurang ya, Pak?”
Si penjual mainan berkata, “Tidak, tidak… ini malah terlalu banyak. Jadi saya akan mengembalikan sisanya.”
Dia lalu mengambil empat butir kelereng dan mengembalikan sisanya.
Anak laki-laki itu dengan senang hati memasukkan kembali sisa kelereng yang dikembalikan itu ke dalam sakunya dan pergi bersama adiknya.
Penjual lain heran dan takjub melihat semua ini. Mereka bertanya kepada si penjual mainan, “Jadi kamu memberikan boneka jualanmu itu hanya dengan beberapa butir kelereng yang tidak berharga?”
Si penjual mainan berkata sambil tersenyum, “Bagi kita, ini mungkin hanyalah kelereng saja, tapi bagi anak itu, kelereng ini sangat berharga. Dan di usia sekarang dia belum mengerti apa itu uang, tapi kalau dia besar nanti pasti akan mengerti. Dan kemudian dia akan ingat bahwa dia pernah membeli boneka dengan beberapa kelereng bukan dengan uang, dan dia akan mengingatku dan berpikir bahwa dunia masih penuh dengan orang-orang yang baik hati.”
Balikpapan, 30 Mei 2024
Satria Dharma