Saya salat Jum’at di Al-Maghfirah siang ini. Saya duduk bersila seperti biasanya waktu mendengar khutbah dari khatibnya dengan tertib. Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya sama sekali tidak merasakan sakit, nyeri, atau kram atau apa pun keluhan pada lutut atau bagian kaki saya yang mana pun. Padahal biasanya saya akan merasakan nyeri atau sakit pada lutut saya kalau saya bersila cukup lama. Tapi kali ini tidak ada rasa sakit sedikit pun. Saya heran… Padahal tadi pagi saya baru saja menyelesaikan olahraga jalan kaki pagi saya sebanyak 14.537 langkah dan saya tidak merasakan capek atau pun lelah yang berkepanjangan. Am I getting stronger now? 😁
Sebelas tahun yang lalu lutut saya mengalami masalah sakit dan nyeri jika dipakai untuk duduk bersila. Setiap kali duduk dengan posisi menekuk kaki seperti pada saat sholat dalam posisi duduk di antara dua sujud saya merasakan nyeri pada lutut kiri saya. Akibatnya saya berupaya untuk bertumpu lebih banyak pada kaki kanan. Setelah saya runut ke belakang sakitnya lutut saya ini sudah berlangsung cukup lama. Ia bermula ketika saya merasakan kesemutan dan ngilu jika saya duduk dalam posisi bersila agak lama. Saya tidak tahan duduk bersila lama-lama kalau mengikuti ceramah. Jadi kalau mengikuti ceramah, di masjid atau di mana saja, saya tidak bisa duduk tenang bersila seperti jamaknya para hadirin yang soleh-soleh itu. Saya sering ‘eker’ sendiri sedikit-sedikit harus ganti posisi duduk karena tidak tahan dengan kaki yang kesemutan. Bagi yang usil mungkin akan mengira saya gelisah mendengarkan ancaman siksa neraka yang disampaikan oleh penceramahnya. Mereka tidak tahu bahwa saya sedang merasakan ‘siksa neraka’ di lutut saya. 🤓
Tentu saja saya berupaya untuk mencaritahu apa sebenarnya yang terjadi pada lutut saya tersebut. There must be something wrong. Beberapa teman bilang bahwa itu karena ‘Faktor U’, maksudnya faktor usia. Karena saya sudah oversek cukup tinggi (waktu itu seket limo menuju seket nem) maka sudah semestinyalah kalau beberapa onderdil tubuh saya mengalami keausan. Tapi saya tidak bisa menerima begitu saja omongan teman seperti itu. Lha banyak orang yang lebih tua daripada saya ternyata tidak mengalami dekadensi fungsi lutut seperti yang saya alami kok! Gak trimo aku kena ‘Faktor U’ tersebut. Lha wong kemarin rasanya usia saya baru dua puluhan lha kok tahu-tahu sekarang sudah oversek…!
Untuk membuktikan bahwa sakit lutut saya bukan ‘faktor U’ penyebabnya maka saya check-up dan periksa darah. Alhamdulillah ternyata hasil yang ditunjukkan laborat adalah saya tidak mengalami penyakit ‘Faktor U’. Kolesterol, SGOT, SGPT, Uric acid, Trigeliserid, gula darah, dll biasa-biasa saja. Maksudnya kalau pun ada yang di atas normal maka itu hanya sedikit dan masih dalam batas normal. Hanya SGPC yang agak tinggi. Dan itu karena saya memang suka makan SGPC (sego pecel).
Akhirnya saya datang ke seorang dokter spesialis di RS Premier dan diberi terapi sederhana. Dan berhasil…
Sila baca cerita lengkapnya di sini.
Sebetulnya meski lutut saya sudah tidak sakit lagi tapi kalau duduk bersila agak lama biasanya saya masih merasakan sakit di lutut dan juga kesemutan. Jadi saya harus sering ganti posisi duduk. Tapi waktu salat Jum’at tadi saya duduk bersila sepanjang khotbah sampai selesai saya sama sekali tidak merasakan sakit atau pun kesemutan. Tentu saja saya bersyukur bahwa ternyata kaki saya melakukan penyembuhan diri dan malah menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. 😳 Saya tidak tahu apakah ini karena hasil dari latihan saya berjalan kaki pagi setiap hari atau apa. Tapi yang jelas saya sama sekali tidak mengonsumsi obat-obatan atau pun suplemen apa pun. Saya punya banyak suplemen kesehatan berharga mahal pemberian dari istri dan famili tapi tidak ada yang saya konsumsi karena merasa tidak memerlukannya. Toh saya merasa selalu segar di pagi hari dan bisa melakukan olga jalan kaki sejauh belasan ribu langkah setiap hari. I really feel fresh and happy every day. 🙏😁
Surabaya, 27 Desember 2024
Satria Dharma