Foto: Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/8/2024). (YouTube/Sekretariat Presiden)
Alhamdulillah, pertarungan antara MK dan DPR mengenai masalah RUU Pilkada berakhir dengan cepat dan tidak ada korban. Ini memang agak antiklimaks karena banyak juga yang berharap bahwa DPR tidak akan dengan cepat menyerah sehingga pertarungan menjadi agak panjang dan akan lebih banyak drama. Banyak tokoh-tokoh yang sudah ancang-ancang untuk masuk ke gelanggang pertarungan tapi langsung kempes begitu tahu bahwa DPR akhirnya menyerah dan menyatakan bahwa pengesahan RUU Pilkada batal dilaksanakan dan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilkada akan berlaku. Pluit dibunyikan dan pertarungan dinyatakan selesai.
DPR tampaknya jeri juga melihat ribuan mahasiswa turun mengepung kantor mereka dan mau merobohkan pintu gerbangnya. Kalau hanya melawan MK mah mau berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan okelah bagi DPR. Lha wong di DPR itu juga banyak premannya. Tapi kalau melawan mahasiswa yang turun mengepung kantor mereka mending angkat bendera putih. Sudah tidak asyik lagi bagi mereka. Entah lagi kalau nanti tiba-tiba DPR bikin jurus-jurus baru dan bikin pertarungan tambahan setelah gelanggang sepi ditinggalkan oleh mahasiswa. DPR kita itu selalu punya cara untuk bikin kejutan.
Tapi medsos punya keributannya sendiri. Meski yang bertarung adalah Mahkamah Konstitusi yang merupakan Lembaga Yudikatif berhadapan dengan DPR yang Lembaga Legislatif. Jadi yang bertarung adalah Yudikatif melawan Legislatif. Tapi yang dihujat dan dituduh di belakang semua keributan ini adalah….Eksekutif! Ya, Anda benar. Yang dituduh di belakang ini semua adalah JOKOWI. Jokowilah yang punya kepentingan dengan RUU Pilkada ini karena katanya anaknya Kaesang mau maju jadi calgub di Jateng dan kalau DPR menang maka Kaesang akan dapat tiket untuk maju jadi cagub di Jateng. Jokowi adalah Raja Jawa yang berbahaya yang akan ‘merobohkan demokrasi dan memperkosa konstitusi’ (saya kutip persis seperti yang disampaikan) melalui tangan-tangannya di DPR. 😎
Sungguh luar biasa imajinasi dan fantasi mereka tersebut. Saya menyerah dan tidak mampu mengikuti fantasi semacam itu. Setahu saya yang bakal ikut pilkada di seluruh Indonesia itu ada ribuan calon dan yang mengajukan calon tersebut adalah partai-partai politik. Jadi partai politiklah yang punya kepentingan. Tentunya ada ribuan orang yang akan terkena efek dari RUU Pilkada yang diusulkan oleh DPR yang notabenenya adalah perwakilan partai-partai politik di parlemen. Tapi oleh medsos kita yang luar biasa kreatif itu kemudian diringkas dan dikerucutkan menjadi kepentingan Presiden Jokowi karena anaknya Kaesang (yang sedang di luar negeri) perlu diloloskan melalui RUU tersebut. Ada 9 parpol yang ada di parlemen ini di mana PDIP merupakan partai terbesar dan Puan sebagai Ketua DPR-nya, ada 560 wakil rakyat dari 77 dapil, dan mereka semua adalah orang-orang kosen belaka. Tapi menurut medsos semuanya telah disihir dan diperintahkan oleh Presiden Jokowi, yang berasal dari Lembaga eksekutif itu, untuk meloloskan RUU Pilkada dengan melawan Keputusan MK. Sungguh luar biasa kan….! 😂
Katanya ini sebenarnya adalah kepentingan ‘Raja Jawa’ untuk meloloskan anaknya untuk kelak menggantikan dirinya. Dan untuk itu ia mengutus salah seorang mentrinya yang kini jadi Ketum salah satu parpol (yang katanya juga bisa naik jadi ketum berkat campur tangannya di parpol tersebut) untuk mengatur ‘ini barang’. Entah bagaimana caranya dan bagaimana logikanya tapi faktanya kan DPR mau main-main dengan mengubah keputusan MK. Kalau bukan Si Raja Jawa lalu siapa lagi coba? Ketika saya coba mengusulkan nama Luhut Binsar Pangaribuan saya langsung diketawai. “Luhut iku wong Batak, Cok…! Awakmu gak tau belajar Fisika yo?”
Pagi ini saya dapat kiriman video Tiktok dengan tagar #KawalPutusanMK Dimana Presiden Jokowi berbicara dengan nada santai. Beliau bilang,”Padahal yang membuat keputusan itu MK, yang rapat DPR, tapi tetap yang dibicarakan (maksudnya yang tetap dituduh) adalah Si Tukang Kayu. Ya tidak apa-apa. Itu adalah warna-warni demokrasi.” sambil tersenyum. Mungkin beliau belum mau mengaku sebagai Si Raja Jawa. Kan yang memberi julukan itu Bahlil dan Bahlil sendiri tidak bilang siapa Si Raja Jawa yang ia maksud.
Pak Jokowi lalu bilang bahwa paling enak dan paling mudah memang menuduh Jokowi. Kenapa? Karena beliau TIDAK PERNAH membalas caci maki dan hujatan siapa pun. Lha wong Cak Nun yang menghina beliau sebagai Firaun saja tidak dibalas sama sekali dan bahkan Ketika Cak Nun sakit malah dijenguk. Butet yang menghina dan menghujat beliau dengan berbagai cara juga tidak pernah dibalas. Pendukung Jokowi yang melaporkan Butet ke polisi malah disuruh cabut oleh beliau. Presiden Jokowi bahkan pernah menyampaikan pesan tertulis kepada Butet, dalam halaman awal buku Urip Mung Mampir Ngguyu 60 Tahun Butet Kartaredjasa karya Agus Noor dkk. Begini katanya, “Dalam kondisi apapun, jangan pernah lelah untuk berkarya, jangan pernah lelah untuk mengingatkan, teruslah optimis, teruslah semangat, sehat selalu,” tulis Jokowi dalam buku tersebut. Baca itu saya langsung misuh. Mengapa…?! Saya sungguh tidak mampu mengikuti cara berpikir beliau. Saya yang seringkali merasa sudah berpikir ‘out of the box’ ternyata gak ada apa-apanya dengan beliau. Beliau ini sudah ‘out of the fence’. Gak nutut blas ilmu saya dengan cara bersikap seperti ini. Lha wong saya dulu cuma diajari ilmu ‘Lu Jual Gua Beli’, semacam ilmu perdagangan. 😁
Sekali lagi alhamdulillah Indonesia ternyata ya memang baik-baik saja. Gimana gak baik lha wong Presidennya begitu baik. Lha nek aku presidene trus dibegitukan yo wis tak jak duel kabeh… Eh, nggak ding. Kan saya sudah tua.😁
Balikpapan, 23 Agustus 2024
Satria Dharma