Bayangkan jika kita adalah orang terpintar di kota Anda atau memilki IQ di atas 200. Rasanya dunia akan berada dalam genggaman tangan kita, kan… ?! Belum tentu juga.
Pada tahun 1962, seorang anak laki-laki bernama Kim Ung-Yong lahir di Korea Selatan. Ayahnya adalah seorang profesor fisika dan ibunya adalah seorang profesor kedokteran. Ketika dia berumur sembilan bulan, dia sudah berbicara dalam kalimat lengkap. Pada saat ia berusia satu tahun, Kim telah mempelajari alfabet Korea dan 1.000 karakter Tiongkok dengan mempelajari Seribu Karakter Klasik, sebuah puisi Tiongkok abad ke-6. Pada usia tiga tahun, ia mampu memecahkan masalah kalkulus, dan ia juga menerbitkan buku esainya yang terlaris dalam bahasa Inggris dan Jerman, serta kaligrafi dan ilustrasinya. Pada usia 5 tahun, dia memecahkan masalah kalkulus diferensial dan berbicara dalam lima bahasa berbeda. Dan pada usia 8 tahun, dia diundang ke AS oleh NASA untuk membantu melakukan penelitian bagi mereka.
Rumor yang populer adalah ketika dia berusia delapan tahun, Kim diduga belajar fisika nuklir di Universitas Colorado, menurut sumber populer. Namun hal ini telah dibantah oleh sumber-sumber pada saat itu.
Dia bekerja untuk NASA, di mana dia bekerja selama sepuluh tahun. Lalu tiba-tiba ia lalu memutuskan untuk berhenti dan kembali ke negaranya.
Sekembalinya ke Korea Selatan, Kim diharuskan menyelesaikan sekolah resmi di Korea Selatan untuk mendapatkan pekerjaan. Ia memperoleh gelar SD, SMP, dan SMA hanya dalam waktu dua tahun. Dia kemudian mendaftar di Universitas Nasional Chungbuk di mana dia belajar teknik sipil dan memperoleh gelar Ph.D. Pada tahun 2007, ia menjabat sebagai dosen tambahan di Universitas Nasional Chungbuk. Pada tanggal 14 Maret 2014, ia menjadi profesor madya di Universitas Shinhan, dan menjadi wakil presiden Pusat Penelitian Pengembangan Kyeong-gi Utara.
Pada tahun 2010, Kim menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun di NASA, “Saat itu, saya menjalani hidup seperti mesin―Saya bangun, menyelesaikan tugas sehari-hari, makan, tidur, dan sebagainya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang saya lakukan. Dan saya kesepian dan tidak punya teman.”
Dengan IQ yang teruji sebesar 210, yang merupakan Rekor Dunia Guinness pada saat itu, banyak orang percaya bahwa ia akan maju dan mengubah dunia jauh dibandingkan gabungan Elon Musk dan Nikola Tesla yang masing-masing memiliki perkiraan IQ sebesar 155 dan 200.
Tapi ternyata ia hanya menjadi dosen dengan jabatan Profesor Madya di Korsel.
Apa yang salah…?!
Orang-orang lalu menyebutnya sebagai jenius yang gagal. Kalau cuma jadi dosen mah gak usah harus sejenius itu, kata mereka. Meskipun media telah berulang kali menyebut Kim sebagai “jenius yang gagal”, Kim mengatakan bahwa ia menganggap hidupnya sukses; dia melakukan apa yang membuatnya bahagia. Pada tahun 2010, Kim mengkritik gagasan bahwa ia adalah seorang “jenius yang gagal”. Ia menjawab, “Beberapa orang berpikir orang dengan IQ tinggi bisa menjadi mahakuasa atau bisa menjadi apa saja, tapi itu tidak benar. Lihat saya, saya tidak punya bakat musik, saya juga tidak unggul dalam olahraga. Masyarakat tidak boleh menilai siapa pun dengan standar sepihak – setiap orang memiliki tingkat pembelajaran, harapan, bakat, dan impian yang berbeda dan kita harus menghormatinya.”
Kim menjadi bukti bahwa IQ super tinggi tidak menjamin prestasi besar. Resep untuk mencapai prestasi besar dalam hidup bukan hanya merupakan hasil dari IQ tinggi tetapi juga kombinasi unik antara kreativitas, inspirasi, dan kemampuan mengatasi kesulitan. Motivasi yang besar didorong oleh kebutuhan, keinginan, dan kebutuhan. Sejarah menunjukkan bahwa tidak banyak orang jenius yang memiliki kehidupan mudah dan dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Coba ingat-ingat teman sekolah Anda yang selalu nomor 1. Mereka tidak selalu yang paling sukses dalam karir dan hidup.
Meski demikian tidak ada indikasi bahwa Kim adalah jenius yang gagal; sebaliknya, dia dikenal karena kecerdasan dan prestasinya yang luar biasa di usia muda. Sebenarnya kitalah yang gagal. 😁 Kita berharap sangat tinggi pada orang-orang yang ber-IQ jenius atau sangat cerdas. Padahal bukan itu yang diinginkan oleh orang-orang yang jenius atau ber-IQ superior. Mungkin mereka justru menginginkan kehidupan yang tenang dan damai tanpa sorotan perhatian dunia pada mereka. Jadi kita yang gagal dengan harapan kita pada mereka. 😂
Surabaya, 23 Juli 2024
Satria Dharma