Saya mendapat foto ini dari media dan tiba-tiba saya merasa familier. I think I know these people. Setelah saya amati ternyata saya memang kenal dengan mereka. Mereka adalah para mantan mentri pendidikan kita. 😁
Dari kiri ke kanan : Malik Fajar, Yahya Muhaimin, Wardiman Djojonegoro, Muhammad Nuh, Muhadjir Effendy.
Saya sempat kenal dan berhubungan dengan mereka semua, kecuali dengan Pak Yahya Muhaimin. Sebetulnya ada tiga lagi Mendikbud yang saya kenal tapi tidak ada di foto ini, yaitu : Bambang Sudibyo, Anies Baswedan, dan yang masih menjabat sekarang, Nadiem Makarim.
Bagaimana saya yang seorang mantan guru, yang hanya pernah jadi PNS dengan golongan II/b, bisa kenal dan berhubungan dengan begitu banyak mentri? Ya itu namanya nasib yang tidak ada hubungannya dengan nasab. 😁
MALIK FAJAR
Pak Malik Fajar adalah Mendikbud pada jamannya Megawati (2001–2004). Saat itu saya sedang di Balikpapan dan jadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan. Ketika ada acara pendidikan nasional yang diadakan di Balikpapan saya yang diminta oleh Walikota Balikpapan. Pak Imdaad, untuk menemani beliau sepanjang acara. Entah mengapa bukan Kadisdik Balikpapan yang diminta untuk menemani beliau. Jadi sepanjang hari ketika beliau berada di Balikpapan saya terus menemani beliau.
Beliau adalah perokok berat. Saya sendiri sudah bertobat merokok sejak tinggal di Bontang. Ada momen lucu ketika beliau dilihat oleh Kyai Hasyim Muzadi merokok. Kiai Hasyim Muzadi kemudian menegur, “Lho, sampean Muhammadiyah kok merokok?”. (Muhammadiyah memang mengharamkan merokok).
Malik Fadjar lalu menjawab, “Ya, aku sedang pindah ke NU (Nahdlatul Ulama).”
Kyai Hasyim Muzadi tercengang dengan jawaban itu. “Lho, nanti kalau rokoknya sudah habis?”
“Ya, pindah Muhammadiyah lagi,” ucap Malik Fadjar. Lalu mereka ngakak berdua. 😂
Sekarang saya bekerja dengan anak almarhum, Dien Malik Fajar, di BAN PDM.
WARDIMAN DJOJONEGORO

Pak Wardiman, adalah Mendikbud sejak tahun 1993 s/d 1998, masih jamannya Soeharto. Beliau adalah teman baik Pak Habibie karena sama-sama lulusan Jerman. Saya mengenal beliau lama setelah beliau pensiun dan malah jadi Ketua Umum Yayasan Putri Indonesia. Saat ini beliau berusia 90 tahun dan masih sehat dan segar. Kalau ditanya resep bagaimana bisa berumur panjang dan sehat seperti beliau maka akan dijawab, ”Itu karena saya menjadi Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia,” 😂 Sayang beliau tidak ngajak-ngajak saya untuk jadi sekertaris beliau. Aku lak yo gelem sih gumbul arek-arek ayu…. Kami sering bertemu dan bergurau dalam acara-acara di kampus kami di Bali.
MUHAMMAD NUH

Pak Muhammad Nuh adalah Menteri Pendidikan Nasional Indonesia sejak 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (2007–2009) dan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode tahun 2003–2006. Beliau menjadi rektor ITS termuda dalam sejarah ITS. Saat itu beliau baru berumur 42 tahun. Beliau adalah tetangga kompleks saya di Surabaya. Kami jamaah masjid yang sama di kompleks kami. Beliau asli Surabaya dan ngomongnya lumayan medok. Kami jadi akrab karena waktu beliau jadi mentri saya masih menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia. Jadi kalau ada acara-acara pendidikan baik di Kementrian atau pun di daerah kami sering bertemu. Beliau tampaknya suka dengan IGI yang selalu membantu program-program Kemendikbud. Waktu beliau menjadi Mendikbud beliau mengajak beberapa temannya dari ITS untuk membantu di Kemendikbud. Prof Jazidie (sekarang Rektor UNUSA) dan almarhum Son Kuswadi yang kebetulan adalah teman-teman lama di Surabaya. Saya malah pernah datang ke India ketika almarhum Son Kuswadi menjabat sebagai Atase Pendidikan di India ketika Pak Andi Ghalib almarhum jadi Dubesnya.
MUHADJIR EFFENDY

Pak Muhajir sebelum jadi Mendikbud menggantikan Anies Baswedan pada tanggal 27 Juli 2016 adalah Rektor UMM di Malang (Pak Malik Fajar dulunya juga rektor di sini). Beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tiga periode yaitu tahun 2000–2016. Beliau rektor saya ketika saya kuliah S2 Magister Manajemen (tapi tidak saya selesaikan). Saat itu saya sudah tidak lagi menjabat Ketua Umum IGI lagi tapi sedang sibuk keliling Indonesia mempromosikan Gerakan Literasi Sekolah yang menjadi program nasional Kemendikbud. Ketika Anies Baswedan dicopot dan Pak Muhajir naik saya lalu mendatangi beliau di kantornya di Senayan. Setelah memberi selamat atas jabatan baru beliau tersebut dan ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa-ketawa saya lalu bertanya, “Mas, saya mau tanya satu hal.”
“Opo, mas?” jawabnya.
“Apakah program literasi masih akan sampeyan teruskan?”
“Oh iya. Tentu saja.” Jawab beliau. Saya lalu merasa ayem dan pamit. 😎
Beberapa waktu yang lalu Pak Nuh jadi berita diberbagai media saat rapat dengar pendapat umum (RDPU) Panja Pembiayaan Pendidikan dengan Komisi X DPR di Senayan, (3/7/2024). Beliau keheranan dengan adanya dana desa pada alokasi anggaran fungsi pendidikan 2024. Beliau heran mulai kapan masuk dana desa di dalam anggaran pendidikan, mulai kapan? Dan isinya apa?” tanya beliau.
Pak Nuh mempertanyakan implementasi anggaran tersebut secara riil, apakah benar transfer pusat ke daerah tersebut digunakan untuk pendidikan. Beliau mengkhawatirkan kebijakan ini membuat pemerintah melegalkan penyimpangan atas anggaran pendidikan. “Saya kira tobat sehingga masa yang akan datang ini masa pertobatan dalam mengelola dana pendidikan,” tuturnya.
Pertanyaan karena ketidaktahuan beliau ini wajar karena beliau sudah tidak lagi di Kemendibud sehingga soal ini tidak lagi diketahuinya. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Pak Muhadjir dengan tuntas karena beliau kan masih jadi mentri dan tahu persoalan. Kalau mau tahu kasusnya sila baca di sini.
Selain dengan mereka saya juga kenal dengan Mendikbud yang tidak ada dalam foto tersebut, yaitu Bambang Sudibyo, Anies Baswedan, dan yang masih menjabat sekarang, Nadiem Makarim.
BAMBANG SUDIBYO
Pak Bambang Sudibyo jadi Mendikbud (21 Oktober 2004 – 20 Oktober 2009) menggantikan Pak Malik Fajar. Beliau sebelumnya sempat jadi Menkeu tapi tidak sampai setahun. Ketika menjadi Menteri Pendidikan, beliau menetapkan kebijakan UN yang sangat berpengaruh besar untuk menentukan kelulusan siswa sekolah. Selama lima tahun itu pula UN dikritik banyak pihak (termasuk saya) karena belum meratanya kualitas dan fasilitas pendidikan di Indonesia. Dalam usaha untuk menghapus Ujian Nasional kami menulis buku dengan judul `” Buku Hitam Ujian Nasional” diterbitkan oleh Resist Book di tahun 2012. Yang ikut menulis adalah : Ahmad Rizali, Doni Koesoema, Heru Widiatmo, Elin Driana, Iwan Pranoto, Ahmad Muchlis, Darmaningtyas Instran, Prof Soedijarto, Satria Dharma, HB Arifin, Utomo Dananjaya, Dhitta Puti Sarasvati, Suparman, Daniel M. Rosyid. Meski begitu Bambang Sudibyo dan Menteri Pendidikan penggantinya, Muhamad Nuh, tetap meneruskan UN. Buku ini begitu diterbitkan langsung saya serahkan sendiri kepada Pak Muhammad Nuh, yang menggantikan Pak Bambang Sudibyo waktu itu. Pak Nuh ketawa-ketawa saja meski tahu buku itu kritik keras pada kebijakan Kemendikbud.
Ketika Pak Bambang Sudibyo jadi Mendikbud saya masih bekerja di Sampoerna Foundation. Salah satu program SF adalah mendirikan sekolah bisnis dan manajemen bekerja sama dengan ITB dan diberi nama SBM ITB. Jadi dulu kampusnya SBM ITB selama tiga tahun (2016 – 2019) itu di gedung Sampoerna Strategic Square. Peresmian sekaligus kuliah perdana SBM ITB waktu itu diberikan oleh Pak Bambang Sudibyo yang memang adalah dosen ekonomi di UGM. Saya ikut hadir mendengarkan kuliah perdana SBM ITB ini. 😁
ANIES BASWEDAN

Dengan Anies Baswedan saya sudah mengenalnya waktu beliau masih jadi rektor di Paramadina. Kami sudah mendiskusikan soal Gerakan Indonesia Membaca sebelum beliau jadi Mendikbud. Saya sudah mengajukan program Sustained Silent Reading yang saya usulkan padanya begitu beliau naik jadi Mendikbud.
Pada tahun 2009 (kalau tidak salah) saya, Ahmad Rizali, dan Sudirman Said (kemudian jadi Meneg ESDM) sepakat bahwa kami harus melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan pada masalah rendahnya budaya baca bangsa. Saya lalu membuat sebuah konsep dengan nama Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang lengkap baik Visi, Misi, maupun Strateginya. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan budaya baca bangsa secara nasional. Pokoknya kami yakin bahwa konsep tersebut akan mampu membuat sebuah perubahan pada budaya baca bangsa karena skalanya adalah nasional.
Meski demikian kami sadar bahwa kami membutuhkan seorang sosok atau figur yang mampu membawakan konsep GIM tersebut dengan baik. Akhirnya pilihan kami jatuh pada Mas Anies Baswedan. Beliau saat itu masih jadi Rektor Paramadina dan belum lama pulang dari Amerika. Kami yakin beliau adalah sosok yang sangat cakap untuk menjalankan program yang kami harapkan menjadi gerakan nasional ini. Alasannya jelas, selain beliau adalah sosok yang cerdas dan punya jaringan yang luas beliau adalah Media Darling, seseorang yang sangat disukai untuk dikutip dan diwawancarai oleh media. (Saya jadi ingat ketika kami, yaitu saya, Ahmad Rizali, dan Pak Bagiono DS, mendatangi Pak Gatot HP dan Pak Indra Djati Sidi untuk kami ajak masuk ke IGI. We always try to find ‘good singers’.). Sila baca kisahnya di sini.
Gerakan Literasi Sekolah yang saya gulirkan di mana-mana diapresiasi olehnya dan bahkan diluncurkan sebagai program nasional. Program ini kemudian masuk pada Permendikbud 21/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti dengan beberapa kegiatan wajib di sekolah. Salah satunya adalah Membaca 15 Menit Setiap Hari Buku Non-pelajaran sebelum pelajaran dimulai. Sejak itu saya lalu sibuk berkeliling ke mana-mana di seluruh Indonesia untuk menyosialisasikan dan menginisiasinya. Dan berhenti ketika Anies dicopot dan digantikan oleh Muhadjir.
NADIEM MAKARIM
Dengan Nadiem Makarim saya tidak kenal karena saya sudah lama meninggalkan dunia kang aow ketika beliau naik jadi Mendikbud. Lagipula Nadiem bukan berasal dari dunia pendidikan. Tapi ketika beliau naik jadi mentri ia berjanji untuk menggunakan 100 hari awal kerjanya dengan mendengarkan dan menerima masukan dari semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia dengan mengundang mereka. Saya bersama 40 tokoh pendidikan diundang pada Forum Silaturrahmi Mendikbud pada 1 Nopember 2019 di Gedung A lantai 2 Kemendikbud. Ya disitulah saya kenal dengan beliau. Sekarang saya bekerja di Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (BAN PDM). Artinya saya bekerja di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim sebagai Mendikbudristekdikti (ristek dan dikti masuk jadi satu).
Sebentar lagi Prabowo akan naik sebagai presiden. Entah siapa yang akan ia angkat sebagai Mendikbud. Mudah-mudahan orang yang sudah saya kenal atau mudah-mudahan saya bisa kenal dengan beliau. 😁
Balikpapan, 15 Agustus 2024
Satria Dharma