Saat olahraga pagi dan jalan melalui kompleks-kompleks perumahan saya melihat semakin banyak rumah-rumah yang dijual dan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Kadang dalam satu gang ada 3 atau 4 rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Ada yang dalam status dikontrakkan, disewakan, dijual, atau yang dibiarkan begitu saja. Rumah yang dibiarkan begitu saja dan tidak pernah didatangi oleh pemiliknya jelas akan hancur dan roboh pelan-pelan. Kadang juga ditumbuhi oleh tanaman yang akhirnya bahkan menutupi rumah tersebut. Rumahnya sudah berubah menjadi hutan. Kalau rumah yang ditinggalkan sekitar 20 tahun lebih saja sudah menjadi hutan bayangkan jika ada kota yang ditinggalkan oleh penduduknya selama ratusan atau ribuan tahun. 😎
Kompleks perumahan saya sendiri di Rungkut Surabaya tampaknya sudah berusia sekitar 40 tahunan sejak pertama kali dibangun. Kami sendiri bukan penghuni awal di sana. Kami membeli rumah dan merenovasinya sekitar 24 tahun yang lalu. Anak-anak saya masih kecil dan tinggal bersama kami. Kini beberapa sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Tentunya yang sudah tinggal sejak awal sekitar 40 tahun yang lalu sudah lebih tua daripada saya dan anak-anaknya sudah pergi mencari hidupnya sendiri di berbagai kota dan daerah. Sebagian besar tentunya sudah meninggal dan yang masih hidup akan tinggal sendiri di rumah mereka. Kalau akhirnya anak-anaknya mengajak orang tuanya ikut bersama mereka di tempat baru mereka tinggal maka pilihannya adalah rumah mereka akan dikontrakkan, disewakan, dijual, atau dibiarkan begitu saja. Mau disewakan, dikontrakkan, atau dijual pun belum tentu laku. Akhirnya ya dibiarkan begitu saja sampai rusak. Sayang sekali…🥺
Setiap kali melihat rumah yang ditinggalkan begitu saja saya selalu merasa sayang dan prihatin. Begitu banyak orang yang tidak punya rumah dan butuh tempat tinggal yang layak sedangkan ini rumah yang bagus dan berada di lokasi dan lingkungan yang bagus ditinggalkan begitu saja. Sungguh sebuah kemubaziran. Saya selalu bilang pada istri saya yang menemani saya olga pagi bahwa jangan sampai kita punya harta atau aset yang mubazir seperti itu. Saya merasa bersalah jika ada rumah atau aset kami yang terbengkalai begitu saja. Untungnya salah satu rumah pertama yang saya beli dan kemudian kami tinggalkan di Balikpapan sekarang sudah ada yang menempati. Bertahun-tahun kami pasang tulisan ‘Dijual’ tapi tidak laku-laku (mbok pikir gampang tah dodol omah iku..?!). Kok ya kebetulan tetangga belakang rumah anaknya menikah dan pingin keluar dari rumah mamaknya. Sekarang mereka tinggal di sana dengan sewa rumah hanya 1/3 dari biaya kos. Win-win solution… 😎
Kompleks perumahan mana pun lama kelamaan pasti akan ditinggalkan oleh penghuninya, sebagus apa pun dan semewah apa pun. Itu sudah alamiah. Jangankan rumah, bahkan sebuah desa bisa ditinggalkan oleh penduduknya dan jadi kosong karena alasan yang sama. Penghuni awal akhirnya semakin tua dan meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang mau menempati karena mereka punya kehidupan sendiri di kota atau daerah lain. Lalu desa itu akan semakin sepi dan semakin sepi… Maut menghampiri. 😁
Pagi ini saya membaca berita tentang sebuah pedesaan bernama Nanmoku di Jepang yang ditinggalkan oleh penduduknya dan semakin sedikit yang tinggal. Di sepanjang jalan, banyak bangunan yang tidak terpakai dan ditutup papan. Demikian pula, di desa luas yang membentang di lereng bukit di lembah hijau ini, banyak rumah yang terbengkalai. Banyak bangunan di jalan utama Nanmoku ditutup. Dalam bahasa Jepang, tempat tinggal seperti itu disebut “akiya” – rumah yang sudah tidak ditinggali lagi.
Jepang memang mengalami masalah nasional dengan semakin sedikitnya generasi mudanya dan semakin banyaknya orang tua. Di Nanmoku 67 persen penduduknya kini berusia di atas 65 tahun, menjadikannya desa dengan populasi tertua di dunia. Padahal ketika Nanmoku didirikan pada tahun 1955, tempat ini menampung lebih dari 10.000 orang. Sekarang sekolah SMP-nya terpaksa ditutup karena kekurangan siswa.
Penduduknya sudah lama tidak melahirkan anak-anak lagi. Komunitas ini adalah salah satu dari 20 komunitas di Prefektur Gunma yang menurut para ahli bisa hilang pada tahun 2050.
“Ketika saya masih kecil, ada banyak orang di desa, banyak orang yang bekerja di bidang kehutanan,” kenang Takayo Ichikawa, 75, seorang warga yang sudah lama tinggal di sana. “Saat itu ramai, sungguh menyenangkan tinggal di sini.”
Sektor kehutanan dan pertanian yang dahulu berkembang pesat di Nanmoku mulai kehilangan lapangan kerja beberapa tahun yang lalu. Tren nasional, termasuk rendahnya angka kelahiran dan migrasi generasi muda ke kota-kota besar di negara ini, telah menurunkan jumlah penduduk.
“Sekarang,” katanya, “Saya terkadang merasa kesepian karena tidak banyak orang di sini.”
Pemerintahan Nanmoku berusaha menjaga desa tersebut tetap hidup dengan menarik penduduk baru yang lebih muda. Mereka harus berupaya keras agar desa tersebut didatangi dan ditinggali oleh anak-anak muda. Walikota telah membuka dua panti jompo baru dalam beberapa tahun terakhir, sebagian untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat usia kerja. Kaum muda juga dapat menjalani tugas tiga tahun di Nanmoku dalam korps revitalisasi komunitas pemerintah.
“Seluruh populasi di Jepang menyusut, jadi tidak realistis untuk berpikir kita bisa meningkatkan populasi desa ini saja,” kata Jin Takayanagi, yang merupakan bagian dari tim beranggotakan tiga orang di pemerintahan desa yang bertugas menarik penduduk baru. Sebaliknya, Takayanagi mengatakan desa tersebut hanya berusaha mengurangi rata-rata usia dari dua pertiganya yang berusia di atas 65 tahun menjadi sekitar 40%.
“Jika kami memiliki anak-anak, remaja, dan lansia, kami akan memiliki tiga generasi yang bekerja bersama, dan desa kami dapat bertahan,” kata Takayanagi.
Nanmoku, seperti kota-kota lain di Jepang, mengiklankan rumah-rumah terbengkalai secara online untuk menarik pembeli yang tertarik dengan properti murah. Tugas Satomi Oigawa adalah terhubung dengan orang-orang yang menyatakan minatnya terhadap rumah tersebut dan menunjukkan properti yang mungkin mereka minati. Dia juga menampilkan keindahan alam Nanmoku yang luar biasa, termasuk jurang yang dalam tempat Sungai Nanmoku mengalir dalam air terjun berbusa.
“Alamnya sangat kaya dan masyarakatnya sangat ramah,” kata Oigawa berpromosi sambil berdiri di samping air terjun.
Bagaimana kalau warga Indonesia saja yang datang dan tinggal di sana? Boleh nggak, Sensei?
Balikpapan, 17 Agustus 2024
Satria Dharma