Seorang anak bernama Dwi dari sebuah desa di Trenggalek punya keinginan sederhana, yaitu ingin mandiri setelah lulus sekolah menengah. Bagi anak-anak dari kalangan menengah ke atas setelah lulus SMA maka kuliah biasanya adalah semacam keharusan di mana mereka bisa memilih di mana saja mereka ingin kuliah. Hampir tidak ada masalah meski UKT naik biasanya orang tua mereka akan tetap bisa membiayai kuliah mereka. Nanti kalau sudah sarjana baru mereka berpikir untuk bisa mandiri. Tapi bagi Dwi, si anak desa ini, kuliah itu cita-cita yang terlalu tinggi. Ia tinggal di desa dan keluarganya tidak punya biaya untuknya berkuliah di kota. Jadi bisa hidup mandiri adalah cita-citanya saat itu. Pokoknya harus bisa hidup mandiri. Satu hal yang ia tahu bahwa untuk bisa mandiri maka ia harus keluar dari rumahnya di desa. Perkara lainnya akan menyusul. Jadi itu dulu yang harus ia tempuh, keluar dari desanya dan melihat apa peluang yang terbuka untuknya. Dengan keluar dari desanya maka akan banyak hal baru yang akan ia lihat dan pelajari. Istilah populernya adalah ‘mengadu nasib’. 😁
Salah seorang pamannya, suami dari kakak ibunya, kebetulan bekerja sebagai tukang yang biasa bekerja membangun rumah di berbagai kota. Ketika sekolahnya di SMK telah selesai ia lalu meminta ijin untuk ikut bekerja sebagai tukang batu di mana pamannya ini bekerja. Pamannya setuju membawanya dan berangkatlah Dwi ke Balikpapan di tahun 2009. Dwi senang sekali bisa ke luar dari desanya untuk bekerja di Balikpapan.
Sambil bekerja sebagai tukang batu Dwi mencari-cari peluang apa yang bisa ia peroleh di Balikpapan. Mengerjakan proyek rumah kan tidak lama. Jadi ia perlu pekerjaan baru setelah itu. Kebetulan si pemilik rumah yang ia kerjakan bersama pamannya tersebut kenal baik dengan rektor perguruan tinggi Stikom Balikpapan. Ia lalu menyampaikan keinginannya untuk bisa bekerja di kampus tersebut. Stikom Balikpapan, waktu itu adalah satu-satunya perguruan tinggi IT di Balikpapan. Waktu ditanya apakah Dwi bisa mengoperasikan komputer ia menjawab bahwa ia belum pernah pegang komputer. Ia memang lulusan SMK tapi jurusan bangunan. Tapi ia berjanji akan belajar keras untuk bisa belajar dan mengoperasikan komputer. Pokoknya kalau bisa diterima ia akan belajar dan bekerja keras untuk mencapai standar kompetensi karyawan yang diharuskan oleh kampus tersebut.
Si pemilik rumah kemudian menghubungi Rektor Stikom Balikpapan dan minta bantuan untuk menerima Dwi sebagai karyawan di kampus tersebut, berapa pun gajinya asal ada tempat tinggal untuknya. Pak Rektor setuju.
Begitu pengerjaan renovasi rumah selesai semua tukang balik ke Jawa tapi Dwi tidak. Ia kemudian bekerja di kampus tersebut. Satu langkah lagi telah dicapai oleh Dwi. Ia kini bisa bekerja di sebuah lembaga dan punya penghasilan tetap meski hanya sebagai karyawan lulusan SMK.
Setelah bekerja Dwi lalu memiliki pandangan baru. Ia melihat sebuah peluang untuk menggapai cita-cita baru. Ia ingin menjadi sarjana IT. Dan keinginan tersebut tampak di depan matanya. Ia lalu berupaya untuk bisa ikut kuliah di kampusnya. Jadi sambil bekerja ia ingin kuliah juga. Ia lalu memohon agar bisa ikut kuliah pada rektornya. Pak Rektor setuju. Dwi kemudian ikut kuliah jurusan Teknik Informatika di kampus tersebut. Ia bekerja sambil kuliah. Dengan demikian ia punya penghasilan dan tidak perlu minta biaya apa pun pada keluarganya di desa. Ia juga bisa kuliah di bidang IT tanpa harus membebani orang tuanya. Tanpa terasa empat tahun berlalu dan Dwi berhasil lulus dan diwisuda. Dwi merasa sangat bersyukur bahwa cita-citanya tercapai. Ia bukan hanya bisa mandiri dengan bekerja tapi lebih daripada itu adalah ia bisa menjadi sarjana IT dengan upayanya sendiri. Sungguh sebuah lompatan yang cukup membanggakan. 👍😁
Setelah lulus S-1, Dwi melihat peluang baru lagi, yaitu menjadi dosen di kampusnya. Ia lalu memiliki tekad baru untuk bisa menjadi dosen di kampusnya. Tapi untuk bisa menjadi dosen Ia harus kuliah lagi S-2. Syukurlah bahwa kampusnya kuliah dan bekerja juga mendukungnya. Ia lalu meneruskan kuliahnya di Jawa. Tak lama kemudian ia pun lulus dan kembali ke kampusnya dengan membawa gelar M.Kom alias Magister Komputer. Dengan gelar barunya ini ia pun bisa diangkat menjadi dosen. Dwi yang semula hanya tukang batu itu kini adalah seorang dosen dengan gelar magister di bidang informatika. Sebuah lompatan besar lagi…! 😁
Dwi datang ke Balikpapan sebagai tukang batu pada tahun 2009. Setelah belasan tahun ia kini bergelar master di bidang informatika (S.Kom, M.Kom). Ia kini juga telah beristri dan punya satu anak. Kini ia juga telah memiliki rumah dengan membeli Rumah Jokowi dengan mengangsur melalui bank. Istrinya juga bekerja di kampus yang sama jadi mereka berangkat dan pulang bekerja bersama. Dwi sekarang menjabat sebagai Kepala Biro Akademik selain menjadi dosen di kampusnya yang sekarang telah menjadi universitas.
Bagi saya apa yang diraih oleh Dwi ini sebuah prestasi yang luar biasa. Ia yang anak desa dengan hanya berbekal tekad dan keinginan untuk mandiri dalam belasan tahun telah bermetamorfosis menjadi dosen di kota. Ia berhasil menyelesaikan kuliah sampai magister, punya pekerjaan dan jabatan yang bagus, sudah punya rumah di usia masih muda, punya istri dan anak. Itu semua tidaklah mudah. Prestasinya itu bahkan melebihi saya di usianya yang belum 35 tahun tersebut. Saya baru menikah di usia 35 tahun dan baru punya rumah kayu dan tripleks di usia 40 tahun lebih. Saya kagum pada keberhasilan Dwi ini.
Saya menulis ini dengan harapan agar kisah ini dibaca oleh anak-anak muda lainnya agar mereka juga punya tekad dan harapan untuk sukses lepas mandiri dari rumah orang tua. Selalu ada satu dan lain cara untuk berhasil dalam hidup ini. Kita hanya harus BERANI mengambil resiko dan tidak pilih-pilih dalam menempuh jalan hidup. Tidak ada sukses tanpa keberanian dalam mengambil resiko. Tidak ada sukses tanpa perjuangan untuk mencapainya. Semakin berat dan sulit perjuangannya semakin manis kesuksesan yang bakalan diperoleh. Tapi kita harus selalu percaya bahwa Tuhan menyayangi dan mengasihi mereka yang mau berjuang untuk hidupnya meski harus bersakit-sakit dan bahkan berdarah-darah.
Balikpapan, 17 Juni 2024
Satria Dharma