Selama tiga hari di Azerbaijan tidak pernah sekali pun saya melihat ada anjing berkeliaran atau melihat orang membawa anjing piaraan berjalan-jalan. Yang banyak adalah kucing yang berkeliaran bebas dan bahkan patung kucing. Setelah saya pikir-pikir saya berkesimpulan bahwa orang Azerbaijan mungkin jarang yang memelihara anjing karena mereka memang mayoritas muslim.
Pagi ini kami akan mengunjungi QOBUSTAN (atau Gobustan). Dari Qobustan kami akan menuju ke Sakhi yang berada di Utara. Cuaca diperkirakan antara 10 – 22 derci tapi kami akan lebih banyak di bis karena perjalanan yang cukup jauh.
Taman Nasional Gobustan (Qobustan) adalah Situs Warisan Dunia UNESCO di Azerbaijan, sekitar 60-70 km barat daya Baku. Tempat ini terkenal dengan ribuan ukiran batu prasejarah (petroglif) berusia hingga 20.000 tahun, gunung lumpur aktif, dan lanskap berbatu yang menakjubkan dari zaman Neolitikum dan Perunggu.
Gobustan adalah rumah bagi berbagai petroglif batu, peninggalan, ukiran, dan gunung berapi lumpur. Para peneliti menyebut Gobustan sebagai peninggalan era pasca-apokaliptik. Jadi ini seperti kita mendatangi alam di ujung dunia ribuan tahun yang lalu.
Taman Nasional Gobustan, yang dikenal sebagai Lanskap Budaya Seni Batu Gobustan, adalah salah satu taman nasional yang paling banyak dikunjungi di Azerbaijan karena memang fantastis. Taman Nasional Gobustan terkenal karena gunung berapi lumpur, ukiran kuno, dan batu gas di wilayah tersebut. Gobustan dinyatakan sebagai landmark bersejarah nasional pada tahun 1966 untuk melestarikan karya seni yang indah.
Gobustan meliputi tiga dataran tinggi berbatu di wilayah semi-gurun Azerbaijan tengah. Penjelajah terkenal Norwegia, Thor Heyerdahl, juga telah berulang kali mengunjungi wilayah ini. Ia mengenali gambar-gambar perahu di gua-gua di beberapa situs arkeologi sebagai salah satu gambar perahu tertua yang dikenal di dunia. Setelah rekonstruksi pada tahun 2012, Museum Qobustan dibuka dengan koleksi menakjubkan yang terdiri dari lebih dari 100.000 material arkeologi.
SHAKI
Dari Qobustan kami menuju ke Shaki yang berjarak sekitar 250 km dari Baku. Kami akan mengunjungi Shaki Palace (istana Shaki Khan)Istana Shaki Khan adalah kawasan bersejarah di kota Shaki, Azerbaijan, yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 7 Juli 2019. Monumen paling menonjol dan berharga dari abad ke-18 di Azerbaijan adalah Istana Khan Sheki. Istana ini dibangun pada tahun 1752-1762 sebagai kediaman musim panas Hussein-khan Mushtad, cucu dari Gadzhi Chelebi yang agung. Istana dua lantai yang sangat indah ini memiliki interior dan eksterior yang megah. Fasad istana dihiasi dengan lukisan yang menampilkan adegan perburuan dan perang, serta pola geometris dan tumbuhan yang rumit. Di tengahnya terdapat jendela kaca patri besar yang terbuat dari mosaik kaca aneka warna (hingga 5.000 keping kaca digunakan di setiap jendela persegi). Jendela-jendela kecil lainnya di istana juga terbuat dari potongan kaca berwarna dan ditutupi dengan kisi-kisi batu berlubang.
Istana Khan Shaki, yang dibangun pada tahun 1797 sebagai kediaman musim panas para Khan Shaki, merupakan bangunan utama di kawasan ini dan dikenal sebagai salah satu contoh penting arsitektur serta warisan budaya periode tersebut. Bahan dasar untuk membangun istana ini adalah batu bata mentah, batu sungai, pohon platanus, dan pohon ek. Yang paling menakjubkan adalah tidak ada satu pun paku atau lem yang digunakan dalam pembangunannya! Semuanya berada di tempatnya berkat keahlian khusus, rahasia yang telah hilang dan kini dihidupkan kembali oleh para pengrajin lokal. Faktanya, istana ini membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk dibangun: dua tahun untuk membangun bangunan dasar, dan delapan tahun untuk membuat semua dekorasinya.
Kami menginap di Shaki Palace Hotel di dekat museum malam ini. Hotel yang bagus dan nyaman meski kamarnya tidak sebesar di Wyndham kemarin.
Shaki, Azerbaijan, 10 Mei 2026
Satria Dharma




























