Dalam tur kali ini kami bersama lagi dengan beberapa teman traveling lama. Saya memang mengajak Dr. Susanti dan Dr. Danarto untuk ikut tur Kaukasus ini. Dulu kami traveling bersama waktu ke Balkan. Selain itu ada pasangan dokter bestie, Dr. Endang dan Dr. Erlina, yang bersama kami traveling ke Xinjiang kapan hari. Selain itu ada adik kandung saya Indah Sukmawati yang memang sering traveling keluarga bersama. Jadi ini seperti reuni juga.
Kami menginap di Wyndham hotel tua yang kamarnya luas, dua kali luas kamar di Harris Convention Bandung yang sering kami inapi kalau ke Bandung.
Pagi ini cuaca cerah diperkirakan antara 14 – 20 derci. Ini cuaca yang nyaman karena tidak panas dan tidak terlalu dingin. Sangat jarang ada hujan di Azerbaijan. Di musim dingin pun salju juga tidak banyak.
Hari ini kebetulan merupakan Victory Day. Victory Day atau Hari Kemenangan adalah hari libur yang memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman pada tahun 1945. Hari libur ini pertama kali dirayakan di 15 republik Uni Soviet setelah penandatanganan Instrumen Penyerahan Jerman pada larut malam tanggal 8 Mei 1945 (9 Mei Waktu Moskow). Hari ini juga dirayakan oleh negara Azerbaijan karena 600 ribu warga negara ini ikut berperang waktu itu dan hanya separohnya yang kembali. Jadi kemenangan Uni Sovyet adalah kemenangan mereka juga.
Tour kami pagi ini adalah sbb:
OLD CITY
Icherisheher, atau Kota Lama Baku. Ini adalah pusat sejarah dan jantung kuno ibukota Azerbaijan yang dikelilingi tembok abad ke-12. Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, kawasan ini terkenal dengan labirin jalan berbatu, Istana Shirvanshahs, dan Menara Maiden yang misterius. Tempat ini adalah perpaduan unik antara museum terbuka, hunian penduduk, dan pusat kuliner tradisional. Tempat ini menjadi kebanggaan bagi setiap warga negara Azeri. Meskipun luasnya hanya 22 hektar, kota ini memiliki ratusan monumen bersejarah, empat di antaranya penting di dunia dan 28 di antaranya penting di tingkat lokal.
Icherisheher adalah kota unik di dalam kota Baku yang memiliki infrastruktur dan komunitas perumahan sendiri. Lebih dari 1300 keluarga tinggal di Icherisheher dan kota ini memiliki sejumlah museum, 18 hotel, dan lebih dari 100 fasilitas komersial dan katering.Old City Baku Diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000.
MAIDEN’S TOWER
Menara Maiden (Maiden’s Tower): Struktur misterius yang ikonik. Legenda yang paling sering didengar adalah kisah seorang putri yang memilih melompat dari puncak menara ini karena dipaksa menikah. Menara Maiden, yang dikenal dalam bahasa Azerbaijan sebagai “Qız Qalası” dan dalam bahasa Inggris sebagai “Maiden Tower Baku,” adalah bangunan benteng kuno yang menjulang megah di atas tebing di wilayah pesisir Kota Tua, yang dikenal sebagai Icheri Sheher, di Baku. Menara ikonik ini merupakan simbol ibu kota Azerbaijan dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000. Berdiri setinggi 28 meter (92 kaki), menara ini berfungsi sebagai penunjuk yang mencolok di Icheri Sheher. Menariknya, karena Laut Kaspia terletak 28 meter di bawah permukaan laut, dasar Menara Maiden berada di permukaan air, yang berarti bahwa saat kita berdiri di atas menara, kitall berada setinggi permukaan laut.
PALACE OF SHIRVANSHAHS
Istana Shirvanshahs: Kompleks istana abad pertengahan yang megah. Istana Shirvanshahs di Kota Tua Baku dibangun abad ke-15 oleh Dinasti Shirvanshah sebagai pusat pemerintahan baru setelah gempa besar mengguncang ibu kota sebelumnya. Kompleks ini mencakup istana, masjid, makam kerajaan, dan Divankhana yang dirancang harmonis mengikuti kontur bukit dengan gaya arsitektur Islam-Persia berornamen ukiran batu halus. Termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, Istana Shirvanshahs kini menjadi museum yang melestarikan sejarah panjang perubahan kekuasaan serta identitas budaya Azerbaijan.
HOUSE OF TOLERANCE
Rumah Toleransi di Baku, yang terletak di Jl. Boyuk Gala 10 di Icherisheher, mempromosikan perdamaian dan dialog antaragama melalui pameran edukatif tentang keragaman budaya. tempat ini menyoroti sejarah kerukunan beragama di Azerbaijan dan berfungsi sebagai pusat penelitian tentang toleransi. upaya mempromosikan kerukunan antar agama yang berbeda. Musium ini bertujuan memberikan informasi tentang hak asasi manusia dan keragaman budaya. Musium ini terletak di jantung Kota Tua (Icherisheher).
CARAVANSERIES
Karavanserai di Baku, khususnya di Kota Tua (Icherisheher), adalah penginapan bersejarah abad ke-14-15 yang kini berfungsi sebagai tempat wisata dan restoran. Contoh utamanya adalah Multani Caravanserai (abad ke-15 untuk pedagang India) dan Bukhara Caravanserai (abad ke-15 untuk pedagang Asia Tengah), yang keduanya menampilkan arsitektur halaman tengah yang khas. Istilah “caravanserai” diterjemahkan menjadi “istana di jalur perdagangan”, meskipun sebutan ini tidak selalu sesuai dengan kenyataan tempat-tempat ini. Kebanyakan karavanserai adalah bangunan sederhana berlantai satu yang berbentuk persegi atau persegi panjang, dengan fasilitas yang minim. Di sepanjang rute gurun yang keras, orang mungkin menemukan kandang sederhana dengan halaman dan sumur, yang menyediakan tempat istirahat penting bagi pelancong dan hewan mereka. Namun, beberapa karavanserai memiliki skala yang lebih besar, menyerupai benteng kecil yang dirancang untuk mencegah potensi serangan. Secara arsitektur dikenal sebagai karavanserai “tertutup”, bangunan ini memiliki satu atau dua lantai dan dibentengi dengan benteng. Di dalamnya, terdapat gudang, kandang kuda, kandang hewan, dan tempat tinggal bagi pelancong.
Kami bertemu dengan sekumpulan anak-anak yang sedang berlibur. Ketika saya sapa ternyata mereka sangat senang bisa bertemu dan berbicara dengan turis. Mereka akhirnya mengerumuni kami dan minta foto bersama. Ternyata warga Azerbaijan, utamanya anak-anak, sangat ramah terhadap orang asing. Mereka sangat antusias berfoto dengan kami.
MUSEUM OF MINIATURE BOOKS
Museum Buku Miniatur Baku adalah satu-satunya museum buku miniatur di dunia, yang terletak di bagian kota tua Baku , yang disebut Kota Dalam. Museum ini dibuka pada tanggal 2 April 2002. Sayang sekali bahwa ketika kami datang museum ini sedang tutup sehingga kami tidak bisa melihat isi museum ini.
NOBEL BROTHERS RESIDENCE
Nobel Brothers Residence (Rumah kediaman Nobel Bersaudara) di Baku, yang dikenal sebagai Villa Petrolea, terletak di distrik “Black City” dan dibangun antara 1882-1884 sebagai tempat tinggal keluarga Nobel. Vila ini merupakan salah satu situs sejarah industri terpenting di Azerbaijan yang melestarikan warisan Nobel Bersaudara hingga tahun 1920.
Villa ini kini berfungsi sebagai Museum Rumah Nobel Bersaudara yang dipugar oleh Baku Nobel Heritage Fund untuk menampilkan sejarah, perabotan, dan kehidupan keluarga tersebut. Pada masanya, vila ini adalah gedung pertama di Baku yang dilengkapi dengan saluran telepon dan sistem ventilasi.Azerbaijan adalah salah satu produsen minyak tertua di dunia dan kota Baku serta Semenanjung Absheron telah lama dikenal sebagai lokasi bersejarah untuk minyak. Setelah munculnya industri di ladang minyak Baku pada tahun 70-an abad lalu, lebih dari selusin perusahaan asing mengalihkan perhatian mereka ke wilayah penghasil minyak terkaya ini. Perusahaan asing pertama di Baku didirikan oleh saudara-saudara Nobel – Alfred, Ludvig, dan Robert. Ludwig Nobel, pindah ke Baku pada musim gugur tahun 1876. Pada tahun 1882, Ludwig mengundang lebih banyak staf teknis ke Baku dari Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Jerman, dan mendirikan sebuah koloni yang ia sebut Villa Petrolea, yang terletak di distrik yang pada saat itu disebut, dan masih disebut hingga sekarang, sebagai “Kota Hitam” di Baku. Produk minyak dari usaha mereka didistribusikan ke seluruh Rusia melalui kereta api dan kapal ke Asia Tengah dan Eropa. Konon, 12 persen dari hadiah Nobel berasal dari saham Alfred di Perusahaan Minyak Saudara Nobel di Baku. Alfred Nobel sendiri adalah penemu dinamit. Meskipun dianggap sebagai “pedagang kematian” karena penemuannya digunakan dalam perang, Nobel menulis wasiat untuk menggunakan kekayaannya untuk mendirikan Penghargaan Nobel demi kemanusiaan.
Pada pertengahan tahun 70-an abad lalu, Kemitraan “Saudara Nobel” mengakuisisi beberapa area terkait minyak dan sebuah pabrik minyak tanah kecil di Baku. Dalam waktu singkat, Saudara Nobel memiliki sumur minyak di Surakhani, Balakhany, dan Bibi-Heybat. Setelah menyewa lahan di kota Baku, mereka membangun jembatan untuk kilang minyak, asam sulfat, peleburan tembaga, pabrik besi cor, dan kapal. Dan mereka menjadi kaya raya karenanya.
Kami kembali ke hotel pada jam 5 sore dengan tubuh cukup lelah karena berjalan seharian.
Sabtu, 9 Mei 2026
Satria Dharma







































