Seorang teman di WAG mengirim video Tiktok seseorang konten creator yang jualan buku berjudul “Al-Qur’an Medis”. Videonya juga ada di Instagram. Dalam video itu dia mengatakan bahwa pejabat yang pada masa menjabatnya suka menipu rakyat, suka membohongi rakyat nanti kalau jabatannya sudah selesai maka seluruh tubuhnya akan sakit semua dan bahkan wajahnya mungkin akan berubah dan rusak.
Menurutnya itu ada penjelasannya pada Al-Qur’an. Ia lalu menunjukkan sebuah buku dengan judul “Al-Qur’an Medis” dan membuka bagian “Dampak Buruk Berbohong bagi Kesehatan” lalu merujuk pada Al Baqarah ayat 9. Katanya pada buku tersebut fakta ilmiah berdasarkan Jurnal Kesehatan, kebohongan dapat meningkatkan hormon stress yang menyebabkan menurunnya system imun, gangguan tidur, dan masalah kardiovaskuler. Tapi tidak ada disebutkan tentang seluruh tubuhnya akan sakit semua dan wajahnya akan berubah dan rusak. Tidak ada…
Saya kenal dengan orang ini. Kenal baik bahkan. Tapi saya harus mengatakan bahwa justru dia yang BERBOHONG kalau mengatakan bahwa pejabat yang berbohong akan berubah wajahnya setelah tidak menjabat berdasarkan Al-Quran. Sama sekali tidak ada ayat yang menyatakan demikian. Boleh buka ayat mana saja saya jamin tidak ada. Bahkan di buku yang dia promosikan itu juga tidak menyatakan demikian. Jadi kalau dia mengatakan bahwa kalau ada pejabat yang suka menipu rakyat dan suka berbohong pada rakyat akan berubah wajahnya maka itu hanyalah PENDAPAT dan PERSEPSINYA pribadi yang sama sekali tidak ada dalam Al-Qur’an bahkan tidak ada disebutkan dalam buku yang ia promosikan tersebut.
Hal buruknya dari persepsi ngawurnya tersebut adalah videonya kemudian disisipi video wajah Pak Jokowi yang wajahnya bengkak sehingga seolah bukti dari pejabat yang suka menipu rakyat adalah Pak Jokowi. Video aslinya memang tidak ada sisipan wajah Pak Jokowi tapi video jualan bukunya telah dua kali mampir di WAG saya dengan sisipan foto Jokowi yang jelas-jelas merupakan fitnah.
Saya menyayangkan teman baik saya ini yang membuat pernyataan ngawur dan salah tentang ayat Al-Qur’an. Ayat 9 Surat AlBaqarah bunyi dan artinya begini :
“yukhâdi‘ûnallâha walladzîna âmanû, wa mâ yakhda‘ûna illâ anfusahum wa mâ yasy‘urûn.” (Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.)
Jadi sama sekali tidak ada penjelasan mengenai apa yang disampaikannya itu. Ayat ini tidak berbicara soal akibat yang terjadi pada FISIK mau pun PSIKOLOGIS dari orang-orang yang menipu atau suka berbohong. Lebih-lebih lagi dikaitkan dengan sosok PEJABAT yang suka menipu atau berbohong. Itu jelas-jelas ngawur dan justru merupakan KEBOHONGAN yang mengatasnamakan ayat Al-Qur’an. Darimana teman saya tersebut memperoleh kesimpulan yang ia sebarluaskan tersebut? Lagipula kok dia hanya menunjuk pada pejabat yang suka berbohong dan menipu. Apakah ayat Al-Qur’an tentang akibat berbohong hanya akan menyasar pada pejabat? Lha konten kreator seperti dia, para akademisi, dokter, ahli hukum, pengacara, hakim, jaksa, dll kalau berbohong apakah tidak terkena akibat dari kebohongannya? Kok cuma pejabat saja yang ia jadikan contoh?
Jadi jelas-jelas bahwa teman saya ini telah menyelewengkan ayat Al-Qur’an khususnya Al-Baqarah ayat 9 untuk menyimpulkan sesuatu yang tidak benar dan bahkan tidak dikatakan dalam buku itu sendiri. Intinya adalah ia telah berbohong dengan mengatasnamakan ayat Al-Qur’an. Dan ini kebohongan yang sangat dikecam dalam agama. Berbohong sendiri adalah sebuah dosa besar bagi umat Islam tidak peduli Anda pejabat atau rakyat kecil. Mengklaim sesuatu sebagai firman Allah (Alquran) padahal bukan, ini dianggap sebagai bentuk penistaan atau pemalsuan terhadap agama karena merusak integritas teks suci dan menyesatkan orang lain dengan menggunakan otoritas agama dengan pendapat yang palsu. Alquran sendiri dan banyak hadis Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang keras perbuatan mengada-ada atau berbohong atas nama agama.
Membuat kedustaan atau fitnah atas orang lain, merupakan dosa besar yang diancam dengan ancaman mengerikan. Salah satu hadist menyatakan begini :
“Barangsiapa mengatakan tentang seorang Mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allâh akan menempatkannya di lumpur neraka sehingga dia mempertanggung jawabkan perkataannya”. [HR. Ahmad, no. 5544; Abu Dawud, no. 3599. Dishahihkan al-Albani; dihasankan oleh Syu’aib al-Arnauth].
Jika membuat kedustaan atas nama manusia, merupakan dosa besar dan ancamannya mengerikan, maka akibat buruk dari perbuatan dusta atas nama Allâh tentunya lebih berat!
“Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. [Al-An’âm/6: 21]”
NB : Saya sudah mengirimkan komentar pada FB teman saya tersebut tapi tidak ada jawaban atau pun komen balik darinya.
Denpasar, 2 Februari 2026
Satria Dharma