Seandainya Anda adalah orang terkaya di dunia dan memiliki kekayaan yang luar biasa besar tapi kemudian jatuh sakit dan divonis tidak bisa disembuhkan apa yang akan Anda lakukan? Ingat bahwa sudah tidak ada keajaiban medis yang bisa membantu Anda untuk sembuh lagi. Usia Anda sisa kurang dari setahun lagi.
Ada kisah nyata yang menarik yang mungkin perlu kita renungkan bersama.
Seorang Amerika bernama John Davison Rockefeller pernah menjadi orang terkaya di dunia dan miliarder pertama. Pada usia 25 tahun, ia mengendalikan salah satu kilang minyak terbesar di Amerika Serikat, dan pada usia 31 tahun, ia memiliki kilang minyak terbesar di dunia, The Standard Oil. Pada usia 38 tahun, ia mengelola 90% penyulingan minyak di AS.
Pada usia 50 tahun, dia menjadi orang terkaya di negaranya.
Namun, pada usia 53 tahun, kesehatan Rockefeller merosot drastis. Dia menderita kesakitan yang luar biasa, kehilangan seluruh rambutnya, dan hampir tidak bisa makan apa pun selain sup dan biskuit. Meski kaya raya, dia sengsara. Dokter memperkirakan dia tidak akan hidup satu tahun lagi. 🥺
Menghadapi kematiannya, Rockefeller mendapat pencerahan. Ia menyadari bahwa kekayaannya yang melimpah tidak ada artinya jika ia tidak bisa membawanya. Menyadari hal ini, dia mengambil keputusan penting.
Dia menelepon pengacara, akuntan, dan manajernya, menyatakan niatnya untuk mengabdikan kekayaannya untuk rumah sakit, penelitian, dan kegiatan amal. Ia lalu mendirikan Yayasan Rockefeller, yang tujuan utamanya adalah mendanai penemuan-penemuan medis besar, termasuk Penisilin dan pengobatan Malaria, Tuberkulosis, dan Difteri.
Institut Rockefeller didirikan pada tahun 1910 yang merupakan pusat penelitian pertama di Amerika yang berfokus pada pengobatan penyakit-penyakit utama saat itu: tuberkulosis, difteri, dan demam tifoid. Institut ini membuka sebuah rumah sakit, tempat para ilmuwan dapat dengan cepat menguji penelitian laboratorium mereka pada pasien sebenarnya. Rumah sakit ini menjadi model untuk pusat penelitian klinis masa depan di Amerika Serikat.
Yayasan ini telah lama menjadi pionir di bidang kesehatan global, memimpin kampanyenya sendiri untuk memberantas penyakit cacing tambang (1909-1914), malaria (1915) dan demam kuning (1920an-1950an), dan mendanai penelitian pengembangan vaksin. Inisiatif kesehatan masyarakat ini direplikasi oleh WHO dengan meluncurkan kampanye pemberantasan penyakit cacar, termasuk pada tahun 1966.
Hebatnya, ketika Rockefeller mulai memberikan kembali kekayaannya bagi masyarakat, kesehatannya meningkat secara dramatis. Ia bisa tidur nyenyak lagi dan juga bisa makan lagi. Tak ada terapi dan obat yang menyembuhkannya tapi kesehatannya semakin membaik dan terus membaik. Meskipun diperkirakan meninggal pada usia 53 tahun, ia hidup hingga usia 97 tahun. Perpanjangan umur sebanyak 44 tahun dengan hidup yang penuh berkah.
John Davison Rockefeller mendapat hidayah dan pencerahan justru ketika ia sakit parah dan sudah divonis tidak bisa sembuh. Rockefeller menemukan kekuatan rasa syukur dan filantropi dengan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya. Tindakan ini tidak hanya menyembuhkannya tetapi juga membuatnya merasa sebagai manusia utuh.
Di tahun-tahun terakhirnya, dia merenungkan dalam buku hariannya:
“Tuhan mengajari saya bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya, dan saya hanyalah saluran untuk mengabulkan keinginan-Nya. Hidupku merupakan perjalanan yang panjang dan membahagiakan; penuh dengan pekerjaan dan permainan. Saya melepaskan kekhawatiran, dan Tuhan baik kepada saya setiap hari.”
Surabaya, 2 Juli 2024
Satria Dharma