Seorang ayah melewati kamar tidur putrinya yang sudah menginjak remaja. Kamarnya kosong. Ia memperhatikan kamar tidurnya sangat bersih dan ini tidak lazim. Ia melihat sebuah amplop disandarkan secara mencolok di atas bantal. Sebuah surat ditujukan untuknya. Ia langsung membacanya dengan firasat buruk. Anaknya tidak pernah melakukan hal seperti ini. Dia membuka amplop dan membaca surat itu, dengan tangan gemetar.
“Ayahku sayang. Dengan sangat menyesal dan sedih aku harus menulis surat ini kepada Ayah. Aku harus kawin lari dengan pacar baruku, Billy, karena aku ingin menghindari keributan dengan Ayah dan Ibu.
Aku telah menemukan gairah yang luar biasa dengan Billy. Dia sangat baik, tapi aku tahu Ayah dan Ibu tidak akan menyukainya karena badannya penuh dengan tindikan, tatonya di seluruh tubuhnya, pakaian motornya yang ketat, dan karena dia jauh lebih tua dariku. Ia hampir setua Ayah.
Aku harus pergi dengannya, Ayah. Karena aku sudah hamil. Billy berkata bahwa kami akan sangat bahagia dengan bayi kami nanti.
Dia memiliki sebuah trailer di hutan, dan sudah memiliki setumpuk kayu bakar sepanjang musim dingin. Kami sudah siap.
Kami berbagi impian untuk memiliki lebih banyak anak nanti.
Billy telah membuka mataku terhadap fakta bahwa ganja tidak berbahaya karena tidak menyakiti siapa pun. Kami akan menanamnya untuk diri kami sendiri dan memperdagangkannya dengan orang lain di komunitas kami untuk mendapatkan kokain dan ekstasi yang kami inginkan.
Sementara itu, kami berdoa agar ilmu pengetahuan menemukan obat AIDS yang manjur sehingga Billy bisa sembuh. Dia sungguh pantas mendapatkannya!
Jangan khawatir Ayah, umurku sudah 15 tahun, dan aku tahu cara menjaga diriku sendiri.
Suatu saat nanti, aku yakin kami akan kembali berkunjung kemari agar Ayah bisa mengenal banyak cucu Ayah.
Anakmu tersayang, Jessy.
P.S.
Ayah, semua pernyataan di atas tidak ada yang benar. 🤭 Aku sedang di rumah Tina seperti biasa.
Aku hanya ingin mengingatkan Ayah bahwa ada hal-hal yang lebih buruk dalam hidup daripada raport sekolahku yang ada di meja dapur. Raportku yang buruk bukanlah alasan bagi Ayah dan Ibu untuk bersedih.
Teleponlah, Ayah, kalau Ayah sudah tidak marah dan sudah aman bagiku untuk pulang.
Anak tercintamu, Jessy. 😁