Lahir di sebuah pemukiman Yahudi, didoktrin oleh narasi Zionisme sejak kecil, namun takdir membawa Zohar Chamberlain Regev ke jalur yang sama sekali berbeda.
Dari seorang ateis di Israel, menjadi relawan di kamp pengungsian Tepi Barat, hingga akhirnya memeluk Islam dan bersujud menghadap kiblat. Ia meruntuhkan kenyamanan hidupnya menerjang badai laut Mediterania dan dinginnya penjara Israel demi sebuah kata: Kemanusiaan dan demi satu tujuan: Memerdekakan Palestina.
Ini adalah kisah luar biasa dan menyentuh hati dari seorang wanita Israel bertubuh kecil yang berani menentang kekejaman pemerintahan Zionisme negaranya.
Di sebuah kibbutz (pemukiman komunal) kecil bernama Kfar Hahoresh yang hijau di dekat kota Nazareth, Israel, seorang anak perempuan bermata jernih tumbuh dalam dekapan sebuah keluarga Yahudi. Namanya Zohar Chamberlain Regev. Ia dibesarkan dengan dongeng-dongeng tentang kedamaian, namun setiap kali ia menatap keluar jendela, garis-garis kawat berduri dan tembok beton menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.
Bagi Zohar muda, tanah kelahirannya adalah sebuah teka-teki yang membingungkan. Di sekolah, ia diajarkan bahwa tanah ini adalah hak eksklusif bangsanya. Namun, saat ia melangkah ke batas desa, ia melihat anak-anak Arab-Palestina yang memiliki senyum dan tawa yang sama, namun memikul ketakutan yang jauh lebih besar di pundak mereka. Berbeda dengan mayoritas keluarga Yahudi lain yang menanamkan doktrin Zionisme politik, orang tua Zohar justru menanamkan benih yang tidak biasa di dalam hatinya: benih kemanusiaan tanpa sekat rasisme.
“Mereka adalah tetangga kita, Zohar. Mereka adalah saudara kita,” begitu pesan sunyi yang ia serap sejak kecil.
Waktu berlalu, dan Zohar tumbuh menjadi wanita dewasa yang cerdas. Namun, semakin ia memahami politik negaranya, semakin hatinya tercabik-cabik. Ia melihat ketidakadilan yang sistematis; ia melihat sebuah kota bernama Gaza diisolasi dari dunia, di mana anak-anak di sana tidak tahu seperti apa rasanya tidur tanpa suara dengung drone di langit. Seiring bertambahnya usia, ia mulai menyadari bahwa narasi keagamaan di Israel justru digunakan sebagai instrumen rasisme untuk mendiskriminasi warga Arab. Hal ini sempat membuatnya tumbuh menjadi seorang ateis yang menolak segala bentuk institusi agama karena menganggap agama cenderung memisahkan manusia.
Zohar tahu ia tidak bisa hanya diam menjadi penonton yang nyaman di atas penderitaan orang lain. Di usia 34 tahun, ia mengambil keputusan besar yang mengubah takdir hidupnya. Ia meninggalkan kenyamanan Israel, pindah ke luar negeri, dan sempat menetap lama di Spanyol serta Jerman.
Titik balik terbesar dalam hidupnya terjadi ketika ia memilih untuk masuk ke jantung konflik dan menetap di kota Bethlehem, Tepi Barat, Palestina. Di sana, ia menjadi relawan kemanusiaan selama 2,5 tahun dan tinggal langsung bersama keluarga-keluarga Palestina di dalam kamp pengungsian. Selama masa-masa inilah, pandangannya tentang agama mulai bergeser secara radikal. Ia menyaksikan sendiri bagaimana warga Muslim Palestina yang hidup di bawah intimidasi militer, kemiskinan, dan blokade konstan justru memiliki kedamaian batin, keteguhan moral, dan kemurahan hati yang luar biasa yang bersumber dari keimanan mereka.
Ketika keinginan untuk memeluk Islam mulai tumbuh, Zohar sempat mengalami pergulatan batin karena latar belakang ateisnya. Ia sempat bingung bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya kepada Tuhan secara tulus. Menariknya, sosok yang membantunya meyakinkan hati justru adalah ibu kandungnya sendiri yang seorang Yahudi. Sang ibu mengingatkannya: “Bagaimana bisa kamu bilang tidak percaya? Kamu percaya pada keadilan, kamu percaya pada perjuangan melawan kezaliman.”
Perkataan ibunya membuat Zohar menyadari bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang ia bela selama ini selaras dengan ajaran Islam. Ia mulai mempelajari konsep Jihad yang sesungguhnya—bukan makna terorisme sebagaimana yang sering dipropagandakan media Barat, melainkan esensi jihad sebagai bentuk perjuangan suci melawan ketidakadilan dan penindasan.
Zohar kemudian memantapkan hatinya untuk bersyahadat dan resmi memeluk agama Islam pada tahun 2021. Kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah semakin kokoh setelah ia menikah dengan seorang pria Muslim dan banyak belajar tentang keindahan Islam serta membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan ibu mertuanya.
Jilbab yang kini membingkai wajahnya bukan sekadar simbol agama, melainkan sebuah ikrar: bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan hidupnya untuk membela kaum yang tertindas. Transformasi ini menjadikannya sosok yang paling ditakuti oleh narasi propaganda negaranya sendiri—seorang wanita Yahudi Israel, yang kini bersujud menghadap kiblat, dan berlayar demi memerdekakan Palestina.
Komitmen itu membawanya ke lautan lepas. Zohar bergabung dengan Freedom Flotilla Coalition, sebuah gerakan nekat global yang mencoba mendobrak blokade laut Gaza dengan kapal bantuan kemanusiaan.
Bayangkan malam di tengah Laut Mediterania. Zohar berdiri di geladak kapal, angin laut menerpa jilbabnya. Di dalam palka kapal, ada susu bayi, obat-obatan, dan kursi roda. Di hadapannya, kegelapan laut tiba-tiba dipecah oleh lampu-lampu sorot raksasa dari kapal perang Angkatan Laut Israel. Menggunakan pelantang suara, tentara Israel meneriakkan perintah agar mereka berbalik arah.
Sebagai pemimpin kapal, Zohar tidak gemetar. Ia tahu, di ujung sana, ratusan ribu pasang mata anak-anak Gaza sedang menatap ke laut, menggantungkan harapan pada kapal mereka. Ketika pasukan bersenjata lengkap naik ke atas kapal secara paksa pada Mei 2026, Zohar menghadapinya dengan kepala tegak. Di mata para tentara itu, Zohar bukan sekadar aktivis asing—ia adalah seorang “pengkhianat” yang memegang paspor Israel.
Saat ratusan aktivis warga negara asing langsung dideportasi dengan mudah, Zohar diseret ke sel gelap Penjara Ktziot. Di dalam penjara, ia mengalami ujian batin yang hebat. Para sipir memperlakukannya dengan penuh kebencian, mempertanyakan mengapa seorang wanita Israel memilih mengenakan jilbab dan membela “musuh”. Namun, dinding penjara yang dingin tidak bisa memenjarakan jiwanya. Zohar melakukan aksi mogok makan. Tubuhnya melemah, tetapi suaranya bergaung menembus jeruji besi melalui pengacaranya. Ia tidak meminta belas kasihan; ia menuntut keadilan.
Pada akhir Mei 2026, pengadilan Israel akhirnya terpaksa membebaskannya dengan jaminan, dengan satu syarat yang sangat kejam: Zohar dilarang mendekati atau memasuki wilayah Jalur Gaza selama 60 hari.
Ketika keluar dari gerbang penjara, dengan tubuh yang kurus namun mata yang tetap menyala, Zohar menatap ke arah selatan—ke arah Gaza. Larangan 60 hari itu tidak berarti apa-apa bagi seumur hidup yang telah ia wakafkan untuk perjuangan ini.
Kisah Zohar Chamberlain Regev adalah pengingat abadi bagi dunia: bahwa tembok pemisah tertinggi di dunia bukanlah beton yang berdiri di Tepi Barat, melainkan tembok kebencian di dalam hati manusia. Dan Zohar, dengan jilbabnya dan masa lalu Yahudinya, telah berhasil meruntuhkan tembok itu demi satu kata: Kemanusiaan.
Bandung, 4 Juni 2026
Satria Dharma