Para PEMBELA KEJAHATAN ISRAEL ini benar-benar menakjubkan kegigihannya dalam membela kejahatan Israel. Mereka akan mengeluarkan segala macam argumen untuk membela kejahatan Israel dan akan membantah apa pun argumen dari pihak-pihak yang berkompeten dalam konflik Israel-Palestina ini. Meski pun MISKIN MEMBACA mereka bahkan merasa lebih paham soal konflik Israel-Palestina ini ketimbang PBB dan lembaga HAM dunia internasional yang secara langsung menangani kasus kejahatan perang Israel ini. Bayangkan tingginya kepercayaan diri mereka itu. Cukup dengan nggedabrus mereka sudah merasa lebih paham soal konflik Israel-Palestina ketimbang PBB, Pengadilan Internasional, dan lembaga HAM internasional.
Salah satu alasan mereka adalah bahwa penyebab perang Israel-Palestina ini adalah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kalau saja Hamas tidak menyerang Israel pada saat itu maka tidak akan ada perang antara Israel dan Palestina. Itu kejahatan Hamas terhadap Israel.
Tentu saja itu NGAWUR POL dan ASAL MANGAP…
KONFLIK BERUSIA SEABAD
Konflik Israel-Palestina telah berlangsung lebih dari seabad. Konflik ini seringkali secara keliru dijelaskan sebagai perselisihan agama. Padahal sebenarnya, ini adalah KONFLIK PEREBUTAN WILAYAH antara Israel, yang semula penduduknya adalah imigran dari berbagai negara yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat (AS) dan Negara Barat lainnya seperti Jerman, Inggris, Kanada, Prancis, dan Australia melawan PENDUDUK ASLI Palestina. Akhirnya penduduk asli Palestina yang terpaksa MENGUNGSI ke seluruh dunia, dan DIASINGKAN DARI TANAH AIR MEREKA Selama beberapa dekade oleh para imigran ini. (lihat Jewish Voice for Peace untuk penjelasan singkat).
Akhir Abad ke-19-Awal Abad ke-20): Konflik ini berkembang bersamaan dengan munculnya Zionisme politik dan nasionalisme Arab di bawah Kekaisaran Ottoman, dan semakin intensif selama Mandat Inggris.
Perang 1948 (Nakba): Menyusul Rencana Partisi PBB, pembentukan Israel pada tahun 1948 menyebabkan perang dan PENGUSIRAN 750.000 warga Palestina.
Pendudukan 1967: Perang Enam Hari mengakibatkan Israel menduduki Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza, situasi yang berlanjut hingga saat ini.
Pada November 1967, Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 242 yang menyerukan “penarikan Israel… dari wilayah yang diduduki dalam konflik baru-baru ini” dan untuk mengakhiri “keadaan permusuhan dan penghormatan serta pengakuan terhadap kedaulatan, integritas wilayah, dan kemerdekaan politik setiap negara di kawasan tersebut dan hak untuk hidup damai dalam batas-batas yang aman dan diakui.” Resolusi tersebut menetapkan konsep tanah untuk perdamaian.
8 Juli 2014 Israel melancarkan serangan militer Operasi Protective Edge selama 50 hari di Jalur Gaza. Konflik tersebut melibatkan serangan udara intensif dan invasi darat, yang mengakibatkan lebih dari 2.200 kematian warga Palestina dan 71 kematian warga Israel sebelum gencatan senjata pada 26 Agustus 2014.
Tahun 2021 – Pengusiran warga Palestina di Yerusalem Timur dan bentrokan di Masjid al-Aqsa memicu konflik antara Israel dan Hamas. Lebih dari dua ratus orang di Gaza dan setidaknya sepuluh orang di Israel tewas.
Tahun 2022 – Israel melancarkan operasi kontra-terorisme di Tepi Barat sebagai tanggapan terhadap serangan yang dilakukan oleh warga Palestina terhadap warga Israel Yahudi. Operasi dan kebangkitan kembali konflik yang terjadi berkontribusi pada tahun paling mematikan bagi kedua belah pihak sejak 2005, peningkatan kekerasan yang ternyata terus meningkat pada tahun 2023.
7 Oktober 2023 – Hamas dan Kelompok Bersenjata Palestina Lainnya Melancarkan Serangan Mendadak terhadap Israel. Dan inilah yang katanya awal dari perang dari para PEMBELA KEJAHATAN ISRAEL tersebut. Benar-benar ASAL MANGAP saja mereka itu…
MENGAPA PALESTINA MENOLAK MANDAT INGGRIS?
Para pembela kejahatan Israel selalu mengecam Palestina karena dulu menolak pembagian Palestina yang disebut Britain Mandate. Negara-negara Arab dan para pemimpin Palestina waktu itu menolak Mandat Inggris di Palestina terutama karena hal itu MELANGGAR JANJI KEMERDEKAAN ARAB oleh Inggris, mendorong imigrasi massal warga yahudi ke Palestina, dan mengancam kepemilikan tanah serta masa depan politik mayoritas Arab. Mandat tersebut dipandang sebagai campur tangan kolonial yang menolak hak penentuan nasib sendiri bagi Palestina. Jadi bangsa-bangsa Arab menolak karena Inggris MELANGGAR JANJI DAN SANGAT TIDAK ADIL
Juli 1915 – Maret 1916 Selama Perang Dunia I, Inggris Raya telah menjanjikan kemerdekaan kepada orang-orang Arab Palestina sebagai imbalan atas dukungan mereka melawan Ottoman selama perang. Orang-orang Arab Palestina percaya sesuai dengan korespondensi Hussein-McMahon, Sir Henry McMahon, komisaris tinggi Inggris di Mesir, dan Hussein ibn Ali, yang saat itu menjabat sebagai emir Mekah. Namun pada Mei 1916, Inggris Raya, Prancis, dan Rusia membuat kesepakatan (Perjanjian Sykes-Picot) yang menurutnya, antara lain, sebagian besar wilayah Palestina akan diinternasionalisasi. Palestina saat itu sangat terpukul oleh perang. Selain kehancuran yang disebabkan oleh pertempuran, penduduknya juga menderita kelaparan, epidemi, dan tindakan hukuman Ottoman terhadap nasionalis Arab. Pertempuran besar terjadi di Gaza sebelum Yerusalem direbut oleh pasukan Inggris dan Sekutu di bawah komando Jenderal Sir Edmund (kemudian Viscount ke-1) Allenby pada Desember 1917. Wilayah yang tersisa diduduki oleh Inggris pada Oktober 1918.
November 1917 Arthur Balfour, sekretaris negara Inggris untuk urusan luar negeri, membuat Deklarasi Balfour. Deklarasi Balfour 1917 menjanjikan dukungan Inggris untuk “tanah air nasional bagi rakyat Yahudi” di Palestina. Gelombang imigran Yahudi besar-besaran mulai masuk berbondong-bondong ke Palestina tak lama setelah Deklarasi Balfour ini. Deklarasi Balfour memberikan dasar legal bagi pergerakan Zionis untuk mendorong imigrasi besar-besaran, yang didukung oleh administrasi Mandat Inggris.
Gelombang Pertama Pasca-Balfour (1919–1923): Dikenal sebagai Aliyah Ketiga, sekitar 40.000 hingga 35.000 orang Yahudi (terutama dari Eropa Timur) tiba tak lama setelah Perang Dunia I selesai dan komitmen Inggris mulai diimplementasikan.
Gelombang Besar (1924–1931): Sekitar 80.000 imigran Yahudi tiba, seringkali didorong oleh antisemitisme di Eropa Timur dan kebijakan Zionis.
Puncak Terbesar (Tahun 1930-an): Jumlah imigran melonjak drastis akibat kebangkitan Nazi di Jerman dan Holocaust. Selama periode ini, ratusan ribu Yahudi melarikan diri ke Palestina, yang kemudian mengubah drastis demografi wilayah tersebut.
Jadi jika ditanya mengapa bangsa-bangsa Arab waktu itu tidak menerima pembagian Palestina untuk Israel karena mereka memang merasa DIKHIANATI OLEH INGGRIS dengan perjanjian Balfour tersebut. Bangsa Arab menolak pembagian dua negara (Rencana Partisi PBB 1947) dalam mandat Inggris karena dianggap TIDAK ADIL dan melanggar hak mayoritas penduduk asli Palestina. Bangsa Arab, yang merupakan mayoritas, memandang usulan tersebut sebagai PERAMPASAN WILAYAH SECARA ILEGAL. Rencana partisi memberikan sebagian besar wilayah (sekitar 56%) kepada minoritas Yahudi, yang dianggap sangat tidak adil. Bagaimana mungkin penduduk asli yang mayoritas malah diberi wilayah yang LEBIH KECIL ketimbang para pengungsi imigran yang minoritas? Ini jelas-jelas tindakan ilegal untuk merebut tanah mereka.
KLAIM PEMBELAAN DIRI
Israel sering mengklaim bahwa serangan militernya terhadap Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat, merupakan tindakan “pembelaan diri” terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok militan seperti Hamas. Dalam berbagai operasi militer besar-besaran, Israel menyatakan bahwa ini diperlukan untuk melindungi warganya.
Namun, klaim “pembelaan diri” ini mendapat kritik keras dari berbagai pihak, terutama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional dan putusan Mahkamah Internasional, Israel tidak memiliki dasar hukum untuk menggunakan alasan pembelaan diri sebagai pembenaran atas serangan militernya di wilayah Palestina.
Keberadaan Israel di wilayah tersebut sendiri dianggap sebagai PELANGGARAN HUKUM INTERNASIONAL, sehingga klaim pembelaan diri tidak dapat diterima dan dianggap sebagai MANIPULASI HUKUM untuk mendukung pendudukan dan agresi militer. Bahkan saat ini lebih dari 80 negara anggota PBB mengutuk aneksasi de facto Tepi Barat oleh Israel.
Tapi tentu saja bagi para PEMBELA KEJAHATAN ISRAEL pendapat PBB ini salah dan yang benar adalah Netanyahu…
PENGUSIRAN WARGA PALESTINA
Menurut UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), pada tahun 2019, lebih dari 5,6 juta warga Palestina terdaftar di UNRWA sebagai pengungsi akibat pengusiran Israel yang semula merupakan imigran di Palestina, di mana lebih dari 1,5 juta tinggal di 58 kamp yang dikelola UNRWA di Yordania, Lebanon, Republik Arab Suriah, Jalur Gaza, dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. UNRWA adalah badan PBB yang didirikan tahun 1949 untuk memberikan bantuan kemanusiaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan sosial bagi jutaan pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Lembaga ini beroperasi secara langsung dan mempekerjakan lebih dari 30.000 staf. Jadi sejak 1949 telah terjadi PENGUSIRAN WARGA PALESTINA OLEH ISRAEL secara terus menerus yang ditangani oleh PBB. Warga Israel mulanya adalah imigran dari berbagai negara yang kemudian mengusai Palestina secara illegal dan terus menerus mengusir penduduk lokal.
SERANGAN HAMAS 7 OKTOBER 2023
Mengapa Hamas melakukan serangan brutalnya pada 7 Okt 2023 itu? Hamas mengatakan serangannya adalah sebagai tanggapan terhadap pendudukan Israel yang berkelanjutan, blokade Jalur Gaza, perluasan pemukiman ilegal Israel, meningkatnya kekerasan pemukim Israel, dan eskalasi kekerasan Israel. Beberapa pihak menuduh bahwa serangan Hamas itu adalah tindakan genosida atau pembantaian genosida terhadap warga Israel. Pemerintah dari 44 negara mengecam serangan itu dan menggambarkannya sebagai terorisme, sementara beberapa negara Arab dan mayoritas Muslim menyalahkan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai akar penyebab serangan tersebut. Artinya tidak semua sepakat dan mengecam Hamas. Mereka beranggapan bahwa Hamas PUNYA ALASAN KUAT untuk menyerang Israel. Hamas berjuang untuk melepaskan Palestina dari penjajahan Israel. Nah, bayangkan kalau bangsa kita yang diperlakukan seperti itu oleh Israel. Apakah kita akan diam-diam saja dan tidak akan berjuang melawan penjajah? Lha wong warga Timtim yang kita perlakukan sebagai saudara dan kita gelontor dana besar-besaran untuk membangun di daerahnya saja menganggap kita sebagai penjajah dan memilih untuk merdeka lepas dari Indonesia.
Negara Iraq dengan tegas malah menyatakan sikapnya mendukung. “Irak menegaskan pendiriannya yang teguh, sebagai bangsa dan pemerintah, terhadap isu Palestina, dan bahwa Irak berdiri di samping rakyat Palestina dalam mencapai aspirasi mereka dan memperoleh hak-hak sah mereka sepenuhnya, dan bahwa ketidakadilan dan perampasan hak-hak ini tidak dapat menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Operasi yang dilakukan oleh rakyat Palestina saat ini adalah akibat alami dari penindasan sistematis yang telah mereka alami sejak zaman dahulu di tangan otoritas pendudukan Zionis, yang tidak pernah mematuhi resolusi internasional dan PBB.”
HOAX TERHADAP HAMAS
Ada banyak HOAX yang dilontarkan terhadap Hamas pada serangannya pada 7 Okt itu. Salah satunya adalah Hamas membunuh dan memenggal puluhan bayi dan balita selama serangan tersebut. Tuduhan tersebut pertama kali dibuat oleh tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan anggota kelompok penyelamat sipil Israel dalam wawancara dengan jurnalis lokal dan internasional. Hoax tersebut awalnya didukung oleh Presiden AS saat itu, Joe Biden, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan beberapa juru bicara IDF, dan kemudian disebarkan dengan cepat oleh media Barat.
Tapi penyelidikan kemudian yang juga diakui pemerintah Israel secara diam-diam mengakui bahwa rumor tentang anak-anak yang dipenggal itu tidak berdasar. Investigasi Le Monde pada April 2024 menelusuri asal mula hoaks tersebut, yang disebutnya sebagai “rumor”, hingga tur pers ke kibbutz yang diadakan hanya beberapa jam setelah pertempuran berakhir. Para kritikus Israel berpendapat bahwa hoaks tersebut merupakan contoh propaganda kekejaman dan bukti bahwa Israel sedang melancarkan “perang melawan kebenaran” selama perang Gaza. Pada 12 Oktober, Gedung Putih “mengklarifikasi” bahwa Biden sebenarnya tidak melihat gambar-gambar itu dengan mata kepala sendiri, tetapi hanya menyampaikan kepada publik apa yang telah diberitahukan kepadanya. Sebuah memo yang ditandatangani oleh ratusan diplomat AS, yang bocor pada November 2023, menuduh presiden “menyebarkan informasi yang salah” tentang konflik tersebut. https://en.wikipedia.org/wiki/Hamas_baby_beheading_hoax
Sebaliknya, Israel terus menerus membunuhi anak-anak. Secara total, lebih dari 50.000 anak dilaporkan tewas atau luka-luka sejak Oktober 2023. Sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret, dilaporkan 1.309 anak tewas dan 3.738 luka-luka. ‘Unimaginable horrors’: more than 50,000 children reportedly killed or injured in the Gaza Strip.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 28 anak tewas setiap hari di Gaza akibat pemboman Israel yang terus berlanjut dan pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. “Kematian akibat pemboman. Kematian akibat kekurangan gizi dan kelaparan. Kematian akibat kurangnya bantuan dan layanan vital,” kata Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) dalam sebuah unggahan di X pada hari Selasa. Israel kills an average 28 Palestinian children daily in Gaza | Israel-Palestine conflict News | Al Jazeera
PEMERKOSAAN
Selain itu Hamas juga dituduh melakukan pemerkosaan pada wanita Israel. Chaim Otmazgin, seorang komandan ZAKA, mengklaim bahwa ia menemukan seorang wanita yang diperkosa karena celananya telah ditarik ke bawah pinggangnya. Ia menunjukkan foto-foto tersebut kepada AP sebagai bagian dari kesaksiannya. Namun, kemudian diketahui bahwa mayat tersebut berbaring karena diseret-seret oleh tentara Israel untuk memeriksa apakah ada jebakan (booby trap). Otmazgin mengatakan bahwa ia secara terbuka mengoreksi dirinya setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
The Times menyatakan bahwa “informasi palsu dan menyesatkan” justru disebarkan oleh “tokoh politik senior [Israel] dan aktivis sipil yang terkait dengan pemerintah”. Sebuah laporan PBB tentang tuduhan ini menyatakan bahwa otoritas Israel tidak dapat menghasilkan bukti yang dikatakan para politisi tersebut. https://en.wikipedia.org/wiki/Misinformation_in_the_Gaza_war
Sebaliknya, banyak laporan dari organisasi hak asasi manusia dan badan-badan PBB telah mendokumentasikan tuduhan dan kesaksian yang kredibel tentang pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya oleh tentara Israel terhadap perempuan dan anak perempuan Palestina. Dalam kasus-kasus tertentu, tentara Israel telah ditangkap dan, dalam satu kasus pada tahun 2016, dihukum karena kejahatan tersebut.
Laporan dari Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR), B’Tselem, dan PBB telah merinci “kebijakan sistematis dan terorganisir” penyiksaan seksual terhadap tahanan Palestina, termasuk pemerkosaan. Pada Februari 2024, pakar independen PBB menyatakan bahwa mereka “terkejut” oleh laporan tersebut dan menemukan klaim penyerangan seksual dan pemerkosaan tersebut “kredibel”. Sebuah laporan Maret 2025 kepada Dewan Hak Asasi Manusia mendokumentasikan beberapa contoh kekerasan seksual dan berbasis gender sebagai bagian dari prosedur operasi standar Pasukan Keamanan Israel. Claims of Israeli sexual assault of Palestinian women are credible, UN panel says | Israel-Gaza war | The Guardian
ISRAEL MENYERAHKAN GAZA…?!
Israel telah menduduki wilayah Palestina, termasuk Jalur Gaza, sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967. Pada tahun 2005 karena TEKANAN DARI DUNIA INTERNASIONAL maka Israel keluar dari daerah yang didudukinya secara tidak sah tersebut. Penarikan Israel dari Gaza pada tahun 2005, atau “pemisahan,” adalah langkah strategis Perdana Menteri Ariel Sharon untuk mengurangi tekanan internasional yang intens. Selain itu tujuannya juga untuk mengakhiri biaya tinggi dalam keamanan 8.000 pemukim Israel di antara 1,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza. Jadi ini sama sekali bukan karena ‘kebaikan hati’ Israel.
Israel menarik diri dari Jalur Gaza dengan membongkar seluruh 21 pemukiman Israel di sana. IDF juga menghancurkan bangunan yang mereka tinggalkan.
Meskipun demikian, Jalur Gaza terus dianggap oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, banyak organisasi kemanusiaan dan hukum internasional lainnya, sebagai wilayah yang berada DI BAWAH PENDUDUKAN ISRAEL atas wilayah tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh pendapat penasihat Mahkamah Internasional tahun 2024. Jadi PBB dan dunia internasional TETAP MENUDUH Israel menduduki dan menguasai Jalur Gaza.
Para PEMBELA KEJAHATAN ISRAEL berkilah bahwa Hamas memang tidak mau damai karena Israel telah keluar dari jalur Gaza pada tahun 2005. Mestinya kalau Hamas mau damai kan berhentilah memerangi Israel dan bangunlah Palestina. Tentu saja itu alasan yang DITOLAK oleh PBB dan dunia internasional karena faktanya adalah bahwa meski sudah keluar dari Jalur Gaza tapi Israel tetap menguasai dan mengontrol wilayah tersebut. Jadi PBB dan dunia internasional tetap menganggap Israel melakukan pendudukan atas wilayah Jalur Gaza. Israel MEMBLOKADE jalur Gaza. Blokade Jalur Gaza mengacu pada pembatasan pergerakan dan barang di Jalur Gaza yang dilakukan Israel yang dimulai pada awal tahun 1990-an. Selama Intifada Kedua pada tahun 2000, Israel memblokade wilayah Palestina, termasuk Jalur Gaza, beberapa kali. Di Gaza, blokade tersebut menyebabkan pengangguran meroket hingga 85%. Christian Aid melaporkan bahwa kekurangan gizi pada anak-anak meningkat dua kali lipat dalam satu tahun akibat blokade tersebut. Klinik yang dikelola oleh Dewan Gereja Timur Tengah juga melaporkan peningkatan jumlah anak-anak yang kekurangan berat badan dan kekurangan gizi.
Setelah Hamas mengambil alih kekuasaan pada tahun 2007, Israel secara signifikan semakin memperketat pembatasan pergerakan yang ada dan memberlakukan blokade total terhadap pergerakan barang dan orang masuk dan keluar Jalur Gaza.
Keluar masuk Gaza melalui laut atau udara dilarang. Hanya ada tiga penyeberangan masuk dan keluar Gaza, dua di antaranya dikendalikan oleh Israel dan satu oleh Mesir. Israel sangat mengatur pergerakan warga Palestina melalui Erez. , dengan permohonan hanya dipertimbangkan untuk sejumlah kecil pekerja (kurang dari 5% dari jumlah yang dipertimbangkan pada tahun 2000) dan untuk alasan medis dan kemanusiaan yang terbatas. Ekspor juga sangat dibatasi, dengan hambatan utama bagi pembangunan ekonomi di Gaza adalah larangan Israel terhadap hampir semua ekspor dari Jalur Gaza.
Sejak awal perang Gaza pada 7 Oktober 2023, militer dan otoritas Israel telah melakukan berbagai kejahatan perang, seperti hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina, serangan terhadap warga sipil di daerah padat penduduk (termasuk pemboman rumah sakit dan fasilitas medis, kamp pengungsi, sekolah dan lembaga pendidikan, serta layanan kota); penyiksaan dan eksekusi warga sipil; kekerasan seksual termasuk pemerkosaan; dan genosida. Tuduhan kejahatan perang lainnya terhadap Israel termasuk evakuasi paksa, perlakuan buruk dan penyiksaan terhadap tahanan Palestina, dan penghancuran warisan budaya. Organisasi kemanusiaan seperti Human Rights Watch, Amnesty International, B’tselem, dan Oxfam, serta kelompok dan pakar hak asasi manusia, termasuk Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB dan pelapor khusus PBB, telah mendokumentasikan tindakan-tindakan ini.
Israel telah menghadapi tuntutan hukum atas perilakunya dalam perang tersebut. Di Mahkamah Internasional, Israel didakwa melakukan genosida di Gaza. Pada Mei 2024, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanan Israel Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
Kejahatan perang Israel adalah pelanggaran hukum pidana internasional, termasuk kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan genosida, yang telah dilakukan atau dituduhkan kepada pasukan keamanan Israel sejak berdirinya Israel pada tahun 1948. Jadi tuduhan kejahatan perang Israel bukanlah tuduhan sepihak dari warga Palestina atau umat Islam yang benci pada Yahudi tapi BERASAL DARI PBB DAN DUNIA INTERNASIONAL. Jadi sangatlah aneh jika ada warga Indonesia yang SOK TAHU dan MERASA LEBIH PAHAM tentang konflik Israel-Palestina ini ketimbang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Jika kita masih punya nurani maka mestinya kita berempati pada penderitaan rakyat Palestina atas kekejaman Israel ini. Merupakan kewajiban etis dan tanggung jawab moral kita untuk bersuara menentang penindasan terhadap rakyat Palestina dan bertindak demi keadilan di Palestina.
Tapi ini tentu tidak berlaku bagi para PEMBELA KEJAHATAN ISRAEL.
Balikpapan, 20 Februari 2026
Satria Dharma
Rujukan :
– Pejabat PBB kritik Israel yang sebut serangannya upaya pembelaan diri – ANTARA News
Israel Klaim Serangan di Tepi Barat Bentuk Membela Diri, PBB Beri Kecaman Keras
https://www.unrwa.org/palestine-refugees
https://www.bbc.com/news/articles/clyv7w3gdy2o
https://en.wikipedia.org/wiki/Hamas_baby_beheading_hoax
https://en.wikipedia.org/wiki/Misinformation_in_the_Gaza_war
https://education.cfr.org/…/israeli-palestinian…
https://imeu.org/…/putting-gaza-in-formaldehyde…/235…
https://en.wikipedia.org/…/Israeli_disengagement_from….
https://www.dw.com/…/fight-continues-10…/a-18651589….