Seorang teman FB menulis tentang Kasus Ijazah Palsu Jokowi dengan judul “Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral”. Dari judulnya saja sudah tampak ngawurnya. Padahal penulis ini mengaku guru mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, alumni pasca sarjana bidang Etika Global dan Etika Terapan dari tiga universitas terkemuka di Eropa. Sungguh sangar pendidikannya….
Dalam postingnya tersebut ia mengatakan bahwa ia merasa TERHINAKAN oleh kasus pemalsuan ijazah yang massif utamanya pemilik ijazah UGM (maksudnya Jokowi) yang KATANYA ‘hampir dipastikan palsu’ karena menolak hadir di persidangan class action lawsuit (CLS) yang digelar di PN Surakarta. Apa urusannya dia sampai merasa TERHINAKAN dengan penolakan Jokowi untuk hadir dalam persidangan tersebut? Dan apa bukti yang bisa ia sampaikan sampai ia menyatakan bahwa ijazah Jokowi itu ‘hampir dipastikan palsu’. Ya tidak ada. Asbun aja…
Ia menulis karena merasa heran bahwa kalangan pendidik bungkam soal ijazah palsu Jokowi. Padahal isu ini berkaitan langsung dengan kredibilitas dunia pendidikan yang selama ini mereka perjuangkan dengan susah payah. Bayangkan ngawurnya dia yang ingin agar para pendidik ikut menyuarakan soal kasus Ijazah Jokowi yang KATANYA ‘hampir dipastikan palsu’ itu.
Mengapa saya harus menanggapi postingannya ini? Karena ia menulis seperti ini:
“Lebih mengejutkan lagi, ada mantan ketua umum sebuah organisasi guru yang justru tampil aktif di media sosial membela dugaan pemalsuan ijazah yang dialamatkan kepada Jokowi. Sikap ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kalangan yang seharusnya paling vokal dalam menjaga integritas pendidikan justru memilih bungkam, bahkan ada yang membela?”
Saya menduga bahwa orang ini menembak saya karena saya memang mantan ketua umum IGI (Ikatan guru Indonesia) dan ia memang menyebut nama PGRI dan IGI. Saya memang tampil aktif membela Jokowi dalam kasus ini. Pertanyaan saya adalah mengapa justru ada orang yang mengaku guru PMP apalagi katanya lulusan tiga universitas terkemuka Eropa yang justru ikut-ikutan menuduh ijazah Jokowi palsu. Apakah orang ini memang sudah tidak bisa berpikir jernih dan rasional lagi?
Jelas-jelas ia menuduh bahwa Jokowi mendapatkan ijazah secara illegal. “Namun, di sisi lain, ada orang yang diduga tidak menempuh proses pendidikan sebagaimana mestinya, tetapi bisa memiliki ijazah secara ilegal dan bahkan menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan.” Orang ini sebenarnya hidup dalam halusinasi yang bagaimana kok sampai menuduh bahwa Jokowi mendapatkan ijazah secara illegal? Lha wong Tiroris saja hanya bilang bahwa ijazah Jokowi itu palsu tapi tidak pernah bilang bahwa Jokowi mendapatkan ijazah secara illegal. Tentu orang ini telah mencapai tingkat halusinasi yang lebih tinggi ketimbang Tiroris. Ia berhasil mengembangkan halusinasi yang lebih canggih ketimbang para suhunya.
Pada paragraph berikutnya ia semakin meracau. Ia menulis “Moralitas para pengelola lembaga pendidikan di negeri ini telah tergerus ke titik terendah. Budaya memalsukan dokumen pendidikan dengan berbagai dalih dan kepentingan berlangsung secara masif dan memalukan. Akibatnya, kasus ijazah palsu Jokowi dianggap bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan sekadar bagian dari praktik yang sudah dinormalisasi.” Seperti yang saya katakan bahwa orang ini telah semakin tinggi tingkat halusinasinya sehingga bukan hanya Jokowi yang ia kecam tapi lebih tinggi lagi yaitu MORALITAS PARA PENGELOLA LEMBAGA PENDIDIKAN DI NEGERI INI.
Jadi ia merasa karena ikut dalam barisan Tiroris maka moralnya jauh membubung di atas para pengelola Lembaga Pendidikan di negeri ini. Ia bahkan mengatakan “Diamnya kalangan pendidik atas kasus ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami krisis moral akut tingkat dewa.” Alangkah ngerinya ternyata penyakit yang bisa ditimbulkan dan ditularkan oleh perbuatan Tiroris tersebut. Halu parah orang ini…
Setelah meracau ia lalu berkhotbah pada para mahasiswa begini:
“Mahasiswa harus menyadari bahwa kasus ijazah palsu bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman terhadap masa depan mereka sendiri. Jika moral dan nurani mahasiswa tidak terusik oleh kasus ini, maka mereka berisiko menjadi korban berikutnya. Mereka akan dipimpin oleh orang-orang yang memperoleh ijazah palsu, yang tidak pernah merasakan perjuangan sejati dalam dunia pendidikan.”
Lebih lanjut ia berkhotbah : “ Kasus ijazah palsu Jokowi dan bungkamnya kalangan pendidik adalah cermin dari krisis moral dunia pendidikan Indonesia. Keheningan ini menunjukkan bahwa praktik pemalsuan dokumen pendidikan telah mengakar dan dinormalisasi.” Ia tidak sadar bahwa ucapannya ini adalah justru bukti betapa sakitnya ia dan rusaknya logika dan nalarnya.
Postingnya itu lalu saya komentari seperti ini:
Tulisan ini menunjukkan betapa putus asanya para penuduh ijasah palsu Jokowi untuk mempertahankan tuduhannya yang sangat tolol itu. Tuduhan tersebut telah masuk ke persidangan dan telah ditangani secara hukum. Lalu apalagi yang diharapkan oleh para penuduh ijazah palsu Jokowi yang tolol tersebut? Kalau Polda Metro Jaya dan Kampus UGM sendiri sudah menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli lantas mengapa para orang tolol ini masih juga ngeyel dan teriak kesana kemari seperti orang putus asa? Orang yang menuduh tapi tidak bisa menunjukkan bukti justru adalah orang-orang yang TIDAK BERMORAL.
Jelas sekali bahwa jika Tiroris dan semua pendukungnya TIDAK BISA MEMBUKTIKAN TUDUHANNYA bahwa ijazah Jokowi itu palsu. Semua yang mereka sampaikan jelas sekali TIDAK AKAN MUNGKIN bisa membuktikan tuduhannya. Mengapa? Ya karena memang TUDUHAN ITU ADALAH KEBOHONGAN. Jadi kalau mereka dibantah maka mereka akan menyodorkan kebohongan baru dengan berbagai alasan yang katanya ilmiah dan jika dibantah lagi maka mereka akan menyodorkan kebohongan baru lainnya. Begitu seterusnya sampai mereka nanti masuk penjara. Nanti di penjara mereka pasti akan menyebarkan kebohongan baru lagi. Lha wong sekarang aja mereka sudah menyebarkan kebohongan bahwa mereka dikriminalisasi.
Mengapa saya katakan bahwa mereka TIDAK AKAN MUNGKIN bisa membuktikan TUDUHAN BOHONG mereka itu? Ya karena mereka memang TIDAK PUNYA BUKTI sedangkan Jokowi MEMILIKI SEMUA BUKTI bahwa ijazahnya asli. Lha wong yang pegang ijazah aslinya adalah Jokowi dan mereka hanya menggantungkan tuduhan tolol mereka itu pada foto dari fotokopi ijazah Jokowi.
Sekarang ijazah asli Jokowi sudah ditunjukkan pada mereka dan apakah mereka dan para pengikut mereka akhirnya mau mengakui kebohongan mereka? TENTU SAJA TIDAK. UGM sendiri dan teman-teman sekampus Jokowi sudah menyatakan dan memberikan kesaksian soal lulusnya Jokowi di UGM lalu apakah mereka akan mengakui ketololan mereka? TENTU SAJA TIDAK. Polda Metro Jaya sendiri sudah menyatakan keaslian ijazah Jokowi lalu apakah mereka akan mengakui kebohongan mereka? TENTU SAJA TIDAK.
Mengapa saya bilang bahwa mereka yang masih saja MENUDUH bahwa ijazah Jokowi itu palsu adalah TOLOL PANGKAT EMPAT karena begini…
Pertama, jika UGM sendiri sudah bilang bahwa ijazah Jokowi itu asli maka kalian para tolol pangkat empat harus menghadapi UGM. Kalian para tolol pangkat empat harus mau tidak mau juga menuduh bahwa UGM itu berbohong. Jadi kalian harus bisa membuktikan dulu bahwa UGM itu berbohong sebelum bisa membuktikan bahwa ijazah Jokowi itu palsu.
Kedua, jika Polda Metro Jaya yang sudah menyelidiki dan pernah menahan ijazah Jokowi sudah bilang bahwa ijazah Jokowi itu asli maka kalian para tolol pangkat empat harus menghadapi Polda Metro Jaya. Kalian para tolol pangkat empat harus mau tidak mau juga menuduh bahwa Polda Metro Jaya itu berbohong. Jadi kalian harus bisa membuktikan dulu bahwa Polda Metro Jaya itu berbohong sebelum bisa membuktikan bahwa ijazah Jokowi itu palsu.
Bagaimana kira-kira strategi kalian para tolol pangkat empat mau menghadapi UGM dan Polda Metro Jaya? Paling-paling ya bikin TUDUHAN BARU bahwa UGM dan Polda Metro Jaya terlibat dalam upaya melindungi dan menyelamatkan Jokowi. Lha KEAHLIAN kalian sebagai tolol pangkat empat kan memang hanya MEMBUAT BERBAGAI TUDUHAN DAN KEGADUHAN tanpa dasar.
Astagfirullah hal adzim…. Isuk-isuk kok aku wis muntap yo… 🤭 Tapi piye maneh menghadapi para tolol pangkat empat ini lha wong dikandani apik-apik malah nrunyak. Yo wis lah… Lha wong mau pintar atau tolol itu juga pilihan kok. 😁
Balikpapan, 10 Januari 2026
Satria Dharma