Sabtu, 27 September 2025
Kami akan menginap di Dunhuang selama 2 malam. Dunhuang adalah sebuah kota kecil yang telah berusia 2 ribuan tahun karena telah berdiri sejak zaman Dinasti Han. Bayangkan betapa lamanya kota ini…!
Meski kecil kota ini sangat penting di zaman itu karena merupakan kota perbatasan dan keluar masuk ke wilayah Cina kuno. Sekarang Dunhuang telah menjadi kota modern. Jadi jangan membayangkan bahwa kota ini seperti kota kuno.
DUNHUANG GEOLOGICAL PARK AND CRESCENT LAKE
Katanya air dan api tak dapat berpadu, gurun dan mata air pun tak dapat hidup berdampingan. Namun, ternyata hal ini tidak berlaku bagi Danau Crescent (Bulan Sabit) yang dikelilingi Gunung Pasir di Gurun Gobi. Bukit pasir keemasan dan danau biru menciptakan kontras yang indah dalam kehidupan yang harmonis.
Danau Crescent juga dikenal sebagai Mata Air Bulan Sabit atau Mata Air Yueya. Danau ini dapat dianggap sebagai keajaiban alam Gurun Gobi. Sesuai namanya, danau ini tampak seperti bulan sabit dan dengan airnya yang sebening kristal, menyerupai pirus atau mutiara yang bertatahkan di padang pasir yang luas. Ada yang mengatakan danau ini mengingatkan mereka pada mata seorang wanita cantik, jernih, elok, dan penuh cinta. Untuk menuju ke sana kami naik buggy dari pintu masuknya ke lokasi wisatanya.
Di lokasi ini kami menikmati naik onta di gurun yang eksotik ini. Agak aneh juga bahwa kami justru naik onta di China dan bukan di Arab sana. Ini adalah pengalaman naik onta di gurun yang kedua bagi saya dan istri karena sebelumnya kami naik onta di gurun Sahara di Maroko. Jadi kami ini sudah pernah berkelana di dua gurun terluas di dunia, Sahara dan Gobi. Seandainya saya hidup sejaman dengan Marcopolo mungkin dia akan iri mendengar saya pernah berkelana di dua gurun terbesar dunia ini. 😁
Dunhuang UNESCO Global Geopark terletak di Kota Dunhuang, Provinsi Gansu, Republik Rakyat Tiongkok. Letaknya di Cekungan Graben Anxi-Dunhuang, di sebelah timur Lempeng Tarim. Dunhuang UNESCO Global Geopark kaya akan warisan geologi bernilai ilmiah tinggi, serta bernilai signifikan dalam geoedukasi dan geowisata. Warisan geologi yang paling representatif adalah bentang alam Yardang-Gurun-Gobi, yang merupakan bentang alam khas di wilayah Tiongkok yang sangat kering dan Gua Mogao, sebuah Situs Warisan Dunia, yang digali pada lapisan Kuarter dan dengan sempurna mewujudkan kombinasi warisan geologi dan budaya. Di antara semuanya, bentang alam Yardang tergolong langka di dunia karena tersebar luas dengan bentuknya yang anggun, jumlahnya yang besar, dan perubahan tren zaman, serta formasi yang rumit. Hal ini menjadikannya penting dalam mempelajari formasi dan evolusi lingkungan regional.
MOGAO GROTTOES
Dari sini kami menuju ke Mogao Grottoes.
Mogao Grottoes atau Mogao Caves (Gua Mogao) adalah gudang seni Buddha yang luas di Dunhuang, yang terdiri dari 735 gua dengan mural dan patung yang dibuat selama seribu tahun, dimulai pada abad ke-4. Dikenal juga sebagai “Gua Seribu Buddha”, gua ini dulunya merupakan perhentian penting di Jalur Sutra dan menyimpan koleksi besar dokumen sejarah dari sebuah gua tertutup yang ditemukan pada tahun 1900. Situs ini merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO dan landmark budaya penting, yang menampilkan narasi keagamaan, kehidupan sosial, dan evolusi seni Buddha lintas dinasti.
Menurut legenda, pada tahun 366 M, seorang biksu bernama Yuezun mendapat penglihatan tentang seribu Buddha yang bersinar di tebing, yang menginspirasinya untuk mulai menggali gua-gua tersebut. Saat ini, terdapat lebih dari seribu Buddha yang dilukis dan dipahat di dalam gua-gua tersebut.
Gua Mogao, juga membentuk sistem 500 kuil 25 km tenggara dari pusat Dunhuang, sebuah oasis yang terletak di persimpangan agama dan budaya di Jalur Sutra, di provinsi Gansu, Cina. Gua-gua itu juga memasukkan situs gua Buddha lainnya di dalam dan sekitar wilayah Dunhuang, seperti Gua Seribu Buddha Barat, Gua Seribu Buddha Timur, Gua Yulin, dan Gua Lima Kuil. Gua-gua itu berisi beberapa contoh terbaik seni Buddha yang mencakup periode 1.000 tahun. Seribu tahun, guys….! 😳
Gua-gua tersebut dipahat dengan tangan sejak 1.700 tahun yang lalu dari abad ke-4 hingga ke-14. Ratusan gua dipahat dengan cermat dari permukaan tebing batu aluvial, di bawah bimbingan para biksu Buddha, pejabat setempat, dan keluarga kaya yang ingin membangun pahala karma dan melakukan tindakan pemujaan. Hampir 500 gua yang dihias dengan rumit tersebut masih tersisa hingga saat ini.
Situs tersebut merupakan tempat peleburan berbagai budaya. Meskipun merupakan situs Buddha, karya seni dan benda-benda yang ditemukan di Mogao mencerminkan pertemuan budaya di sepanjang Jalur Sutra, rangkaian rute perdagangan yang selama berabad-abad menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, dan Eropa. Di situs tersebut ditemukan teks dan dokumen Konfusianisme, Taoisme, dan Kristen dalam berbagai bahasa, termasuk Tiongkok, Sansekerta, Tibet, dan Turki Kuno. Bahkan manuskrip Ibrani juga ditemukan di sana.
Sebenarnya jadwal wisata kami hanya dua tersebut. Tapi oleh Peter, pemandu kami, ditawari untuk menonton pertunjukan tari khas Dunhuang “Ancient Sound of Dunhuang”. Tiketnya memang mahal, hampir 300 Y, tapi kami diyakinkan bahwa kami tidak akan menyesal menonton pertunjukan ini. Kami malah akan menyesal kalau sudah jauh-jauh sampai Dunhuang tapi tidak menonton pertunjukan ini. Tentu saja kami tertarik dan akhirnya menonton pertunjukan ini. Ternyata benar sekali…! Pertunjukan ya sangat spektakuler. Sungguh rugi kalau gak nonton… 😁
Dulu kami juga selalu nonton pertunjukan semacam ini seperti Cabaret Show di Bangkok, Liu Sanjie di Guilin, dan menganggap pertunjukan di Dunhuang ini memiliki kelebihan lain. Saya sertakan beberapa potongan video untuk Anda lihat.
Sekian dulu catatan perjalanan kami hari ini.
Sabtu, 28 September 2025
Satria Dharma
###############
Rainbow Mountain alias Gunung Pelangi ini bukan gunung sembarang gunung, sesuai dengan namanya gunung ini punya garis-garis berwarna-warni yang serupa pelangi. Pokoknya keren deh. Soalnya karena menurut umat Islam Gunung Pelangi ini ada disebutkan di dalam Al Quran Surat Al Fathir ayat 27. Udah pernah baca ayat ini belum…?! 😁
Zhangye Danxia memiliki luas sekitar 322 km persegi, menjadi habitat bagi berbagai tumbuhan dan hewan yang beradaptasi di lingkungan yang ekstrem. Gunung pelangi Zhangye Danxia ini adalah fenomena alam yang menakjubkan dengan formasi batuan berwarna-warni seperti palet pelangi. Warna-warni ini terbentuk dari
proses geologi jutaan tahun lalu sehingga lapisan-lapisan batuan yang terkikis menghasilkan warna merah, jingga, kuning, hijau, dan ungu. Seandainya saya seorang seniman maka saya pasti akan segera membuat puisi atau bikin lukisan. Sayangnya saya hanya mantan guru bahasa Inggris. Jadi saya hanya bisa mengucapkan, “Hey mountain…! You’re very beautiful.” sambil menoleh ke istri saya. Kuatirnya dia tanya siapa yang saya sebut beautiful. 😁 Saya langsung ingat pada teman saya si Dewa Pantun, Ki Saur Panjaitan, yang kalau bikin pantun itu kayak kita ngobrol saja.
Mau tahu ayat yang dimaksud?
Gunung Pelangi ini disebut dalam Al Quran Surat Al Fathir ayat 27:
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” [QS: Al Fathir [35]: 27]
Ada beberapa fakta dari Gunung Pelangi yang mungkin perlu diketahui sbb:
1. Lanskap yang bergunung-gunung di Zhangye-Danxia seperti yang kita lihat sekarang, ternyata katanya dulunya adalah laut. Usianya diperkirakan sudah mencapai jutaan tahun. Embuh bener embuh ndak ana dak weruh.
Katanya para ahli geologi 6 Juta tahun yang lalu, dataran ini berupa laut. Lalu air turun, datarannya naik. Nah, permukaan yang kita lihat sekarang adalah dasar laut.
“Mosok sih …?!” kata istri saya bertanya-tanya. Believe it or not, kata saya.
Katanya lagi daerah ini terbentuk akibat letusan gunung berapi. Duar….duar….duar…!
Lapisan tanah yang berwarna-warni di gunung ini diperkirakan terbentuk dari letusan gunung berapi bawah laut yang sudah terjadi jutaan tahun silam. Letusan ini tak hanya berlangsung sekali, tetapi berkali-kali. Koyok weruh-weruho ae arek-arek geologi iki. 😁
Dari letusan gunung berapi tersebut zat-zat di dalam bumi keluar semua. Ada kalsium, besi, tembaga, embuh opo maneh.
Gunung Pelangi Zhangye ini merupakan bagian dari Taman Geologi Zhangye Danxia yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Warna-warna pelangi ini akan semakin terlihat jelas saat terkena sinar matahari, terutama saat matahari terbit dan terbenam, menjadikan Gunung Pelangi sebagai salah satu tempat terbaik untuk fotografi.
Gunung Pelangi ini sangat Indah dan luas. Kami puas dan gembira bisa mengunjunginya. Saya malah berpikir mungkin salah satu gunung di Indonesia bisa dibuat sebagai lokasi wisata dunia kayak ini. Tapi setelah saya pikir lagi saya jadi ragu. Di Indonesia pasti ruwet urusan pertanahannya. Lha wong bikin jalan tol aja bisa ruwet apalagi kalau lokasi seluas ini. Kalau di China mah kagak ada ruwetnya sama sekali. Kan semua bumi dan seisinya milik pemerintah China. Kalau mau bikin apa aja ya tinggal ambil aja dan tidak akan ada ormas dan warga adat yang bakal bawa pasukan bergolok menghalangi.
Ah, saya jadi kangen dengan kekayaan ormas kita di Indonesia. 😂
Jiuquan, 26 September 2025
Satria Dharma



















