(Selasa, 23 September 2025) : Lanzhou dan Guandong.
Lanzhou adalah ibukota Propinsi Gansu dengan penduduk yang hanya 4,5 juta orang. Kotanya sangat Indah, modern, tertib, dan bersih. Trotoarnya lebar dan menarik. Rasanya pingin datang lagi khusus untuk menikmati setiap sisi kota.
Kami tidak jadi menginap di Holiday Inn hotel tapi di Haihong Holiday Hotel dengan 4 bintang. Hotelnya besar dan bagus. Kamarnya juga luas dan modern. Pokoknya puas deh. Sarapannya juga cukup beragam.
Mestinya kami kumpul dan berangkat jalan-jalan jam 09:30 tapi karena kami sangat lelah maka kami panjangkan istirahat kami dan agak lambat baru berangkat.
Tempat pertama yang kami datangi adalah Zongshan Bridge dan Waterwheel Garden. Jembatan Besi Zhongshan di Lanzhou dikenal sebagai Jembatan Besi Sungai Kuning (Yellow river) dan merupakan jembatan besi bersejarah yang dibangun pada tahun 1907 untuk melintasi Sungai Kuning. Jadi usianya sudah seabad lebih. Arsitekturnya orang Jerman yang masih muda sekali waktu itu. Sekarang jembatan ini hanya dipakai untuk turisme dan ditutup untuk kendaraan apa pun, kecuali sepeda listrik.
Yang menarik kami menemukan patung “Journey to the West”, kisah tentang perjalanan pendeta Tong Samcong bersama muridnya yang terkenal Sun Go Kong, si Kera Sakti, dan Tie Pat Kay, si Babi yang selalu lapar itu. Perjalanan ke Barat adalah sebuah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Ming. Novel ini menceritakan banyak mitologi klasik pertentangan antara baik dan buruk yang bertemakan seorang pendeta dari zaman Dinasti Tang yang mengambil kitab suci ke barat, dalam hal ini ke India. Kalau orang Indonesia mungkin hanya mengenal Sun Go Kong saja. Sun Go Kong adalah Hanoman, si Kera Sakti, versi China. Bahkan ada peserta yang bahkan tidak pernah tahu kisah dalam novel klasik yang sangat populer ini. How come…?! 🤔
Disini juga ada patung Ibu dan Anak. Patung tersebut memiliki pesan yang mendalam, dan melambangkan rakyat Tiongkok yang tumbuh kokoh di bawah asuhan Sungai Kuning serta semangat pantang menyerah rakyat Tiongkok yang membuat dunia terus berputar.
Sungai Kuning dikenal sebagai “Sungai Ibu” karena dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban Tiongkok dan sumber kehidupan serta penghidupan bagi masyarakat Tiongkok. Patung granit yang dinamai Patung Ibu Sungai Kuning ini melambangkan konsep ibu dan anak, yang merepresentasikan esensi sungai yang penuh kasih sayang.
Dari sini kami berjalan kaki ke Waterwheel Garden, tempat kincir air raksasa yang berbentuk unik di Taman Kincir Air Lanzhou. Tempat ini juga populer dan merupakan daya tarik lain kota ini. Kincir air ini dibangun pada tahun 1994 dan digunakan untuk mengairi sawah-sawah di sekitar. Taman ini mencakup area seluas 1,45 hektar (3,58 acre) dan terdiri dari dua kincir air, sebuah cofferdam, area rekreasi, dan sebuah rumah kincir air. Kincir air ini merupakan arsitektur yang didasarkan pada gaya Dinasti Ming. Diameternya 16,5 m, bagian ujungnya dilengkapi dengan tempat pengikis, dan pengikis dipasang dengan jarak yang sama antara Pelton Xiegua yang berbentuk persegi panjang.
Dari sini kami menuju ke Danxia Color Muntain yang jaraknya hampir 2 jam naik bis. Gunung Danxia adalah Situs Warisan Dunia UNESCO dan Geopark Tiongkok yang terkenal di Shaoguan, Provinsi Guangdong, Tiongkok, yang terkenal dengan batu pasir merahnya yang khas, yang dikenal sebagai “Taman Batu Merah Tiongkok”. Bentang alam ini, yang dibentuk oleh pelapukan dan erosi diferensial, menampilkan formasi yang mencolok dan berbagai puncak berhutan yang unik, dengan sungai yang mengalir melalui area tersebut. Ada banyak jalur pendakian bagi pengunjung untuk menjelajahi keindahan alamnya yang unik.
Gunung ini merupakan contoh klasik dari bentuk alamiah daerah Danxia yang dicirikan oleh batu pasirnya yang kaya akan bijih besi, yang memberikan warna merah tua yang cerah pada bentang alamnya. Warna-warna ini merupakan hasil proses geologi selama jutaan tahun, termasuk pengendapan sedimen kaya mineral di cekungan pedalaman purba dan pengangkatan serta erosi tektonik lapisan berikutnya. The Zhangye Danxia Landform Geological Park ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2009.
“10 Keajaiban Geografis Top”: Taman ini juga diakui oleh National Geographic sebagai salah satu dari “10 Keajaiban Geografis Paling Top Dunia”.
Kami kembali ke Lanzhou dan makan malam di salah satu restoran muslim dan menikmati berbagai hidangan khas Lanzhou. Sekali lagi kami tidak bisa menghabiskan semua hidangan karena mungkin ukuran perut kami termasuk kecil semua.
Dari sini kami kemudian dibawa ke Zhengning Road Night Market yang sangat terkenal sebagai pasar malam untuk jajanan khas Lanzhou. Pasar ini terletak di ujung selatan Jalan Qingyang, Pasar Malam ini hanya memiliki panjang sekitar 250 meter dan lebar sekitar 5 meter. Jika kita mengunjungi pasar malam ini untuk pertama kalinya, kita akan terpesona menemukan begitu banyak hal yang memanjakan mata. Bagi seorang fotografer, ia mungkin akan fokus memotret hidangan yang penuh warna daripada mencicipinya.
Jalan ini adalah surga bagi para pecinta kuliner. Ada begitu banyak jajanan di sana, yang sebagian besar menampilkan gaya Tiongkok Utara. Makanan di sana sebagian besar digoreng, dipanggang, dibakar, dan direbus. Anda akan menemukan kentang goreng, tahu Shaoxing goreng, kebab goreng, semua jenis barbekyu, domba panggang, ikan bakar, sayap ayam bakar, cumi bakar, ubi panggang, pai telur panggang, pancake Shandong, makanan laut goreng, mi goreng, mi dingin, mi dengan hanya sayuran, telur rebus dalam sup ketan fermentasi, pangsit dalam sup asam, mi beras dingin Lanzhou, hamburger Cina, dan sebagainya. Daftar makanan lezat di Pasar Malam Jalan Zhengning tidak ada habisnya.
Tapi karena kami barusan makan dengan kenyang maka kami hanya lihat-lihat dan mengambil foto dan video saja. Mungkin kalau ada tempe penyet versi Lanzhou saya tertarik untuk mencoba. 😁
Sekian laporan perjalanan saya pada hari ketiga ini. 🙏😁
Lanzhou, 24 September 2025
Satria Dharma
















